Sawit, Hutan, dan Cara Kita Berpikir
Sawit, Hutan, dan Cara Kita Berpikir: Catatan Seorang Guru Biologi yang Masih Terus Belajar
"Semakin lama saya belajar sains, semakin saya menyadari bahwa alam tidak pernah sesederhana yang diperdebatkan manusia."
Beberapa hari terakhir, ruang media sosial dipenuhi perdebatan mengenai kelapa sawit, hutan, dan deforestasi. Ada yang berargumen bahwa sawit memiliki daun, melakukan fotosintesis, dan menghasilkan oksigen sehingga tidak perlu terlalu mengkhawatirkan pembukaan hutan. Di sisi lain, para ilmuwan lingkungan menjelaskan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks daripada sekadar ada atau tidaknya daun.
Sebagai seorang guru, saya tidak ingin ikut memperpanjang perdebatan yang hanya berakhir pada saling menyalahkan.
Saya justru ingin mengajak kita semua kembali kepada sesuatu yang semakin langka di era media sosial: literasi.
Saya Berasal dari Pendidikan Biologi
Saya menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Biologi dengan keyakinan bahwa alam adalah laboratorium terbesar yang pernah Allah ciptakan.
Setelah lulus, sejak tahun 2011 saya mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di sekolah menengah pertama. Hingga hari ini, ruang kelas masih menjadi tempat saya belajar sekaligus mengajar.
Saya selalu percaya bahwa guru IPA bukan hanya menyampaikan rumus, nama ilmiah, atau klasifikasi makhluk hidup.
Guru IPA seharusnya membantu peserta didik memahami cara kerja alam sekaligus cara berpikir ilmiah.
Karena sesungguhnya, ilmu pengetahuan bukan kumpulan jawaban.
Ilmu pengetahuan adalah proses menemukan jawaban.
Mengapa Saya Mendirikan Science Expedition Learning?
Tahun 2015, saya bersama para siswa membangun Science Expedition Learning (SEL).
Kami tidak ingin sains hanya berhenti di dalam buku paket.
Kami ingin anak-anak menyentuh tanah.
Mengamati burung.
Mengidentifikasi tumbuhan.
Mengenali serangga.
Mengukur kualitas air.
Menanam pohon.
Membersihkan lingkungan.
Karena mencintai lingkungan tidak lahir dari ceramah.
Ia tumbuh dari pengalaman.
Ketika seorang anak melihat kupu-kupu hinggap di bunga yang ia tanam sendiri, saat itulah pendidikan lingkungan benar-benar dimulai.
Sawit Bukan Musuh
Saya sering melihat media sosial bekerja dengan cara yang sangat sederhana.
Jika seseorang mengkritik dampak lingkungan perkebunan sawit, seolah-olah ia membenci sawit.
Padahal tidak demikian.
Sawit adalah komoditas yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia.
Jutaan masyarakat menggantungkan hidupnya pada sektor ini.
Bahkan berbagai produk yang kita gunakan setiap hari mengandung turunan minyak sawit.
Namun sebagai guru biologi, saya juga memahami bahwa nilai ekonomi tidak menghapus fakta-fakta ekologi.
Keduanya dapat berjalan berdampingan apabila kita mau melihat persoalan secara utuh.
Ketika Biologi Menjelaskan
Secara botani, kelapa sawit (Elaeis guineensis) merupakan tumbuhan monokotil dari famili Arecaceae (palem-paleman).
Ia memiliki daun.
Ia melakukan fotosintesis.
Ia menghasilkan oksigen.
Semua itu benar.
Namun sawit juga tidak memiliki kambium pembuluh sebagaimana pohon-pohon dikotil seperti jati, mahoni, atau beringin. Batangnya tidak membentuk kayu sejati melalui pertumbuhan sekunder.
Apakah ini berarti sawit tidak berguna?
Tentu tidak.
Justru ini menunjukkan bahwa dalam sains, setiap organisme memiliki karakteristiknya sendiri.
