Epistemologi Pendidikan Transformatif di Era Postdigital



 "Sebuah buku tidak lahir ketika tinta terakhir dituliskan. Ia lahir ketika gagasan menemukan keberanian untuk dibagikan kepada dunia."

Ketika Gagasan Menjadi Buku

Oleh: Abdulloh

Alhamdulillah.

Ada rasa syukur yang tidak mudah diungkapkan dengan kata-kata ketika akhirnya buku Epistemologi Pendidikan Transformatif di Era Postdigital: Fondasi Filosofis Pendidikan Transformatif di Era Society 5.0 resmi terbit. Bagi sebagian orang, mungkin ini hanyalah sebuah buku baru di rak perpustakaan. Namun bagi saya, buku ini adalah saksi perjalanan panjang tentang belajar, bertumbuh, dan percaya bahwa setiap gagasan yang ditulis dengan ketulusan akan menemukan pembacanya.

Saya selalu percaya bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan halaman demi halaman. Menulis adalah proses mendidik diri sendiri. Setiap referensi yang dibaca mengajarkan kerendahan hati. Setiap revisi melatih kesabaran. Setiap kritik mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan selalu membuka ruang untuk terus diperbaiki.

Buku ini lahir bukan karena saya merasa paling tahu, melainkan karena saya merasa masih harus terus belajar.

Dari Kegelisahan Menjadi Gagasan

Beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan berubah begitu cepat. Artificial Intelligence, teknologi digital, big data, hingga Society 5.0 menjadi istilah yang semakin akrab di telinga kita. Namun di tengah semua perubahan itu, saya sering bertanya pada diri sendiri.

Apakah pendidikan hanya sedang berubah alatnya, atau juga sedang berubah jiwanya?


Pertanyaan sederhana itulah yang kemudian menjadi awal perjalanan buku ini.

Saya menyadari bahwa diskusi pendidikan sering kali berhenti pada teknologi. Kita membahas platform pembelajaran, kecerdasan buatan, aplikasi, bahkan algoritma. Padahal, jauh sebelum berbicara tentang teknologi, pendidikan terlebih dahulu harus menjawab pertanyaan yang lebih mendasar.

Apa itu pengetahuan? Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan? Untuk apa pengetahuan digunakan?

Karena sesungguhnya, teknologi hanyalah alat. Manusialah yang menentukan arah penggunaannya.

Sebuah Ikhtiar Bersama

Buku ini bukan karya seorang diri. Ia lahir dari kolaborasi pemikiran bersama Sri Astutik, A.Ma., S.Pd.SD., M.Pd., Yophie Adhi Sasmita, S.E., M.Pd., Prof. Dr. Rr. Eko Susetyarini, M.Si., dan Prof. Dr. Baiduri, M.Si. Dalam setiap bab, kami berusaha menyusun dialog antara filsafat pendidikan klasik dengan tantangan dunia postdigital.

Kami membahas krisis epistemologi pendidikan modern, konstruktivisme kritis, pedagogi Paulo Freire, relasi kuasa Michel Foucault, literasi digital kritis, bias algoritmik, hingga menawarkan sebuah rekonstruksi epistemologi pendidikan yang lebih humanis, reflektif, kolaboratif, dan transformatif.

Semoga buku ini tidak hanya menjadi bacaan akademik, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi siapa saja yang percaya bahwa pendidikan harus selalu berpihak kepada manusia.

Buku yang Belum Selesai

Ketika naskah dikirim ke penerbit, saya sempat berpikir bahwa perjalanan ini telah selesai. Namun ternyata saya keliru.

Justru setelah buku diterbitkan, saya merasa perjalanan itu baru dimulai.

Kini bukan lagi tentang bagaimana saya menulisnya, melainkan bagaimana pembaca memaknainya. Sebab setiap buku memiliki kehidupan kedua ketika berada di tangan pembacanya. Di sanalah gagasan mulai diperdebatkan, dikritisi, disempurnakan, bahkan mungkin melahirkan gagasan-gagasan baru yang jauh lebih baik.

Bukankah memang demikian hakikat ilmu pengetahuan?

Ia tidak tumbuh karena seseorang merasa paling benar, tetapi karena banyak orang bersedia berdialog.

Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh rekan penulis, para guru besar yang telah membimbing, keluarga yang selalu menguatkan, sahabat yang terus mendoakan, dan semua pihak yang menjadi bagian dari perjalanan ini.

Terima kasih pula kepada setiap pembaca yang kelak meluangkan waktunya membuka halaman demi halaman buku ini. Semoga setiap gagasan yang tertulis tidak berhenti sebagai teori, tetapi mampu menginspirasi lahirnya praktik pendidikan yang lebih bermakna.

Perjalanan menulis buku ini mungkin telah usai. Namun perjalanan belajar, insyaAllah, tidak akan pernah selesai.

Semoga setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini menjadi jejak yang kelak memberi manfaat bagi banyak orang.



"Pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang berhasil kita kumpulkan, tetapi dari seberapa dalam pengetahuan itu mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan memanusiakan sesama."

🌿 Ruang Renung AUP
"Menulis untuk belajar, belajar untuk bertumbuh, dan bertumbuh untuk memberi manfaat."





Komentar

Postingan Populer