Ketika Mikrofon Menjadi Cermin

 


Ketika Mikrofon Menjadi Cermin: Catatan Kecil tentang Cara Kita Mendengar dan Menilai

Ada kalanya saya lebih tertarik mengamati reaksi masyarakat daripada peristiwa itu sendiri.

Belakangan, media sosial diramaikan oleh berbagai unggahan bernada satir yang menyebut, "Sekarang baru paham kenapa orang-orang gak suka kalau dia megang mic." Kalimat itu beredar bersama potongan gambar, video, hingga berbagai komentar yang mengundang tawa, kritik, maupun perdebatan.

Saya kemudian berpikir, sebenarnya yang sedang kita bicarakan ini tentang apa?

Apakah tentang seseorang yang sedang berbicara? Tentang gaya komunikasinya? Tentang isi pesannya? Atau justru tentang cara kita sebagai masyarakat menyikapi setiap ucapan seorang tokoh publik?

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa saya pada satu kesimpulan sederhana. Terkadang, mikrofon bukan hanya alat untuk memperkeras suara. Mikrofon juga menjadi cermin yang memperlihatkan bagaimana komunikasi dapat diterima dengan sangat berbeda oleh setiap orang.

Ada yang mendengar lalu memahami.

Ada yang mendengar lalu tertawa.

Ada yang mendengar lalu tersinggung.

Ada pula yang langsung mengambil kesimpulan tanpa berusaha memahami konteksnya.

Di era media sosial, satu kalimat dapat dipotong menjadi video berdurasi belasan detik. Potongan itu kemudian berkeliling dari satu gawai ke gawai lain, sering kali tanpa latar belakang yang utuh. Akibatnya, publik tidak selalu menilai berdasarkan keseluruhan pesan, melainkan berdasarkan potongan yang paling menarik perhatian.

Fenomena ini sebenarnya tidak hanya terjadi pada satu tokoh. Siapa pun yang berada di ruang publik akan menghadapi tantangan yang sama. Semakin besar perhatian masyarakat, semakin besar pula peluang setiap kata dipuji, dikritik, dipelintir, atau bahkan dijadikan bahan lelucon.

Sebagai seorang guru, saya justru melihat peristiwa seperti ini sebagai bahan belajar yang menarik.

Di kelas, saya sering mengatakan kepada peserta didik bahwa komunikasi bukan hanya soal berbicara dengan baik. Komunikasi juga tentang memilih kata yang tepat, memahami situasi, membaca audiens, dan menyadari bahwa setiap kalimat memiliki konsekuensi.

Namun, pelajaran itu juga berlaku bagi pendengar.

Mendengar adalah keterampilan yang sering dianggap sederhana, padahal tidak demikian. Mendengar membutuhkan kesabaran untuk memahami konteks, membedakan fakta dari opini, serta menahan diri agar tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu hanya karena melihat cuplikan beberapa detik.

Mungkin itulah tantangan terbesar kehidupan digital hari ini.

Kita hidup di zaman ketika informasi bergerak lebih cepat daripada proses berpikir.

Lebih mudah memberikan komentar daripada membaca penjelasan lengkap.

Lebih mudah membagikan potongan video daripada mencari sumber aslinya.

Padahal, sering kali pemahaman lahir bukan dari apa yang paling viral, tetapi dari keberanian meluangkan waktu untuk melihat persoalan secara utuh.

Pada akhirnya, saya tidak sedang mengajak siapa pun untuk setuju atau tidak setuju terhadap tokoh tertentu. Saya hanya percaya bahwa ruang publik akan menjadi lebih sehat apabila kita mampu memisahkan kritik dari kebencian, candaan dari fitnah, dan fakta dari sekadar persepsi.

Karena setiap orang boleh berbicara.

Setiap orang juga boleh mengkritik.

Namun, kualitas sebuah masyarakat tidak hanya diukur dari seberapa keras suara yang terdengar, melainkan dari seberapa dewasa cara mereka mendengar.

"Di era digital, mikrofon memperbesar suara. Tetapi hanya literasi yang mampu memperbesar pemahaman."
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja

Komentar

Postingan Populer