GURU DIPERLAKUKAN SEPERTI PELIHARAAN
SEKOLAH AKAN BOBROK JIKA GURU DIPERLAKUKAN SEPERTI PELIHARAAN
Ketika loyalitas berubah menjadi budaya menjilat, dan pendidikan kehilangan keberaniannya untuk berkata benar.
Ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada guru yang tidak kompeten.
Yaitu guru yang sebenarnya kompeten, tetapi perlahan belajar bahwa untuk bertahan hidup di sekolah, ia tidak perlu terlalu pintar. Ia hanya perlu pandai membaca keinginan atasannya.
Di sinilah sebuah sekolah mulai kehilangan ruhnya.
Bukan ketika cat temboknya mengelupas.
Bukan ketika administrasinya berantakan.
Bukan pula ketika nilai akademiknya menurun.
Sekolah mulai bobrok ketika kejujuran dianggap mengganggu, kritik dianggap pembangkangan, dan kepatuhan kepada kepala sekolah lebih dihargai daripada keberpihakan kepada kebenaran.
Dan pada titik itu, lahirlah budaya yang sangat berbahaya:
guru tidak lagi berlomba menjadi profesional. Mereka berlomba menjadi yang paling disukai.
GURU BUKAN PELIHARAAN
Kalimat ini mungkin terdengar keras.
Tetapi mari kita pikirkan pelan-pelan.
Guru bukan bawahan yang tugasnya sekadar mengatakan “siap”.
Guru bukan pelengkap struktur organisasi.
Guru bukan penghias ruang guru.
Guru bukan sekadar pelaksana semua instruksi tanpa hak untuk bertanya.
Dan yang lebih penting:
guru bukan peliharaan yang harus selalu mengibaskan ekor setiap kali pemiliknya datang.
Guru adalah manusia profesional.
Ia memiliki ilmu.
Ia memiliki pengalaman.
Ia memiliki pertimbangan pedagogis.
Ia memiliki suara.
Ia memiliki nurani.
Dan dalam menjalankan tugas pendidikan, ia seharusnya diberi ruang untuk berpikir.
Karena sekolah bukan kandang kepatuhan.
Sekolah adalah ruang pertumbuhan.
Termasuk ruang pertumbuhan bagi gurunya.
KETIKA KEPALA SEKOLAH TERLALU SENANG DIPUJI
Ada tipe kepemimpinan yang sangat berbahaya.
Bukan kepala sekolah yang keras.
Bukan pula kepala sekolah yang banyak menuntut.
Tetapi kepala sekolah yang terlalu menikmati pujian.
Ia mulai nyaman ketika semua orang mengatakan:
“Bapak memang hebat.”
“Ibu memang luar biasa.”
“Semua keputusan Bapak pasti benar.”
“Kami ikut saja.”
Pada awalnya mungkin terasa menyenangkan.
Siapa yang tidak suka dihargai?
Tetapi pemimpin yang terlalu terbiasa dipuji bisa kehilangan satu hal yang sangat penting:
kemampuan mendengar sesuatu yang tidak ingin ia dengar.
Padahal pemimpin justru membutuhkan orang-orang yang berani berkata:
“Menurut saya, cara ini kurang tepat.”
“Data di lapangan menunjukkan hal yang berbeda.”
“Guru kesulitan menjalankannya.”
“Anak-anak belum siap.”
“Mungkin keputusan ini perlu kita evaluasi.”
Kalimat-kalimat seperti itu seharusnya tidak dianggap sebagai serangan.
Itulah suara organisasi yang masih hidup.
ORGANISASI YANG SEHAT MEMBUTUHKAN ORANG YANG BERANI BERBEDA
Bayangkan sebuah sekolah yang seluruh gurunya selalu sepakat dengan kepala sekolah.
Tidak pernah ada kritik.
Tidak pernah ada pertanyaan.
Tidak pernah ada perbedaan pendapat.
Semua rapat selalu menghasilkan:
“Setuju.”
“Siap.”
“Baik, Pak.”
“Laksanakan.”
Apakah itu berarti sekolah tersebut sangat kompak?
Belum tentu.
Bisa jadi justru sebaliknya.
Mungkin mereka sudah belajar bahwa berbeda pendapat memiliki harga yang terlalu mahal.
