Tubuh Sibuk di Dunia
Ketika Tubuh Sibuk di Dunia, Hati Tetap Menghadap Akhirat
"Kesibukan bukanlah musuh ketenangan. Yang menjadi persoalan adalah ketika kesibukan membuat hati lupa kepada tujuan."
Hidup di zaman modern sering kali membuat kita merasa harus memilih satu di antara dua jalan. Menjadi pribadi yang sukses dalam urusan dunia, atau menjadi pribadi yang dekat dengan Allah.
Seolah-olah keduanya tidak mungkin berjalan beriringan.
Akibatnya, ada yang begitu larut mengejar karier hingga hampir tidak memiliki ruang untuk menyapa Tuhannya. Sebaliknya, ada pula yang memandang dunia sebagai sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya, seakan bekerja, berkarya, dan berprestasi dapat mengurangi nilai spiritual seseorang.
Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan pertentangan antara dunia dan akhirat.
Salah satu nasihat yang sangat indah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengajarkan keseimbangan yang begitu menenangkan jiwa. Beliau menggambarkan bahwa seorang mukmin dapat hidup pada tiga tingkat kesadaran sekaligus.
Tubuhmu berada di dunia.
Hatimu menghadap akhirat.
Ruhmu senantiasa bersama Allah.
Betapa indahnya susunan hikmah itu.
Tubuh memang diciptakan untuk bergerak.
Kita diperintahkan bekerja, belajar, mengajar, berdagang, meneliti, memimpin, membangun keluarga, serta menghadirkan manfaat bagi kehidupan. Islam tidak memuliakan kemalasan. Justru tangan yang bekerja dengan jujur adalah tangan yang dicintai karena mampu menghadirkan kemaslahatan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Namun, tubuh yang sibuk tidak boleh membuat hati ikut sibuk mengejar dunia.
Di sinilah letak perbedaannya.
Dunia boleh berada di tangan kita.
Tetapi jangan sampai ia mengambil alih isi hati kita.
Sebab hati yang dipenuhi ambisi dunia akan mudah gelisah. Ia merasa kurang ketika memiliki banyak. Merasa takut kehilangan ketika memperoleh kenikmatan. Dan merasa gagal ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Sebaliknya, hati yang menghadap akhirat memandang setiap pekerjaan sebagai amanah.
Keberhasilan menjadi alasan untuk bersyukur.
Kegagalan menjadi ruang untuk belajar.
Jabatan menjadi kesempatan melayani.
Harta menjadi sarana berbagi.
Karena orientasinya bukan lagi sekadar memperoleh dunia, melainkan mencari keridaan Allah melalui setiap aktivitas yang dijalani.
Namun, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengajak kita melangkah lebih jauh lagi.
Beliau tidak hanya berbicara tentang tubuh dan hati.
Beliau mengajak kita menjaga ruh agar selalu terhubung dengan Allah.
Inilah tingkat kesadaran yang paling dalam.
Ketika bekerja, kita tetap mengingat-Nya.
Ketika berhasil, kita tidak menjadi sombong.
Ketika gagal, kita tidak kehilangan harapan.
Ketika lelah, kita tahu kepada siapa harus bersandar.
Kedekatan kepada Allah tidak selalu diukur dari banyaknya waktu menyendiri. Ia justru tampak ketika seseorang tetap mampu mengingat Tuhannya di tengah rapat, di ruang kelas, di sawah, di rumah sakit, di pasar, atau di balik meja kerjanya.
Sebagai seorang pendidik, saya sering melihat bahwa tantangan terbesar bukanlah padatnya aktivitas, melainkan hilangnya kesadaran akan makna dari aktivitas itu sendiri.
Guru dapat mengajar hanya karena kewajiban.
Peserta didik dapat belajar hanya demi nilai.
Pegawai dapat bekerja hanya demi gaji.
Padahal, ketika niat diperbaiki, aktivitas yang sama dapat berubah menjadi ladang ibadah.
Mengajar menjadi jalan mencerdaskan kehidupan.
Belajar menjadi bentuk syukur atas nikmat akal.
Bekerja menjadi cara menafkahi keluarga dengan rezeki yang halal.
Di sinilah adab menemukan tempatnya.
Adab mengajarkan bahwa dunia tidak ditinggalkan, tetapi juga tidak dipertuhankan. Dunia diposisikan sebagai amanah yang harus dikelola dengan ilmu, kejujuran, dan tanggung jawab.
Barangkali itulah seni hidup yang sesungguhnya.
Tubuh tetap produktif.
Pikiran tetap berkembang.
Karya terus bertambah.
Tetapi hati tidak pernah kehilangan arah.
Karena sejauh apa pun langkah kita di dunia, tujuan akhirnya tetap sama: kembali kepada Allah dengan membawa amal terbaik yang mampu kita persembahkan.
Maka, bekerjalah dengan sepenuh hati. Berkaryalah dengan sungguh-sungguh. Raihlah prestasi setinggi mungkin. Namun, jangan pernah biarkan dunia menjadi pusat hidupmu.
Biarkan tubuhmu sibuk membangun kehidupan.
Biarkan hatimu terus merindukan akhirat.
Dan biarkan ruhmu senantiasa hidup dalam cahaya mengingat Allah.
"Kesuksesan sejati bukan ketika dunia berada di genggaman tanganmu, tetapi ketika dunia tidak pernah berhasil menguasai hatimu. Tubuhmu boleh sibuk berkarya, namun ruhmu tetap tenang karena selalu bersama Allah."
— Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan | Duta Canva Indonesia | Penggerak Literasi

Komentar
Posting Komentar