Membaca Sejarah dengan Utuh




Membaca Sejarah dengan Utuh: Benjamin Thomas Sigar, "Londo Ireng", dan Pentingnya Literasi Sejarah

Belakangan ini, ruang digital kembali memperlihatkan betapa cepatnya sejarah dapat menjadi bahan perdebatan. Sebuah nama yang selama bertahun-tahun nyaris tidak pernah dibicarakan publik, tiba-tiba menjadi perbincangan nasional setelah dikaitkan dengan silsilah Presiden Prabowo Subianto.

Nama itu adalah Benjamin Thomas Sigar.

Berbagai unggahan di media sosial mulai bermunculan. Ada yang menyebut beliau sebagai tokoh sejarah dari Minahasa yang pernah menjadi Kapiten Pasukan Tulungan (Hulptroepen) pada masa Perang Jawa (1825–1830). Ada pula yang mengaitkannya dengan istilah "londo ireng", bahkan berkembang hingga berbagai klaim mengenai hubungan sejarah tersebut dengan penangkapan Pangeran Diponegoro.

Di sinilah saya merasa kita perlu berhenti sejenak.

Bukan untuk menentukan siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi untuk bertanya satu hal yang jauh lebih penting.

Sudahkah kita membaca sejarah secara utuh?

Ketika Sejarah Dipotong Menjadi Potongan Konten

Media sosial memiliki satu kelebihan sekaligus kelemahan.

Ia mampu membuat sejarah kembali menarik untuk dibicarakan. Namun, ia juga sering menyederhanakan sejarah yang sebenarnya sangat kompleks menjadi video berdurasi satu menit atau gambar berisi beberapa kalimat.

Akibatnya, tokoh-tokoh sejarah sering kali hanya dikenalkan melalui satu label.

Padahal sejarah tidak pernah sesederhana itu.

Benjamin Thomas Sigar memang dikenal dalam sejumlah catatan sejarah sebagai tokoh Minahasa asal Langowan yang dipercaya memimpin Pasukan Tulungan (Hulptroepen), yaitu pasukan bantuan dari Minahasa yang membantu pemerintah kolonial Belanda pada masa Perang Jawa.

Itu adalah bagian dari fakta sejarah yang dapat ditelusuri melalui berbagai referensi.

Namun, ketika fakta tersebut berkembang menjadi berbagai kesimpulan mengenai keturunannya pada masa kini, kita memasuki wilayah yang membutuhkan kehati-hatian lebih besar.

Antara Fakta, Interpretasi, dan Opini

Literasi sejarah mengajarkan bahwa tidak semua informasi berada pada tingkatan yang sama.

Ada fakta yang didukung oleh dokumen sejarah.

Ada interpretasi yang lahir dari pembacaan para sejarawan terhadap fakta tersebut.

Ada pula opini yang berkembang di ruang publik.

Ketiganya tidak boleh diperlakukan seolah-olah memiliki bobot yang sama.

Istilah "londo ireng" sendiri merupakan istilah historis yang lahir dalam konteks sosial-politik tertentu pada masa kolonial. Penggunaannya memiliki latar sejarah yang kompleks dan tidak dapat secara otomatis dilekatkan kepada seseorang hanya karena memiliki hubungan genealogis dengan tokoh sejarah tertentu.

Karena itulah, sejumlah sejarawan mengingatkan agar masyarakat berhati-hati menggunakan istilah tersebut dalam konteks kekinian.

Mengapa Benjamin Thomas Sigar Baru Ramai Sekarang?

Pertanyaan ini justru menarik.

Mengapa nama yang selama bertahun-tahun hanya dikenal di lingkungan akademik atau pemerhati sejarah tiba-tiba menjadi perbincangan nasional?

Jawabannya mungkin sederhana.

Karena sejarah sering kali kembali dicari ketika bertemu dengan peristiwa politik masa kini.

Padahal, tokoh seperti Benjamin Thomas Sigar sesungguhnya layak dipelajari bukan karena dikaitkan dengan tokoh politik tertentu, melainkan karena ia merupakan bagian dari mosaik panjang sejarah Indonesia pada masa kolonial. Sejarah Nusantara dibentuk oleh beragam pilihan, kepentingan, dan dinamika sosial pada zamannya. Memahami tokoh-tokoh itu membutuhkan konteks, bukan sekadar label.

Yang Lebih Penting dari Perdebatan

Sebagai seorang guru, saya justru melihat fenomena ini sebagai kesempatan untuk mengajarkan sesuatu kepada peserta didik.

Bahwa membaca sejarah tidak cukup hanya melalui unggahan media sosial.

Bahwa satu sumber belum tentu cukup.

Bahwa viral bukan berarti benar.

Dan bahwa semakin besar sebuah isu, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk memeriksa sumbernya.

Masyarakat yang literat bukanlah masyarakat yang paling cepat menyebarkan informasi, tetapi masyarakat yang paling sabar mencari konteks sebelum membentuk kesimpulan.

Mungkin itulah pelajaran terbesar dari ramainya pembahasan tentang Benjamin Thomas Sigar.

Bukan sekadar mengenal siapa beliau.

Tetapi belajar bagaimana seharusnya kita memperlakukan sejarah.

Dengan rasa ingin tahu.

Dengan kerendahan hati.

Dan dengan kesadaran bahwa masa lalu sering kali jauh lebih kompleks daripada narasi singkat yang beredar di layar telepon genggam kita.

Pada akhirnya, sejarah bukanlah ruang untuk saling melabeli, melainkan ruang untuk belajar memahami perjalanan bangsa secara lebih utuh. Sebab bangsa yang besar tidak dibangun oleh ingatan yang pendek, melainkan oleh masyarakat yang mampu membaca masa lalu dengan jernih dan memetik hikmahnya untuk masa depan.

"Literasi sejarah bukan menghafal nama tokoh, melainkan memahami konteks zamannya. Sebab tanpa konteks, sejarah mudah berubah menjadi prasangka."
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja

Komentar

Postingan Populer