Sanjung yang Membuat Tersandung




Prolog

Angin berdesir membawa aroma tanah basah, seperti kenangan yang enggan terhapus.

Kita seringkali terbuai oleh kata-kata manis yang melambungkan raga tinggi ke angkasa.

Namun, di balik langit yang cerah, selalu ada bumi yang siap menguji pijakan.

Cahaya hadir di sini, merajut resah malam yang menjadi bait-bait yang menguatkan jiwa.

Mari kita bicara tentang hati yang lelah, namun menolak untuk menyerah pada keadaan.

​Sanjung yang Membuat Tersandung: Menemukan Langkah Baru di Jalan yang Panjang

​Sanjungan terkadang menyerupai kabut indah di pagi hari; ia memanjakan mata, namun menyembunyikan batu tajam di bawah kaki. Kita seringkali terbuai, berjalan membusungkan dada, hingga lupa bahwa sanjung terkadang justru membuat kita mudah untuk tersandung.

​Hidup ini tak ubahnya jalan setapak yang sempit. Ia tak selalu rata, tak selalu mudah untuk sekadar beranjak, apalagi untuk berteriak. Ada kalanya, diamnya kita bukan karena tenang, melainkan tanda bahwa kita sudah tak bisa lagi menahan, bahkan bertahan dalam keadaan yang mungkin dianggap dunia sebagai titik paling suram.

​Melepas Beban, Memeluk Luka

​Ketika pundakmu terasa begitu berat, ada sebuah keberanian yang sering kita lupakan: Keberanian untuk melepaskan.

  • Buang yang Memberatkan: Saat semua terasa sesak, mulailah angkat beban itu perlahan, lalu buang! Tak perlu memaksakan diri memikul apa yang memang bukan milikmu.
  • Kebaikan yang Menyakitkan: Terkadang, kebaikan yang kita tanam berbalik menyakiti diri sendiri. Itulah ujian bagi ketulusan. Biarlah ia melukai sesaat, namun jangan biarkan ia mematikan rasa kemanusiaanmu.
  • Tetaplah di Jalan Itu: Jika kakimu masih gemetar, berhentilah sejenak. Tetaplah di jalan itu, nikmati luka dan lelahnya, kemudian lanjutkan kembali dengan ayunan langkah yang perlahan.

​Akhir yang Bersemi di Ujung Sunyi

​Jangan takut memulai langkah yang baru. Mungkin langkah ini tak nampak indah di mata penonton. Mungkin ia terlihat tertatih dan sunyi. Namun ingatlah, langkah yang dimulai tanpa keindahan palsu, seringkali justru berujung pada keindahan yang abadi.

​Percayalah pada hukum semesta yang paling sederhana: Di ujung sana, akan selalu ada hal baik yang menanti, jika engkau tetap memilih untuk menjadi orang baik. Luka ini hanya sementara, namun karaktermu yang tangguh akan tinggal selamanya.

​Tetaplah semangat. Cahaya itu tidak pernah benar-benar padam, ia hanya sedang menunggu matamu terbiasa dengan remang, sebelum akhirnya menunjukkan jalan pulang yang benderang.

Endgame

Langkah mungkin melambat, namun arah tak boleh berkhianat.

Meski jalan setapak terasa kian berat, Tuhan takkan membiarkanmu tersesat.

Buanglah resahmu ke palung terdalam, biarkan damai menyelimuti malam.

Sebab orang baik akan selalu menemukan rumah, setelah perjalanan panjang yang melelahkan.

Oleh: Abdulloh Aup






Komentar

Postingan Populer