Mahasiswa yang Memilih Tinggal
Mahasiswa yang Memilih Tinggal: Ketika Ilmu Menemukan Makna dalam Pengabdian
"Tidak semua orang yang lulus dari kampus membawa pulang ijazah. Ada yang justru membawa pulang amanah untuk mengabdi."
Di zaman ketika banyak orang berlomba mengejar gelar, jabatan, dan karier yang menjanjikan, kisah Muhammad Kasim Arifin terasa seperti sebuah jeda yang mengajak kita merenung.
Ia tidak memilih jalan yang mudah.
Sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (kini IPB University), Kasim mengikuti Program Pengerahan Mahasiswa pada tahun 1964, sebuah program yang kemudian dikenal sebagai cikal bakal Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Penugasannya hanya beberapa bulan.
Tujuannya sederhana.
Datang.
Membantu masyarakat.
Lalu kembali menyelesaikan kuliah.
Namun, hidup sering kali berubah bukan karena rencana yang kita buat, melainkan karena panggilan yang kita dengarkan.
Sesampainya di Waimital, Pulau Seram, Maluku, Kasim melihat sesuatu yang tidak pernah diajarkan sepenuhnya di ruang kuliah.
Ia menyaksikan petani yang harus berjalan jauh menuju sawah.
Lahan pertanian yang masih dikelola dengan alat sederhana.
Keterbatasan pengetahuan dan pendampingan.
Serta masyarakat yang bekerja keras setiap hari demi kehidupan yang lebih baik.
Barangkali saat itulah ilmu berhenti menjadi teori.
Ia berubah menjadi tanggung jawab.
Ketika masa tugas selesai, teman-temannya kembali ke kota.
Mereka melanjutkan kuliah.
Melanjutkan mimpi.
Melanjutkan kehidupan yang telah direncanakan.
Namun Kasim mengambil keputusan yang berbeda.
Ia memilih tetap tinggal.
Jas almamater berganti pakaian kerja.
Sepatu berganti sandal jepit.
Ruang kuliah berganti hamparan sawah.
Perkuliahan digantikan oleh kehidupan nyata.
Yang lebih mengagumkan, keputusan itu bukan berlangsung beberapa minggu atau beberapa bulan.
Ia mengabdikan dirinya selama lima belas tahun.
Sebuah pilihan yang mungkin sulit dipahami oleh ukuran kesuksesan dunia hari ini.
Karena dunia sering mengajarkan bahwa keberhasilan diukur dari seberapa tinggi jabatan yang diraih.
Padahal, sejarah justru lebih banyak mengingat mereka yang memilih memberi manfaat.
Sebagai seorang guru, saya sering bertanya kepada peserta didik, "Untuk apa kalian belajar?"
Jawaban yang muncul hampir selalu sama.
Supaya mendapat nilai bagus.
Supaya lulus.
Supaya memperoleh pekerjaan yang layak.
Semua jawaban itu tidak salah.
Namun, kisah Muhammad Kasim Arifin mengingatkan bahwa ada tujuan pendidikan yang lebih tinggi daripada sekadar memperoleh pekerjaan.
Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang mampu melihat penderitaan orang lain sebagai panggilan untuk bertindak.
Ilmu bukan hanya untuk memperbaiki kehidupan pribadi.
Ilmu adalah amanah untuk memperbaiki kehidupan bersama.
Barangkali itulah mengapa masyarakat Waimital memanggilnya "Antua", sebuah panggilan penuh penghormatan.
Penghormatan sejati ternyata tidak selalu datang dari gelar akademik.
Ia lahir dari ketulusan yang dirasakan oleh masyarakat.
Kisah Kasim juga mengingatkan kita bahwa pengabdian sering kali menuntut keberanian meninggalkan zona nyaman.
Tidak semua orang sanggup melakukannya.
Sebab mengabdi berarti rela tidak selalu menjadi pusat perhatian.
Rela bekerja tanpa banyak sorotan.
Rela menanam pohon yang mungkin buahnya akan dinikmati oleh generasi berikutnya.
Sebagai calon doktor pendidikan, saya semakin meyakini bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari berapa banyak lulusan yang bekerja di perusahaan besar atau menduduki jabatan penting.
Keberhasilan pendidikan juga terlihat dari berapa banyak lulusan yang memilih kembali kepada masyarakat, menyelesaikan persoalan nyata, dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan tempat mereka hidup.
Sebab ilmu yang tidak menghadirkan manfaat hanyalah kumpulan informasi.
Sebaliknya, ilmu yang diwujudkan dalam pengabdian akan berubah menjadi peradaban.
Mungkin kita tidak harus tinggal lima belas tahun di pelosok negeri seperti Muhammad Kasim Arifin.
Namun, kita semua dapat belajar satu hal darinya.
Bahwa hidup yang bermakna bukan selalu tentang seberapa jauh kita melangkah.
Melainkan tentang seberapa banyak kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita.
"Gelar dapat menghiasi nama seseorang, tetapi pengabdian akan mengabadikan namanya di hati manusia. Sebab ilmu mencapai kemuliaannya bukan ketika disimpan dalam kepala, melainkan ketika dihadirkan untuk memberi manfaat bagi sesama."
— Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan | Duta Canva Indonesia | Penggerak Literasi

Komentar
Posting Komentar