AYO, KITA JALAN LAGI

 


JALAN SAJA TERUS, SAMPAI BERTEMU MEREKA YANG BERKATA: “AYO, KITA JALAN LAGI!”

Ada perjalanan yang tidak dimulai dengan peta.

Tidak juga dengan kepastian akan sampai di mana.

Kadang, ia hanya dimulai dari satu kalimat sederhana:

“Ya sudah. Jalan saja dulu.”

Saya kira, begitulah perjalanan saya menjadi guru.

Tahun-tahun pertama mengajar mengajarkan saya bahwa menjadi guru bukan sekadar berdiri di depan kelas, menjelaskan materi, lalu pulang membawa daftar nilai.

Ada hari ketika ide terasa habis.

Ada masa ketika teknologi terasa terlalu cepat.

Ada saat ketika perubahan datang bertubi-tubi, sementara kita masih sibuk membereskan cara mengajar kemarin.

Tetapi entah mengapa, kaki ini selalu ingin melangkah.

Belajar lagi.
Mencoba lagi.
Gagal lagi.
Membuat lagi.
Berbagi lagi.

Lalu berjalan lagi.


Sebab Guru yang Berhenti Belajar, Perlahan Akan Berhenti Bertumbuh

Saya semakin percaya bahwa perjalanan seorang guru bukan tentang siapa yang paling cepat sampai.

Tetapi tentang siapa yang masih mau berjalan ketika jalannya mulai melelahkan.

Saya pernah berada di banyak ruang belajar.

Bertemu banyak komunitas.

Mencoba berbagai pendekatan.

Belajar teknologi.

Membuat media pembelajaran.

Menulis.

Berbagi praktik baik.

Masuk ke dunia digital.

Dan ternyata, semakin banyak belajar, semakin saya sadar:

Saya tidak tahu banyak hal.

Dan itu bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Justru dari sanalah rasa ingin tahu kembali tumbuh.

Karena guru yang masih mau berkata “saya ingin belajar”, sebenarnya sedang memberikan contoh paling jujur kepada murid-muridnya tentang arti pembelajaran sepanjang hayat.


Lalu Saya Bertemu Sebuah Ekspedisi Bernama WIT Gen 8

Perjalanan di Wardah Inspiring Teacher Gen 8 bagi saya bukan sekadar mengumpulkan sertifikat.

Ada tujuh sertifikat yang menjadi jejak perjalanan.

Modul 1.

Modul 2.

Hour of Code: Voyage Aquatic & Minecraft.

Penjelajah Makna.

Penenun Aksi.

Pemantik Inspirasi.

Hingga Graduation WIT Gen 8.

Tetapi kalau perjalanan itu hanya berhenti sebagai tujuh lembar sertifikat, rasanya terlalu sederhana.

Sebab di balik setiap sertifikat ada sesuatu yang jauh lebih berharga:

pengalaman.

Ada tantangan.

Ada tugas.

Ada refleksi.

Ada percakapan.

Ada kolaborasi.

Ada orang-orang baru.

Ada ide yang awalnya terasa asing, kemudian perlahan menjadi bagian dari cara berpikir.

Dan yang paling penting—

ada perasaan bahwa ternyata saya tidak berjalan sendirian.


Kadang Kita Memang Harus Jalan Sampai Lelah

Saya suka membayangkan perjalanan sebagai sebuah ekspedisi.

Kita membawa ransel.

Isinya pengalaman.

Sebagian berat.

Sebagian menyenangkan.

Sebagian bahkan ingin kita buang di tengah perjalanan.

Kita berjalan.

Kadang menanjak.

Kadang turun.

Kadang bertemu jalan buntu.

Kadang bertanya dalam hati:

“Sebenarnya saya mau ke mana?”

Tetapi teruslah berjalan.

Sebab bisa jadi, beberapa langkah setelah rasa lelah itu…

kita bertemu seseorang yang berkata:

“Ayo, kita jalan lagi.”

Bukan karena ia tidak melihat kita lelah.

Justru karena ia tahu rasanya lelah.

Ia pernah berada di jalan yang sama.

Ia tahu bagaimana rasanya hampir menyerah.

Tetapi ia juga tahu bahwa perjalanan akan menjadi lebih ringan ketika dilakukan bersama.


Mungkin Itulah Arti Circle yang Sesungguhnya

Circle bukan sekadar kumpulan orang yang sering muncul di foto.

Bukan sekadar grup WhatsApp yang ramai ketika ada kegiatan.

Bukan pula sekadar orang-orang yang memiliki profesi yang sama.

Circle yang sehat adalah mereka yang membuat kita pulang membawa versi diri yang sedikit lebih baik.

