Sepiring Makanan atau Seorang Guru
Sepiring Makanan atau Seorang Guru? Pertanyaan yang Akan Menentukan Masa Depan Pendidikan Indonesia
"Peradaban tidak dibangun oleh program yang paling populer, melainkan oleh keberanian menentukan prioritas yang paling mendasar."
Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya sebagai seorang guru.
Apakah pendidikan dimulai dari sepiring makanan atau dari seorang guru?
Sebagian orang mungkin akan menjawab, "Keduanya."
Saya pun sepakat.
Anak yang lapar akan sulit berkonsentrasi. Gizi yang baik merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang fisik dan perkembangan kognitif peserta didik. Tidak ada pendidik yang menginginkan muridnya belajar dalam keadaan kekurangan gizi.
Namun, pertanyaan berikutnya jauh lebih penting.
Apakah memberikan makanan bergizi saja sudah cukup untuk memenuhi amanat konstitusi: mencerdaskan kehidupan bangsa?
Saya kira jawabannya belum.
Sebab pendidikan tidak pernah dibangun hanya dengan memenuhi kebutuhan biologis manusia. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Ia membutuhkan guru yang hadir, sekolah yang layak, lingkungan belajar yang aman, ilmu pengetahuan yang berkembang, dan ekosistem yang memungkinkan setiap anak bertumbuh secara utuh.
Belakangan ini pemerintah kembali menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan tetap dilanjutkan meskipun masih menyimpan berbagai kekurangan dan sedang menjalani proses pembenahan.
Saya menghargai niat baik tersebut.
Tetapi sebagai seorang guru, saya merasa berkewajiban mengajukan satu pertanyaan yang lebih mendasar.
Apakah investasi terbesar pendidikan hari ini benar-benar telah menyentuh akar persoalannya?
Di berbagai pelosok negeri, kita masih menemukan ruang kelas yang hampir roboh.
Masih ada sekolah yang rusak akibat bencana dan belum sepenuhnya dipulihkan.
Masih ada anak-anak yang belajar tanpa laboratorium, tanpa perpustakaan yang memadai, bahkan tanpa sanitasi yang layak.
Di banyak daerah terpencil, distribusi guru belum merata. Rasio kebutuhan guru dengan jumlah guru yang tersedia masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang. Sementara itu, ribuan guru honorer tetap mengabdi dengan penuh dedikasi meski hidup dalam ketidakpastian.
Sebagai guru, saya tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan itu.
Saya membayangkan seorang anak yang menerima makanan bergizi setiap hari.
Tetapi ia belajar di ruang kelas yang atapnya bocor.
Ia tidak memiliki guru mata pelajaran karena sekolah kekurangan tenaga pendidik.
Laboratoriumnya kosong.
Perpustakaannya hanya menyimpan buku-buku usang.
Apakah kita dapat mengatakan bahwa hak pendidikannya telah terpenuhi?
Di sinilah saya melihat perlunya keberanian untuk membaca pendidikan secara lebih utuh.
Pendidikan bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan fisik peserta didik.
Pendidikan adalah investasi peradaban.
Dan setiap investasi selalu menuntut keberanian menentukan prioritas.
Dalam filsafat pendidikan, manusia dipahami bukan hanya sebagai makhluk biologis, tetapi juga makhluk intelektual, sosial, moral, dan spiritual. Karena itu, negara tidak cukup hanya memastikan anak-anak tumbuh sehat. Negara juga berkewajiban memastikan mereka memperoleh guru yang berkualitas, sekolah yang aman, fasilitas belajar yang memadai, dan kesempatan yang adil untuk berkembang.
Bagi saya, seorang guru bukan sekadar tenaga kerja.
Guru adalah infrastruktur peradaban.
Gedung sekolah bukan sekadar bangunan.
Ia adalah ruang tempat masa depan bangsa dibentuk.
Laboratorium bukan sekadar ruangan.
Ia adalah tempat lahirnya rasa ingin tahu.
Perpustakaan bukan sekadar rak buku.
Ia adalah rumah bagi peradaban ilmu.
Karena itu, saya berpendapat bahwa investasi terbesar pendidikan seharusnya dimulai dari memperkuat fondasi-fondasi tersebut.
Mengangkat guru honorer yang telah lama mengabdi.
Mempercepat rehabilitasi sekolah-sekolah yang rusak, termasuk di wilayah yang terdampak bencana seperti Aceh dan daerah-daerah lain yang masih menunggu perhatian.
Membangun fasilitas pendidikan yang layak hingga ke pelosok negeri.
Memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan kesempatan belajar hanya karena tempat tinggalnya jauh dari pusat pembangunan.
Saya tidak sedang mempertentangkan makanan bergizi dengan pendidikan.
Keduanya sama-sama penting.
Namun ketika sumber daya negara terbatas, keberanian menentukan prioritas menjadi sangat menentukan arah masa depan bangsa.
Karena sejarah membuktikan, tidak ada bangsa yang menjadi besar hanya karena rakyatnya kenyang.
Bangsa menjadi besar karena rakyatnya terdidik.
Karena gurunya dimuliakan.
Karena sekolahnya menjadi pusat lahirnya ilmu pengetahuan.
Karena negara memandang pendidikan bukan sebagai proyek lima tahunan, melainkan sebagai investasi lintas generasi.
Sebagai seorang guru, saya percaya bahwa anak-anak Indonesia berhak memperoleh keduanya.
Mereka berhak mendapatkan makanan yang bergizi.
Tetapi mereka juga berhak belajar di sekolah yang bermartabat.
Mereka berhak diajar oleh guru yang sejahtera.
Mereka berhak tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang benar-benar mempersiapkan mereka menjadi generasi yang mampu membawa Indonesia menuju masa depan.
Sebab pada akhirnya, amanat konstitusi tidak berbunyi "memberi makan kehidupan bangsa."
Yang tertulis dengan sangat jelas adalah "mencerdaskan kehidupan bangsa."
Dan mencerdaskan kehidupan bangsa hanya dapat diwujudkan ketika setiap kebijakan pendidikan berani menempatkan manusia, guru, dan sekolah sebagai fondasi utama pembangunan peradaban.
"Sepiring makanan dapat mengenyangkan seorang anak untuk satu hari. Namun seorang guru yang bermartabat, sekolah yang layak, dan pendidikan yang berkualitas mampu mengenyangkan peradaban selama bergenerasi. Di situlah sesungguhnya investasi terbesar sebuah bangsa."
— Abdulloh, S.Pd., M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan | Duta Canva Indonesia | Penggerak Literasi

Komentar
Posting Komentar