Maka mereka memilih diam.
Bukan karena setuju.
Tetapi karena takut.
Dan ketika ketakutan mulai menggantikan kejujuran, organisasi perlahan kehilangan kemampuan untuk memperbaiki dirinya sendiri.
DARI TAKUT LAHIRLAH PENJILAT
Ini bagian yang mungkin tidak nyaman untuk dibicarakan.
Tetapi budaya menjilat tidak selalu lahir karena semua orang buruk.
Kadang ia lahir karena sistem memberi penghargaan kepada perilaku tersebut.
Ketika guru yang kritis justru dianggap sulit.
Ketika guru yang patuh tanpa bertanya lebih sering diberi perhatian.
Ketika orang yang dekat dengan pimpinan memperoleh akses lebih besar.
Ketika pujian lebih dihargai daripada prestasi.
Ketika loyalitas pribadi lebih penting daripada integritas profesional.
Maka organisasi secara tidak sadar sedang mengajarkan sebuah pelajaran:
“Kalau ingin aman, jangan terlalu jujur.”
“Kalau ingin diperhatikan, dekatilah pimpinan.”
“Kalau ingin mendapatkan sesuatu, belajarlah menyenangkan atasan.”
Dan perlahan...
kompetensi kalah oleh kedekatan.
YANG PALING MENYEDIHKAN: GURU BISA BELAJAR MENJILAT
Awalnya mungkin ia tidak ingin.
Ia hanya ingin bekerja.
Tetapi kemudian ia melihat.
Guru A mendapat perhatian karena selalu memuji.
Guru B lebih sering diajak dalam kegiatan karena selalu berkata iya.
Guru C yang menyampaikan kritik justru dianggap tidak loyal.
Guru D yang bekerja dalam diam tidak terlalu terlihat.
Lalu seorang guru muda mengamati semuanya.
Ia belajar.
Bukan dari buku.
Bukan dari pelatihan.
Bukan dari kurikulum.
Tetapi dari budaya organisasi.
Ia menyimpulkan:
“Oh, ternyata begini cara bertahan.”
Dan sejak saat itu, ia mulai belajar seni baru.
Bukan seni mengajar.
Bukan seni mendidik.
Tetapi:
seni membaca arah angin kekuasaan.
DARI GURU PROFESIONAL MENJADI GURU POLITIK
Di sinilah kerusakannya mulai dalam.
Guru yang seharusnya sibuk memikirkan:
Bagaimana murid saya belajar?
berubah menjadi:
Bagaimana kepala sekolah melihat saya?
Guru yang seharusnya bertanya:
Apa yang terbaik untuk peserta didik?
mulai bertanya:
Apa yang paling disukai pimpinan?
Guru yang seharusnya mengevaluasi pembelajaran mulai sibuk mengevaluasi ekspresi wajah atasannya.
Apakah kepala sekolah senang?
Apakah kepala sekolah tersinggung?
Apakah keputusan saya aman?
Apakah saya terlalu kritis?
Apakah saya akan dianggap tidak loyal?
Pendidikan akhirnya berubah menjadi permainan membaca kekuasaan.
Dan itu sangat berbahaya.
KARENA GURU YANG TAKUT BERKATA BENAR AKAN MELAHIRKAN MURID YANG TAKUT BERPIKIR
Ini yang sering kita lupakan.
Budaya sekolah tidak berhenti di ruang guru.
Ia masuk ke kelas.
Guru yang terbiasa takut kepada atasan bisa tanpa sadar mengajarkan ketakutan yang sama kepada murid.
Murid bertanya:
“Bolehkah saya berbeda pendapat?”
Guru menjawab:
“Jangan banyak bertanya.”
Murid menyampaikan kritik:
“Ikuti saja.”
Murid memiliki gagasan baru:
“Jangan macam-macam.”
Lama-lama kita menciptakan generasi yang sangat patuh.
Tetapi tidak kritis.
Sangat tertib.
Tetapi tidak berani berpikir.
Sangat pintar menjawab soal.
Tetapi takut mempertanyakan sesuatu yang salah.
Bukankah itu bertentangan dengan tujuan pendidikan?