Mereka yang ketika kita punya ide berkata:

“Coba saja.”

Ketika kita gagal berkata:

“Tidak apa-apa. Kita coba lagi.”

Ketika kita mulai lelah berkata:

“Istirahat sebentar. Setelah itu kita lanjut.”

Dan ketika kita merasa perjalanan sudah selesai, justru mereka tersenyum sambil berkata:

“Ayo, kita jalan lagi.”

Itulah circle yang saya cari.

Bukan circle yang membuat kita sibuk membicarakan orang lain.

Tetapi circle yang membuat kita sibuk membangun diri sendiri.

Bukan circle yang membuat kita merasa paling hebat.

Tetapi circle yang membuat kita sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari.

Bukan circle yang hanya berkumpul ketika ada panggung.

Tetapi circle yang tetap berjalan bahkan ketika tidak ada yang bertepuk tangan.


Guru Seharusnya Punya Ekspedisinya Sendiri

Mungkin perjalanan menjadi guru memang seperti itu.

Tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini belajar Canva.

Besok belajar AI.

Lusa belajar pedagogi.

Kemudian belajar tentang karakter.

Belajar tentang murid.

Belajar tentang diri sendiri.

Dan pada akhirnya kita sadar:

mata pelajaran terbesar yang kita pelajari sepanjang menjadi guru adalah kehidupan itu sendiri.

Saya belajar bahwa teknologi bisa berubah.

Kurikulum bisa berubah.

Platform bisa berganti.

Tren pendidikan bisa datang dan pergi.

Tetapi satu hal tidak boleh berhenti:

kemauan seorang guru untuk terus bertumbuh.


Jalan Saja Terus

Kalau hari ini perjalananmu terasa panjang, jalan saja.

Kalau belum menemukan teman seperjalanan, jalan saja.

Kalau belum menemukan circle yang tepat, jalan saja.

Kalau sedang lelah, berhenti sebentar boleh.

Tetapi jangan terlalu lama tinggal di tempat yang membuatmu lupa bahwa kamu pernah punya mimpi.

Karena mungkin beberapa meter di depan sana…

ada seseorang yang juga sedang berjalan.

Ia membawa cerita sendiri.

Ia membawa pengalaman sendiri.

Ia juga pernah jatuh.

Ia juga pernah lelah.

Dan ketika akhirnya kalian bertemu, mungkin tidak perlu banyak basa-basi.

Cukup saling tersenyum.

Kemudian salah satunya berkata:

“Sudah sampai sini?”

Yang lain menjawab:

“Iya. Capek juga.”

Lalu ia mengulurkan tangan:

“Ayo, kita jalan lagi.”

Dan dari sanalah ekspedisi baru dimulai.


Dari Kelas, Untuk Dampak Nyata

Perjalanan saya sebagai guru mungkin belum selesai.

Justru rasanya baru semakin luas.

WIT Gen 8 hanyalah salah satu persinggahan dalam perjalanan panjang itu.

Saya datang sebagai guru yang ingin belajar.

Pulang membawa lebih banyak pertanyaan.

Dan saya menyukai itu.

Sebab pertanyaan membuat kita terus bergerak.

Terus mencari.

Terus mencoba.

Terus bertumbuh.

Dan mudah-mudahan, suatu hari nanti, perjalanan kecil yang kita lakukan dari kelas-kelas sederhana dapat meninggalkan jejak yang lebih besar daripada yang pernah kita bayangkan.

Karena pada akhirnya, saya tidak ingin hanya menjadi guru yang pernah berjalan jauh.

Saya ingin menjadi guru yang mengajak orang lain ikut berjalan.

Dan kalau suatu hari saya merasa lelah, semoga saya dipertemukan dengan orang-orang yang satu frekuensi.

Orang-orang yang tidak berkata,

“Sudahlah, berhenti saja.”

Tetapi berkata:

“Ayo, kita jalan lagi.

Kita bertualang lagi.

Kita lakukan ekspedisi ini kembali.”

Sebab mungkin…

perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang membuat kita sampai paling cepat.

Melainkan perjalanan yang mempertemukan kita dengan orang-orang yang membuat kita ingin terus menjadi lebih baik.

Jalan saja terus.

Sampai lelah.

Sampai bertemu.

Sampai bertumbuh.

Dan ketika bertemu mereka yang satu frekuensi—

jangan lupa ajak mereka melanjutkan perjalanan. 🌱🚶‍♂️✨

— Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan | Duta Canva Indonesia | Guru Pejuang Digital | Penggerak Literasi | Pamong SEL

Komentar

Postingan Populer