Menjadi Diri Sendiri

 


Menjadi Diri Sendiri: Jalan Mengenal Allah Melalui Fitrah

"Kesalahan terbesar dalam hidup bukanlah menjadi sederhana. Kesalahan terbesar adalah menghabiskan hidup untuk menjadi seseorang yang Allah tidak pernah ciptakan."

Pernahkah kita merasa hidup orang lain selalu tampak lebih indah?

Media sosial membuat kita melihat pencapaian orang lain setiap hari. Ada yang sukses membangun bisnis, ada yang terkenal, ada yang memperoleh penghargaan, ada yang hidupnya terlihat begitu sempurna. Tanpa disadari, kita mulai membandingkan diri. Cara mereka berbicara kita tiru. Gaya hidupnya kita ikuti. Jalan hidupnya kita anggap sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Lalu perlahan muncul satu pertanyaan yang diam-diam menggerogoti hati.

"Mengapa aku tidak seperti mereka?"

Padahal, mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah,

"Mengapa aku harus menjadi mereka?"

Sejak awal, Allah tidak pernah menciptakan dua manusia yang benar-benar sama.

Sidik jari berbeda.

Wajah berbeda.

Suara berbeda.

Pengalaman hidup berbeda.

Bahkan cara seseorang memahami kehidupan pun berbeda.

Semuanya menunjukkan satu kenyataan bahwa setiap manusia membawa keunikan yang tidak pernah diduplikasi.

Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Al-Ahad, Yang Maha Esa, Maha Tunggal, tidak ada yang menyerupai-Nya.

Sementara manusia memang sama-sama diciptakan sebagai makhluk, tetapi masing-masing memiliki ketunggalan dalam bentuk yang berbeda. Setiap orang adalah satu-satunya dirinya. Tidak ada yang dapat menggantikan amanah, pengalaman, potensi, dan jalan hidup yang telah Allah tetapkan baginya.

Karena itu, kehilangan jati diri bukan sekadar kehilangan arah hidup. Ia adalah kehilangan kesempatan untuk menjalankan amanah yang Allah titipkan secara khusus kepada diri kita.

Bayangkan tubuh manusia.

Mata tidak pernah iri kepada telinga.

Jantung tidak berusaha menjadi paru-paru.

Tangan tidak memaksa dirinya menjadi kaki.

Setiap organ memiliki fungsi yang berbeda, tetapi semuanya bekerja dalam harmoni.

Justru karena masing-masing menjalankan tugasnya, tubuh dapat hidup dengan sempurna.

Bukankah manusia juga demikian?

Allah tidak meminta kita menjadi salinan orang lain.

Yang diperintahkan adalah meneladani akhlak orang-orang saleh, bukan menghapus identitas yang Allah tanamkan dalam diri kita.

Ada perbedaan besar antara meneladani dan meniru.

Meneladani berarti mengambil nilai-nilai kebaikan.

Meniru berarti kehilangan keaslian diri.

Kita boleh belajar dari siapa pun.

Belajar dari guru yang bijaksana.

Belajar dari ilmuwan yang tekun.

Belajar dari pemimpin yang amanah.

Namun setelah itu, semua pelajaran tersebut harus tumbuh sesuai fitrah kita sendiri, bukan menjadikan kita sekadar bayangan dari kehidupan orang lain.

Sebagai seorang pendidik, saya sering melihat peserta didik yang merasa dirinya tidak berharga hanya karena tidak secerdas temannya. Padahal, pendidikan sejatinya bukanlah proses mencetak manusia yang seragam. Pendidikan adalah proses membantu setiap anak menemukan potensi terbaik yang telah Allah titipkan dalam dirinya.

Ada yang dilahirkan dengan kecerdasan akademik.

Ada yang memiliki empati luar biasa.

Ada yang pandai memimpin.

Ada yang tekun berkarya.

Ada yang mampu menghadirkan ketenangan bagi orang lain.

Tidak semuanya harus menjadi sama.

Karena Allah memang tidak menghendaki keseragaman, melainkan keberagaman yang saling melengkapi.

Inilah yang sering kita lupakan.

Semakin sibuk kita mengejar kehidupan orang lain, semakin jauh kita dari perjalanan menemukan diri sendiri.

Padahal, Al-Qur'an mengingatkan,

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu benar."
(QS. Fussilat: 53)

Ayat ini mengajarkan bahwa salah satu jalan mengenal Allah adalah melalui diri kita sendiri.

Setiap bakat adalah tanda.

Setiap kelemahan adalah pelajaran.

Setiap pengalaman adalah ayat kehidupan.

Semakin jujur kita mengenali fitrah yang Allah tanamkan, semakin banyak pula tanda-tanda kebesaran-Nya yang dapat kita renungkan.

Barangkali inilah makna terdalam dari menjadi diri sendiri.

Bukan agar kita merasa paling hebat.

Bukan pula agar kita bebas melakukan apa saja atas nama "ini diriku."

Melainkan agar kita mampu menjalankan amanah yang Allah titipkan secara utuh.

Karena kelak, Allah tidak akan bertanya mengapa kita tidak menjadi si Fulan.

Allah akan bertanya apa yang telah kita lakukan dengan potensi, waktu, ilmu, dan kehidupan yang secara khusus Dia amanahkan kepada diri kita.

Maka, berhentilah membandingkan perjalananmu dengan perjalanan orang lain.

Perbaikilah dirimu.

Rawatlah fitrahmu.

Kembangkan ilmumu.

Perindahlah adabmu.

Dan jalankan amanahmu sebaik mungkin.

Sebab dunia tidak membutuhkan salinanmu menjadi orang lain.

Allah menciptakanmu sebagai pribadi yang tidak pernah diduplikasi, agar engkau mengerjakan tugas yang juga tidak pernah diberikan kepada siapa pun selain dirimu.

"Menjadi diri sendiri bukanlah bentuk kesombongan. Ia adalah wujud syukur atas fitrah yang Allah titipkan. Sebab setiap potensi adalah amanah, setiap keunikan adalah ayat, dan setiap kehidupan adalah jalan untuk semakin mengenal Penciptanya."

— Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan | Duta Canva Indonesia | Penggerak Literasi

Komentar

Postingan Populer