SEKOLAH SEHARUSNYA MENJADI TEMPAT ORANG BELAJAR BERPIKIR
Kita ingin murid memiliki critical thinking.
Tetapi apakah gurunya boleh berpikir kritis?
Kita ingin murid berani menyampaikan pendapat.
Tetapi apakah guru boleh berbeda pendapat dengan kepala sekolah?
Kita ingin murid menjadi kreatif.
Tetapi apakah guru diberi ruang untuk mencoba sesuatu yang berbeda?
Kita ingin murid menjadi manusia merdeka.
Tetapi apakah guru merasa aman untuk mengatakan:
“Saya tidak setuju.”
Pertanyaan-pertanyaan ini penting.
Karena pendidikan tidak hanya diajarkan melalui materi.
Pendidikan juga diajarkan melalui budaya.
PEMIMPIN YANG BAIK TIDAK MEMBUTUHKAN PENJILAT
Ia membutuhkan cermin.
Cermin tidak selalu membuat wajah kita terlihat indah.
Kadang ia menunjukkan jerawat.
Menunjukkan mata yang lelah.
Menunjukkan noda yang tidak kita sadari.
Tetapi justru karena itulah cermin berguna.
Begitu pula seorang pemimpin.
Ia tidak membutuhkan orang yang selalu berkata:
“Bapak benar.”
Ia membutuhkan orang yang berani berkata:
“Pak, mungkin ada yang perlu diperbaiki.”
Dan ketika mendengar itu, pemimpin tidak langsung marah.
Ia bertanya:
“Bagian mana yang menurutmu perlu saya perbaiki?”
Itulah tanda kepemimpinan yang matang.
PEMIMPIN BESAR TIDAK TAKUT PADA GURU YANG PINTAR
Justru ia mencarinya.
Karena pemimpin yang percaya diri tidak merasa terancam oleh bawahan yang cerdas.
Ia tidak takut ketika ada guru yang lebih ahli teknologi.
Tidak takut ketika ada guru yang lebih memahami metode tertentu.
Tidak takut ketika ada guru yang memiliki gagasan yang lebih baik.
Ia justru berkata:
“Bagaimana kita bisa menggunakan kemampuanmu untuk membuat sekolah ini lebih baik?”
Itulah kepemimpinan.
Bukan mengecilkan orang lain agar diri sendiri terlihat besar.
Tetapi membesarkan orang lain tanpa merasa dirinya menjadi kecil.
KEPALA SEKOLAH BUKAN RAJA
Ini juga perlu kita ingat.
Jabatan adalah amanah.
Bukan mahkota.
Ruang kepala sekolah bukan singgasana.
Guru bukan rakyat jelata.
Dan sekolah bukan kerajaan pribadi.
Kepala sekolah memang memiliki kewenangan.
Tetapi kewenangan harus berjalan bersama tanggung jawab, etika, aturan, dan kepentingan pendidikan.
Kekuasaan yang tidak dikawal kebijaksanaan mudah berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Dan kesewenang-wenangan yang terus dibiarkan akhirnya melahirkan kepatuhan palsu.
Orang-orang tunduk di depan.
Tetapi berbicara di belakang.
Sekolah tampak tenang.
Tetapi sebenarnya penuh kegelisahan.
ADA BEDANYA LOYAL DAN MENJILAT
Ini penting sekali.
Loyal berarti tetap menjalankan amanah dan menjaga tujuan organisasi, bahkan ketika kita berbeda pendapat.
Menjilat berarti mengubah sikap demi mendapatkan keuntungan pribadi dari orang yang memiliki kekuasaan.
Loyalitas berkata:
“Saya mendukung tujuan sekolah, tetapi saya ingin menyampaikan kekhawatiran saya.”
Menjilat berkata:
“Apa pun keputusan Bapak, saya setuju.”
Loyalitas bisa berkata:
“Keputusan ini mungkin perlu diperbaiki.”
Menjilat berkata:
“Tidak ada yang perlu diperbaiki.”
Loyalitas menjaga organisasi.
Menjilat menjaga posisi diri.
DAN JANGAN SALAHKAN GURU SEPENUHNYA
Saya juga tidak ingin tulisan ini hanya menyalahkan guru.
Karena budaya organisasi tidak lahir dari satu orang.
