WALAU HABIS TERANG

 


WALAU HABIS TERANG, TERUSLAH BERJALAN

Ada masa ketika kita merasa cahaya itu habis.

Bukan karena kita tidak punya mimpi.

Bukan karena kita tidak tahu harus ke mana.

Tetapi karena perjalanan yang terlalu panjang kadang membuat kita lelah. Langkah mulai berat. Kepala mulai penuh. Semangat yang dulu menyala, perlahan seperti redup.

Dan pada titik itu, kita biasanya bertanya:

“Masih harus jalan?”

Saya pernah ada di titik itu.

Bahkan mungkin sampai hari ini pun masih sering.

Sebab menjadi guru ternyata bukan sekadar berdiri di depan kelas, menjelaskan materi, memberikan tugas, lalu pulang.

Menjadi guru adalah perjalanan yang tidak pernah benar-benar selesai.

Hari ini belajar menjadi guru yang lebih baik.

Besok belajar lagi.

Hari berikutnya menemukan sesuatu yang baru.

Lalu mencoba.

Gagal.

Memperbaiki.

Mencoba lagi.

Begitu terus.

Sampai akhirnya kita sadar…

ternyata menjadi guru adalah perjalanan panjang untuk terus menjadi manusia pembelajar.


Walau habis terang…

Saya suka kalimat itu.

Bukan karena ia terdengar puitis.

Tetapi karena di dalamnya ada sebuah pesan sederhana:

ketika cahaya kita habis, jangan buru-buru berhenti.

Kalau tidak ada matahari, mungkin kita bisa menyalakan lampu.

Kalau lampu belum ada, mungkin kita bisa menyalakan lilin.

Dan kalau lilinnya hanya kecil?

Tidak apa-apa.

Sebab sebuah lilin kecil memang tidak akan menerangi seluruh dunia.

Tetapi ia cukup untuk membuat seseorang di sebelah kita tidak lagi berada dalam kegelapan.

Secuil cahaya tetaplah cahaya.

Dan sering kali, yang dibutuhkan seseorang bukanlah cahaya yang besar.

Hanya sedikit cahaya untuk berkata:

“Tenang… masih ada jalan.”


Mungkin itu arti sahabat.

Bukan orang yang selalu berjalan di depan kita.

Bukan pula orang yang selalu menyelesaikan masalah kita.

Tetapi seseorang yang ketika kita mulai lelah, ia tidak berkata,

“Sudahlah, berhenti saja.”

Melainkan berkata:

“Ayo, kita jalan lagi.”

Kalimat sederhana.

Tapi bagi orang yang sedang lelah, kalimat itu bisa menjadi energi yang luar biasa.

Karena perjalanan akan terasa jauh lebih ringan ketika kita tahu bahwa ada seseorang yang percaya kepada kita.

Ada yang mau mendengarkan.

Ada yang mau menunggu ketika langkah kita melambat.

Ada yang tidak keberatan berjalan sedikit lebih pelan agar kita tidak tertinggal.

Dan yang paling indah…

ketika kita sudah sampai di satu titik, ia justru berkata:

“Ayo, kita bertualang lagi.”


Saya menemukan itu dalam perjalanan menjadi guru.

Dulu saya hanya ingin mengajar.

Kemudian saya belajar bahwa guru juga harus terus belajar.

Saya mulai mengenal teknologi.

Membuat media pembelajaran.

Belajar Canva.

Mencoba berbagai pendekatan pembelajaran.

Menulis.

Berbagi.

Masuk ke berbagai komunitas.

Bertemu guru-guru lain.

Dan semakin jauh berjalan, saya justru semakin sadar bahwa ilmu saya masih sedikit.

Ternyata dunia pendidikan begitu luas.

Dan semakin banyak kita belajar, semakin kita tahu bahwa masih banyak yang belum kita ketahui.

Itulah yang kemudian membawa saya terus berjalan.

Sampai pada perjalanan di Wardah Inspiring Teacher Gen 8.

Bagi saya, WIT Gen 8 bukan sekadar tentang sertifikat.

Bukan sekadar tentang menyelesaikan modul.

Bukan sekadar tentang mendapatkan pengalaman baru.

Tetapi tentang bertemu dengan manusia-manusia yang sama-sama sedang berjalan.

Sama-sama belajar.

Sama-sama mencoba.

Sama-sama ingin memberikan sesuatu yang lebih baik dari kelasnya masing-masing.

Ada yang datang membawa cerita.

Ada yang datang membawa kegelisahan.

Ada yang datang membawa ide.

Ada yang datang membawa luka dari perjalanan panjangnya sebagai guru.

Namun kita bertemu di satu tempat:

sama-sama ingin bertumbuh.


7 sertifikat ternyata bukan akhir.

Modul 1.

Modul 2.

Hour of Code.

Penjelajah Makna.

Penenun Aksi.

Pemantik Inspirasi.

Hingga Graduation.

