Muhammadiyah dan Transformasi Peradaban
KETIKA GAGASAN DITARIK BERSAMA, AKHIRNYA MENJADI BUKU
Muhammadiyah dan Transformasi Peradaban: Tauhid • Ilmu • Amal • Kemajuan
📚✨ Alhamdulillah, sebuah gagasan akhirnya menjadi buku.
Setiap buku punya cerita.
Tidak selalu dimulai dari meja kerja yang rapi. Tidak selalu lahir dari perencanaan yang sempurna. Kadang ia tumbuh dari percakapan, dari pertemuan, dari kegelisahan, dari tugas akademik, dari diskusi yang panjang, lalu perlahan menemukan bentuknya.
Begitu pula buku ini.
Awalnya kami memperkirakan buku ini bisa terbit pada bulan Agustus. Tetapi manusia memang hanya bisa berencana. Pada akhirnya, Agustus bergeser menjadi September.
Dan mungkin memang harus begitu.
September Ceria. 🥰
Sebab ternyata, ada hal-hal yang tidak harus dipaksakan untuk datang lebih cepat. Ada proses yang harus diberi ruang untuk tumbuh.
Ada gagasan yang ditarik bersama.
Ada proses yang diperjuangkan.
Ada ilmu yang dipertemukan.
Dan ada harapan yang ingin ditinggalkan.
🪢✨
BUKAN HANYA TENTANG SEBUAH BUKU
Buku ini berjudul:
MUHAMMADIYAH DAN TRANSFORMASI PERADABAN
Tauhid • Ilmu • Amal • Kemajuan
Dari Pembaruan, untuk Kemanusiaan, Menuju Peradaban Dunia.
Bagi saya, judul tersebut bukan sekadar rangkaian kata.
Ia membawa pertanyaan yang jauh lebih besar.
Bagaimana sebuah gerakan pembaruan dapat terus menghadirkan makna di tengah perubahan zaman?
Bagaimana ilmu tidak berhenti menjadi pengetahuan, tetapi menjelma menjadi amal?
Bagaimana pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang mampu menjawab soal, tetapi juga manusia yang mampu membaca persoalan kehidupan?
Dan yang paling penting, bagaimana gagasan tentang kemajuan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan manusia?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat buku ini terasa lebih dari sekadar kumpulan tulisan.
Ia adalah ruang untuk mempertemukan gagasan.
DARI BANYAK TEMPAT, BERTEMU DALAM SATU GAGASAN
Ada sesuatu yang menarik dari proses lahirnya buku ini.
Kami tidak berasal dari satu tempat.
Ada penulis dari Aceh.
Ada dari Sulawesi Selatan.
Ada dari Papua Barat.
Ada dari Nusa Tenggara Barat.
Ada dari Wakatobi.
Dan ada pula dari Jawa Timur.
Latar institusinya pun beragam. Ada guru, ada dosen, ada akademisi, dan ada insan pendidikan dengan pengalaman yang berbeda-beda.
Namun keberagaman itu justru menjadi kekuatan tersendiri.
Karena ilmu memang tidak seharusnya tumbuh dalam ruang yang terlalu sempit.
Aceh bertemu Sulawesi.
Papua bertemu Jawa.
Mataram bertemu Wakatobi.
Pengalaman sekolah bertemu pengalaman perguruan tinggi.
Dan semuanya dipertemukan melalui satu ruang akademik: Program Studi Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang.
Program Doktor Pendidikan UMM sendiri menempatkan pengembangan ilmu pendidikan dalam pendekatan interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner, dengan perhatian pada kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif, serta nilai-nilai Islam dan kemuhammadiyahan.
Mungkin karena itu pula, saya merasa bahwa buku ini menjadi semacam potret kecil dari sebuah proses belajar.
Bukan hanya belajar menulis.
Tetapi belajar mendengar gagasan orang lain.
Belajar memahami perbedaan.
Belajar menyatukan arah.
Dan belajar bahwa sebuah karya yang baik tidak selalu harus lahir dari satu kepala.
11 NAMA, 11 PERJALANAN
Di balik buku ini ada sebelas nama.
Nurul Husna — SMPT Muhammadiyah Gayo Lues, Aceh.
Taufik — Universitas Muhammadiyah Barru, Sulawesi Selatan.
Siti Muflihah — Universitas Muhammadiyah Papua Barat.
Siti Fatimahtun Zahra — Universitas Muhammadiyah Papua Barat.
Aristanto — Universitas Muhammadiyah Papua Barat.
Kartini — Universitas Muhammadiyah Papua Barat.
Rima Rahmaniah — Universitas Muhammadiyah Mataram.
Yophie Adhi Sasmita — SMP Negeri 2 Kamal, Bangkalan.
Abdulloh — SMP Negeri 1 Blega, Bangkalan.
Sitti Ufairah — Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi.
Sri Astutik — UPTD SDN Ba'engas 3, Bangkalan.
Sebelas nama.
Sebelas perjalanan.
Sebelas latar pengalaman.
Tetapi kemudian duduk bersama dalam satu karya.
Di sinilah saya belajar satu hal sederhana:
Kolaborasi bukan tentang menghilangkan perbedaan. Kolaborasi adalah tentang mempertemukan perbedaan untuk menemukan arah yang sama.
TARIK TAMBANG DAN FILOSOFI BERGERAK BERSAMA
Ada alasan mengapa visual buku ini kami dekatkan dengan gambaran tarik tambang.
Sekilas, tarik tambang adalah permainan sederhana.