Ia lahir dari hubungan antara:
pemimpin, sistem, aturan, penghargaan, budaya, dan manusia.
Jika sebuah sekolah memberi ruang kepada guru untuk bicara, kemungkinan budaya menjilat berkurang.
Jika kritik diperlakukan sebagai masukan, orang akan berani berbicara.
Jika prestasi dihargai secara objektif, orang tidak perlu mencari jalan belakang.
Jika distribusi kesempatan transparan, kecemburuan dapat dikurangi.
Tetapi jika sistem justru memberikan keuntungan kepada orang yang pandai mengambil hati...
jangan kaget jika akhirnya semua orang belajar mengambil hati.
SEKOLAH BISA MENGAJARKAN KEJUJURAN SAMBIL MEMELIHARA KETIDAKJUJURAN
Ini paradoks yang menyakitkan.
Di kelas kita mengajarkan:
“Jujurlah.”
“Jangan berbohong.”
“Berani menyampaikan pendapat.”
“Hormati perbedaan.”
“Jadilah pribadi berintegritas.”
Tetapi di ruang guru, anak-anak melihat hal yang berbeda.
Mereka mungkin tidak mendengar percakapan itu.
Tetapi budaya selalu terlihat.
Guru tahu.
Tenaga kependidikan tahu.
Murid sering kali tahu.
Dan sekolah yang mengajarkan integritas tetapi tidak mempraktikkannya sedang memberikan kurikulum tersembunyi yang jauh lebih kuat daripada buku teks.
MURID BELAJAR DARI APA YANG KITA LAKUKAN
Kita boleh membuat seribu poster tentang integritas.
Tetapi jika guru takut menyampaikan kebenaran, poster itu hanya menjadi dekorasi.
Kita boleh membuat program tentang profil pelajar.
Tetapi jika budaya sekolah menghukum perbedaan pendapat, anak-anak akan belajar bahwa menjadi aman lebih penting daripada menjadi benar.
Kita boleh berbicara tentang karakter.
Tetapi karakter tidak tumbuh dari slogan.
Karakter tumbuh dari keteladanan yang berulang.
LALU APA YANG HARUS DILAKUKAN?
Mungkin jawabannya tidak serumit yang kita bayangkan.
Kepala sekolah perlu menciptakan ruang aman bagi guru untuk berbicara.
Bukan ruang untuk saling menjatuhkan.
Tetapi ruang untuk saling mengoreksi.
Guru juga perlu belajar menyampaikan kritik dengan etika.
Bukan menyerang pribadi.
Bukan mempermalukan.
Bukan menyebarkan keburukan.
Tetapi menyampaikan masalah bersama kemungkinan solusinya.
Sekolah perlu membangun budaya:
berani bicara,
berani mendengar,
berani mengakui kesalahan,
dan yang paling penting:
berani memperbaiki diri.
PEMIMPIN YANG MATANG AKAN MENGATAKAN: “BANTU SAYA MELIHAT APA YANG TIDAK SAYA LIHAT.”
Saya kira ini salah satu kalimat paling indah dalam kepemimpinan.
Karena seorang kepala sekolah tidak mungkin melihat semuanya.
Ia tidak selalu berada di kelas.
Tidak selalu melihat bagaimana murid belajar.
Tidak selalu tahu kesulitan guru.
Tidak selalu memahami persoalan di lapangan.
Karena itu, ia membutuhkan mata orang lain.
Guru.
Tenaga kependidikan.
Murid.
Orang tua.
Komunitas.
Semua bisa menjadi cermin.
Dan pemimpin yang hebat tidak memecahkan cermin hanya karena tidak menyukai bayangannya.
Ia memperbaiki dirinya setelah melihat pantulan itu.
SEKOLAH YANG SEHAT TIDAK MEMBENTUK GURU PENJILAT
Ia membentuk guru yang:
kompeten,
berani,
jujur,
kolaboratif,
reflektif,
dan berintegritas.
Guru tidak perlu sibuk mencari muka.
Karena sistem menilai kerja.
Tidak perlu berlomba memuji.
Karena prestasi berbicara.
Tidak perlu takut berbeda.
Karena perbedaan dianggap sebagai sumber belajar.
Tidak perlu menjilat.