Yang menjadi persoalan bukanlah apakah sawit memiliki daun.
Persoalannya adalah ketika kita menyamakan fungsi ekologis perkebunan sawit monokultur dengan hutan alami.
Padahal keduanya merupakan sistem yang sangat berbeda.
Hutan Tidak Hanya Berdiri karena Pohon
Semakin sering saya mendampingi siswa belajar di alam, semakin saya memahami bahwa hutan bukan sekadar kumpulan batang dan daun.
Hutan adalah rumah.
Rumah bagi burung.
Rumah bagi serangga.
Rumah bagi jamur.
Rumah bagi mamalia.
Rumah bagi ribuan spesies yang mungkin belum pernah kita kenal namanya.
Di dalam hutan, akar berbagai jenis tumbuhan saling menopang tanah.
Kanopi pepohonan mengatur intensitas cahaya.
Lapisan serasah menyimpan air.
Mikroorganisme menguraikan bahan organik.
Semuanya bekerja dalam keseimbangan yang luar biasa.
Ketika hutan berubah menjadi kebun monokultur, tentu sebagian fungsi tersebut ikut berubah.
Inilah yang dijelaskan oleh banyak ahli ekologi.
Bukan karena mereka membenci sawit.
Melainkan karena mereka memahami bagaimana sebuah ekosistem bekerja.
Salah Nalar yang Perlu Kita Hindari
Selama mengajar IPA, saya sering menemukan satu pola yang sama.
Anak-anak sebenarnya cerdas.
Namun mereka sering tergesa-gesa menarik kesimpulan.
Misalnya:
Sawit punya daun.
Sawit menghasilkan oksigen.
Maka sawit sama dengan hutan.
Di sinilah letak pentingnya berpikir ilmiah.
Dalam logika, kesimpulan harus dibangun dari keseluruhan bukti, bukan hanya satu fakta yang berdiri sendiri.
Sains mengajarkan kita untuk mempertimbangkan konteks, membandingkan data, dan bersedia mengoreksi pemahaman ketika ditemukan bukti yang lebih lengkap.
Kini Saya Belajar Lagi
Hari ini saya kembali menjadi mahasiswa.
Saya sedang menempuh Program Doktor (S3) Pendidikan.
Banyak yang bertanya, mengapa setelah belasan tahun mengajar saya masih memilih duduk di bangku kuliah?
Jawaban saya sederhana.
Karena guru yang berhenti belajar, perlahan akan berhenti menginspirasi.
Semakin tinggi jenjang pendidikan yang saya tempuh, semakin saya menyadari bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang.
Tidak ada ruang bagi kesombongan intelektual.
Yang ada hanyalah kerendahan hati untuk terus belajar.
Literasi Adalah Cara Kita Merawat Masa Depan
Saya tidak berharap semua orang memiliki latar belakang biologi.
Saya juga tidak berharap semua orang sepakat dengan pandangan yang sama.
Yang saya harapkan hanyalah satu.
Mari kita biasakan membaca sebelum menyimpulkan.
Mari kita memeriksa sumber sebelum membagikan informasi.
Mari kita mendengarkan para ahli tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Karena masa depan lingkungan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pohon yang kita tanam.
Ia juga ditentukan oleh kualitas cara berpikir generasi yang sedang kita didik hari ini.
Dan sebagai guru IPA, sebagai Pamong Science Expedition Learning (SEL), sebagai penggerak cinta lingkungan, dan kini sebagai mahasiswa doktoral pendidikan, saya semakin yakin bahwa investasi terbesar untuk bumi bukan hanya penghijauan.
Melainkan membangun masyarakat yang berliterasi, berpikir ilmiah, dan tetap rendah hati di hadapan ilmu pengetahuan.
"Semakin saya mempelajari alam, semakin saya memahami bahwa ilmu pengetahuan bukan alat untuk memenangkan perdebatan, melainkan jalan untuk menemukan kebenaran dengan kerendahan hati."
— Abdulloh Aup

Komentar
Posting Komentar