Dua kelompok menarik tali dari arah yang berlawanan.
Tetapi jika kita perhatikan lebih dalam, ada sesuatu yang menarik di sana.
Tidak ada satu orang yang bekerja sendirian.
Ada ritme.
Ada koordinasi.
Ada aba-aba.
Ada kekuatan yang dibagi.
Dan ada kepercayaan kepada orang-orang yang berada di sisi yang sama.
Begitu pula dengan menulis buku kolaborasi.
Tidak semua gagasan harus sama.
Tidak semua pengalaman harus seragam.
Tidak semua orang harus berbicara dengan suara yang sama.
Yang diperlukan adalah kesediaan untuk menarik gagasan bersama ke arah yang diyakini membawa manfaat.
Karena pada akhirnya, buku ini bukan tentang siapa yang paling kuat.
Bukan tentang siapa yang paling banyak menulis.
Bukan pula tentang siapa yang paling menonjol.
Tetapi tentang bagaimana kita bergerak bersama.
🪢
DARI TAJDID MENUJU KEMANUSIAAN
Buku ini mencoba merekam berbagai gagasan tentang Muhammadiyah, pendidikan, tajdid, Islam Berkemajuan, kemanusiaan, dan ikhtiar membangun peradaban.
Bagi saya, kata peradaban selalu menarik.
Sebab peradaban tidak dibangun hanya dengan gedung yang tinggi.
Tidak cukup dengan teknologi yang canggih.
Tidak cukup dengan banyaknya institusi pendidikan.
Dan tidak selesai hanya karena manusia semakin pintar.
Peradaban pada akhirnya berbicara tentang manusia macam apa yang kita bentuk melalui pendidikan dan ilmu pengetahuan.
Ilmu yang tidak menjadi amal akan mudah berhenti sebagai pengetahuan.
Amal yang tidak memiliki ilmu dapat kehilangan arah.
Dan kemajuan yang tidak memiliki nilai dapat kehilangan tujuan.
Karena itu, rangkaian Tauhid • Ilmu • Amal • Kemajuan dalam buku ini bagi saya bukan sekadar tagline.
Ia adalah pengingat.
Bahwa kemajuan seharusnya tetap memiliki akar nilai.
Bahwa ilmu seharusnya menemukan jalannya menuju kemanfaatan.
Dan bahwa pendidikan semestinya ikut menghadirkan manusia yang mampu memberi arti bagi kehidupan.
BUKU SELESAI, TAPI PERJALANAN TIDAK
Ketika akhirnya buku ini terbit, saya justru merasa bahwa pekerjaan belum selesai.
Buku yang selesai dicetak bukan berarti gagasan selesai.
Justru sebaliknya.
Buku baru benar-benar hidup ketika dibaca.
Ia hidup ketika seseorang menemukan pertanyaan baru setelah membacanya.
Ia hidup ketika terjadi diskusi.
Ia hidup ketika seseorang mengambil satu gagasan, mengolahnya, lalu menjadikannya tindakan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, gagasan kecil dari buku ini akan menemukan jalannya sendiri di ruang kelas, kampus, komunitas, organisasi, atau bahkan dalam kehidupan masyarakat.
Itulah mengapa saya selalu percaya bahwa menulis bukan sekadar meninggalkan tulisan.
Menulis adalah menitipkan gagasan.
Kita tidak pernah tahu ke mana sebuah gagasan akan berjalan setelah meninggalkan tangan penulisnya.
TERIMA KASIH UNTUK SEBUAH PROSES
Terima kasih kepada sebelas penulis yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini.
Terima kasih kepada ruang akademik yang mempertemukan kami.
Terima kasih kepada setiap percakapan, diskusi, revisi, dan proses yang mungkin pada saat dijalani terasa melelahkan, tetapi ternyata menjadi bagian penting dari cerita.
Dan terima kasih kepada semua orang yang nantinya bersedia membaca.
Sebab sebuah buku tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.
Di belakangnya ada banyak tangan.
Banyak pikiran.
Banyak waktu.
Banyak doa.
Dan banyak harapan.
Maka hari ini saya hanya ingin mengatakan:
Alhamdulillah.
Yang awalnya hanya gagasan, akhirnya menjadi buku.
Yang awalnya diperkirakan Agustus, akhirnya menemukan jalannya di September Ceria. 🥰
Dan yang awalnya mungkin hanya percakapan di ruang akademik, akhirnya menjadi sesuatu yang bisa dibaca lebih banyak orang.
MUHAMMADIYAH DAN TRANSFORMASI PERADABAN.
Tauhid • Ilmu • Amal • Kemajuan.
Sebuah buku kecil.
Sebuah ikhtiar kecil.
Tetapi semoga membawa percakapan yang besar.
Sebab mungkin memang begitulah cara peradaban dibangun:
bukan selalu dengan langkah yang besar, tetapi dengan gagasan-gagasan kecil yang terus dirawat, dipertemukan, dan digerakkan bersama.
🪢📚✨
BUKU INI BISA DIDAPATKAN DI SHOPEE
Bagi yang ingin membaca dan ikut menjadi bagian dari perjalanan gagasan ini, buku Muhammadiyah dan Transformasi Peradaban sudah tersedia untuk dibeli.
🛒 Pesan melalui Shopee:
Beli Buku di Shopee
🔖 ISBN: 978-6347-7127-20-4
Mari membaca.
Mari berdiskusi.
Mari bertukar gagasan.
Mari bergerak menuju peradaban. 🚀📖
Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan | Penulis dan Penggerak Literasi

Komentar
Posting Komentar