Karena yang dihargai bukan seberapa dekat seseorang dengan pimpinan...
tetapi seberapa besar kontribusinya terhadap pendidikan.
DAN UNTUK PARA GURU...
Kalau suatu hari kita berada dalam lingkungan yang membuat kita merasa harus menjilat agar dihargai, jangan buru-buru kehilangan diri sendiri.
Tetaplah profesional.
Tetaplah bekerja.
Tetaplah belajar.
Tetaplah jujur.
Tetaplah menyampaikan pendapat dengan cara yang baik.
Jangan menjadi buruk hanya karena lingkungan sedang tidak sehat.
Tetapi juga jangan membiarkan diri terus-menerus diperlakukan tidak adil.
Kita boleh loyal tanpa kehilangan martabat.
Kita boleh menghormati pimpinan tanpa mematikan akal sehat.
Kita boleh mengikuti keputusan organisasi tanpa harus mengorbankan prinsip.
Dan kita boleh berbeda pendapat tanpa menjadi musuh.
KARENA PENDIDIKAN MEMBUTUHKAN MANUSIA YANG MERDEKA
Pada akhirnya, mungkin ini bukan sekadar persoalan kepala sekolah dan guru.
Ini tentang manusia.
Tentang bagaimana kekuasaan memperlakukan manusia.
Tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya ketika ia diberi sedikit kewenangan.
Sebab ukuran seorang pemimpin bukan hanya bagaimana ia memperlakukan orang yang lebih tinggi darinya.
Tetapi bagaimana ia memperlakukan orang yang berada di bawah kewenangannya.
Apakah ia membuat mereka tumbuh?
Atau membuat mereka takut?
Apakah ia membuat mereka berani berpikir?
Atau membuat mereka belajar menjilat?
Apakah ia membangun profesionalisme?
Atau membangun lingkaran loyalitas pribadi?
Apakah ia menciptakan guru-guru yang kuat?
Atau menciptakan pengikut yang selalu berkata iya?
SEKOLAH TIDAK AKAN BESAR KARENA SEMUA ORANG TAKUT KEPADA KEPALA SEKOLAH.
Sekolah akan besar ketika:
guru berani berpikir,
guru berani berbicara,
guru berani berbeda,
guru berani mengakui kesalahan,
guru berani mencoba,
dan kepala sekolah cukup dewasa untuk mendengarkan semuanya.
Karena sekolah bukan tempat untuk mencari siapa yang paling pandai mengambil hati.
Sekolah adalah tempat manusia belajar menjadi manusia.
Maka sungguh ironis jika di tempat yang seharusnya mengajarkan kemerdekaan berpikir, para gurunya justru belajar:
“Jangan terlalu pintar.”
“Jangan terlalu kritis.”
“Jangan berbeda.”
“Yang penting pimpinan senang.”
Dan yang lebih ironis lagi...
ketika guru mulai pintar menjilat, sekolah mungkin terlihat harmonis dari luar—tetapi sedang kehilangan tulang punggungnya dari dalam.
Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah berbeda pendapat.
Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.
Dan pemimpin yang hebat bukan pemimpin yang selalu dipuji.
Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang tetap bisa mendengar kebenaran ketika kebenaran itu tidak menyenangkan telinganya.
Semoga sekolah-sekolah kita tidak melahirkan guru-guru yang sibuk mencari muka.
Semoga sekolah kita melahirkan guru-guru yang berani mencari kebenaran.
Karena pada akhirnya...
murid tidak membutuhkan guru yang pandai menjilat.
Murid membutuhkan guru yang pandai berpikir, berani berkata benar, dan tetap memiliki hati untuk mendidik.
Dan kepala sekolah tidak membutuhkan bawahan yang selalu berkata:
“Bapak benar.”
Mungkin sesekali ia justru membutuhkan seseorang yang berani berkata:
“Pak, mari kita periksa lagi. Mungkin kita bisa membuatnya lebih baik.”
Di situlah kepemimpinan menjadi pendidikan.
Dan di situlah sekolah kembali menjadi sekolah.
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️
#Pendidikan #KepemimpinanSekolah #Guru #Integritas #BudayaSekolah #RefleksiPendidikan #ArahBatin

Komentar
Posting Komentar