Tujuh sertifikat itu memang bisa menjadi bukti bahwa sebuah perjalanan pernah dilalui.

Tetapi bagi saya, yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah sertifikat itu selesai.

Sebab pendidikan tidak berubah hanya karena kita mendapatkan sertifikat.

Kelas tidak otomatis menjadi lebih baik hanya karena kita selesai mengikuti pelatihan.

Perubahan baru terjadi ketika apa yang kita pelajari benar-benar kita bawa pulang.

Masuk ke kelas.

Masuk ke ruang guru.

Masuk ke komunitas.

Masuk ke percakapan.

Dan akhirnya…

menjadi tindakan.


Dari kelas untuk kehidupan.

Mungkin inilah bagian yang paling saya sukai dari perjalanan menjadi guru.

Kita tidak pernah tahu sejauh apa sebuah kebaikan akan berjalan.

Satu media pembelajaran yang kita buat hari ini mungkin menginspirasi guru lain.

Satu tulisan yang kita bagikan mungkin membuat seseorang kembali percaya pada mimpinya.

Satu ide sederhana mungkin dikembangkan orang lain menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Satu kalimat yang kita ucapkan kepada murid mungkin mereka ingat sampai dewasa.

Begitu juga dengan persahabatan.

Kadang kita tidak sadar bahwa kehadiran kita menjadi cahaya bagi seseorang.

Padahal kita merasa diri kita biasa saja.

Kita hanya menemani.

Kita hanya mendengarkan.

Kita hanya berkata:

“Ayo, kita coba lagi.”

Tetapi bagi seseorang yang hampir menyerah…

kalimat itu bisa menjadi alasan untuk melangkah satu kali lagi.


Jadi, kalau suatu hari terang itu habis…

Jangan langsung menyerah.

Berjalanlah.

Kalau lelah, istirahat.

Kalau tersesat, bertanya.

Kalau jatuh, bangun.

Kalau gagal, belajar.

Kalau cahaya padam…

nyalakan lilin kecil.

Tidak perlu menunggu menjadi matahari untuk memberikan manfaat.

Jadilah cahaya sekecil apa pun yang kita mampu.

Karena mungkin cahaya kecil kita adalah harapan bagi seseorang.

Dan mungkin…

di perjalanan yang panjang itu, kita akan bertemu dengan orang-orang yang satu frekuensi.

Orang-orang yang tidak sibuk bertanya,

“Sudah sampai mana?”

Tetapi justru berkata,

“Masih kuat?”

Lalu ketika kita menjawab,

“Sedikit lelah.”

Ia tersenyum dan berkata:

“Ya sudah. Istirahat sebentar. Setelah itu… ayo, kita jalan lagi.”


Saya tidak tahu akan sampai di mana perjalanan ini.

Masih banyak mimpi yang belum selesai.

Masih banyak buku yang belum ditulis.

Masih banyak kelas yang ingin saya beri pengalaman baru.

Masih banyak guru yang ingin saya temui.

Masih banyak hal yang ingin saya pelajari.

Dan mungkin masih banyak perjalanan yang akan membuat saya lelah.

Tetapi saya ingin terus berjalan.

Sebagai guru.

Sebagai pembelajar.

Sebagai penulis.

Sebagai manusia yang masih ingin bermanfaat.

Sebab kita tidak pernah tahu kapan perjalanan ini benar-benar selesai.

Suatu hari nanti, kaki ini mungkin tidak lagi sanggup melangkah.

Tangan mungkin tidak lagi mampu berkarya.

Suara mungkin tidak lagi mampu bercerita.

Dan pada akhirnya…

kita semua akan sampai pada satu titik yang tidak bisa kita hindari:

berhenti.

Maka sebelum sampai ke sana…

mari kita gunakan langkah yang masih ada.

Untuk belajar.

Untuk bergerak.

Untuk berbagi.

Untuk menyalakan cahaya.

Untuk menjadi sedikit harapan bagi orang lain.

Dan untuk menjaga satu sama lain tetap berjalan.

Sebab mungkin tujuan terbesar dari sebuah perjalanan bukanlah seberapa cepat kita sampai.

Tetapi…

berapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan sepanjang perjalanan.

Jadi, kalau hari ini terasa gelap…

kalau langkah mulai berat…

kalau cahaya terasa habis…

tidak apa-apa.

Ambil napas.

Pegang tangan sahabatmu.

Nyalakan lilin kecilmu.

Lalu katakan:

“Walau habis terang… kita tetap jalan.”

Dan kalau suatu hari nanti kita kembali lelah…

saya berharap masih ada seseorang di samping kita yang tersenyum dan berkata:

“AYO, KITA JALAN LAGI.”

Karena mungkin…

perjalanan yang paling indah bukanlah perjalanan yang selalu terang, tetapi perjalanan ketika kita belajar menjadi cahaya satu sama lain.

— Abdulloh Aup
Guru yang masih belajar berjalan, karena masih jadi guru yang biasa saja"

Komentar

Postingan Populer