Jalan Raya Memberi Ruang bagi Satwa

 


Ketika Jalan Raya Memberi Ruang bagi Satwa: Pelajaran Berharga dari Belanda

"Peradaban yang maju bukan hanya diukur dari banyaknya jalan yang dibangun, tetapi juga dari seberapa besar ruang yang masih diberikan kepada kehidupan lain."

Setiap kali mendengar kata jalan raya, yang terbayang di benak kita adalah kendaraan yang melaju cepat, kemacetan, atau pembangunan yang identik dengan kemajuan. Namun, pernahkah kita bertanya, bagaimana nasib hewan-hewan liar ketika hutan tempat mereka hidup terbelah oleh jalan, rel kereta api, atau kawasan permukiman?

Bagi manusia, jalan adalah penghubung antarkota. Akan tetapi, bagi satwa liar, jalan sering kali menjadi penghalang kehidupan.

Seekor rusa yang hendak mencari makan harus mempertaruhkan nyawanya saat menyeberang jalan. Seekor rubah kehilangan jalur jelajahnya. Landak, kelinci, reptil, hingga amfibi semakin sulit berpindah dari satu habitat ke habitat lainnya. Lambat laun, populasi mereka menjadi terisolasi. Kesempatan berkembang biak berkurang, pertukaran genetik terhambat, dan risiko kepunahan semakin besar.

Belanda menyadari persoalan ini sejak lama.

Alih-alih membiarkan pembangunan memutus hubungan antarhabitat, negara tersebut memilih membangun ecoduct, yaitu jembatan hijau yang dirancang khusus agar satwa dapat melintasi jalan raya dan rel kereta dengan aman.

Salah satu yang paling terkenal adalah Natuurbrug Zanderij Crailoo, sebuah jembatan hijau sepanjang sekitar 800 meter yang menghubungkan kawasan hutan dan padang heather di wilayah Hilversum dan Bussum. Ketika diresmikan pada tahun 2006, jembatan ini menjadi salah satu jembatan satwa terpanjang di dunia.

Yang membuatnya begitu istimewa bukan hanya ukurannya.

Permukaan jembatan ini ditumbuhi pepohonan, semak belukar, rerumputan, bahkan kolam kecil yang menyerupai habitat alami. Bagi rusa, rubah, luak (badger), kelinci, landak, reptil, maupun amfibi, jembatan tersebut bukan lagi terasa seperti bangunan beton, melainkan bagian dari hutan yang mereka kenal.

Penelitian menunjukkan bahwa satwa benar-benar memanfaatkan jembatan hijau tersebut. Bahkan berbagai mamalia berukuran sedang hingga besar yang hidup di kawasan itu tercatat menggunakan jalur ini untuk berpindah habitat. Hal ini membuktikan bahwa pembangunan yang dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan alam mampu memberikan manfaat nyata, bukan sekadar menjadi simbol kepedulian lingkungan.

Yang menarik, jembatan ini juga dapat digunakan oleh manusia. Jalur pejalan kaki, pesepeda, dan penunggang kuda dibuat terpisah dari lintasan utama satwa. Dengan pengaturan yang tepat, manusia dan satwa dapat berbagi ruang tanpa saling mengganggu.

Di sinilah letak pelajaran yang sesungguhnya.

Sering kali kita menganggap pembangunan harus selalu mengalahkan alam. Pohon ditebang demi pelebaran jalan. Sungai diubah menjadi saluran beton. Hutan dipandang sebagai lahan kosong yang siap dibangun. Seolah-olah kemajuan hanya dapat dicapai apabila alam terus dikorbankan.

Padahal, Belanda menunjukkan bahwa pembangunan tidak harus memilih antara manusia atau lingkungan. Keduanya dapat berjalan berdampingan apabila dirancang dengan kebijaksanaan.

Sebagai seorang guru IPA, saya melihat ecoduct bukan sekadar jembatan bagi satwa. Ia adalah jembatan yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Teknologi ternyata tidak selalu identik dengan beton dan baja. Teknologi juga dapat menjadi wujud kasih sayang kepada seluruh makhluk hidup.

Inilah esensi pendidikan lingkungan yang sesungguhnya.

Mengajarkan peserta didik mencintai alam tidak cukup hanya dengan menghafal rantai makanan atau jenis-jenis ekosistem. Mereka perlu melihat bahwa setiap keputusan manusia selalu membawa konsekuensi ekologis. Ketika kita membangun sebuah jalan, sesungguhnya kita juga sedang menentukan nasib ribuan makhluk hidup yang berbagi bumi bersama kita.

Mungkin kita belum mampu membangun jembatan satwa sepanjang Belanda. Namun, kita dapat memulai dari langkah yang lebih sederhana: menjaga ruang hijau di sekitar sekolah, melestarikan pohon, melindungi habitat lokal, serta mengajarkan generasi muda bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni bumi yang berhak menikmati kehidupan.

Sebab, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh tingginya gedung pencakar langit atau panjangnya jalan tol. Kemajuan sejati lahir ketika pembangunan mampu menghadirkan keseimbangan antara kepentingan manusia dan kelestarian alam.

Karena sesungguhnya, bumi ini tidak diwariskan kepada kita untuk dikuasai, melainkan dititipkan agar dijaga bersama.

"Peradaban yang hebat bukanlah yang berhasil menaklukkan alam, tetapi yang mampu hidup berdampingan dengannya. Ketika manusia memberi jalan bagi satwa, sesungguhnya ia sedang membuka jalan bagi masa depan bumi yang lebih lestari."

— Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan | Duta Canva Indonesia | Penggerak Literasi

Komentar

Postingan Populer