Ketika Sains Bertemu Literasi
Ketika Sains Bertemu Literasi: Catatan Seorang Guru Biologi tentang Sawit, Hutan, dan Cara Kita Memahami Alam
Oleh: Abdulloh Aup
Saya masih ingat ketika pertama kali belajar tentang anatomi tumbuhan di bangku S1 Pendidikan Biologi. Dosen kami berulang kali mengingatkan bahwa salah satu ciri penting untuk mengenali tumbuhan bukan hanya dari bentuk luarnya, tetapi dari struktur anatomi yang tidak selalu tampak oleh mata.
Saat itu, saya baru memahami bahwa ilmu pengetahuan sering kali tidak sesederhana apa yang terlihat.
Sebuah tumbuhan bisa tampak seperti pohon, tetapi belum tentu termasuk pohon dalam pengertian botani.
Sebuah lahan bisa tampak hijau, tetapi belum tentu memiliki fungsi ekologis yang sama dengan hutan.
Barangkali pelajaran itulah yang kembali teringat ketika beberapa hari terakhir ruang publik ramai memperbincangkan pernyataan bahwa kelapa sawit memiliki daun, menghasilkan oksigen, sehingga tidak perlu terlalu khawatir terhadap deforestasi.
Sebagian orang langsung setuju.
Sebagian lagi langsung menolak.
Namun bagi saya, persoalan ini bukan sekadar tentang siapa yang benar atau siapa yang salah.
Persoalan ini adalah tentang bagaimana cara kita berpikir.
Dua Belas Tahun Mengajar Mengajarkan Saya Satu Hal
Sejak tahun 2011, saya mengajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP Negeri 1 Blega.
Ribuan peserta didik telah saya temui.
Dari mereka saya belajar bahwa menghafal jawaban jauh lebih mudah daripada memahami alasan di balik jawaban itu.
Ketika saya bertanya,
"Apakah semua tumbuhan menghasilkan oksigen?"
Anak-anak hampir selalu mampu menjawab, "Ya."
Tetapi ketika saya bertanya lagi,
"Apakah semua tumbuhan memiliki fungsi ekologis yang sama?"
Ruang kelas mendadak menjadi sunyi.
Bukan karena mereka tidak pintar.
Melainkan karena sains memang mengajarkan kita untuk berpikir lebih dalam daripada sekadar mengingat fakta.
Alam Selalu Lebih Kompleks daripada Pendapat Kita
Sebagai lulusan Pendidikan Biologi, saya memahami bahwa kelapa sawit (Elaeis guineensis) termasuk kelompok tumbuhan monokotil dari famili Arecaceae.
Secara ilmiah, sawit melakukan fotosintesis.
Sawit menghasilkan oksigen.
Sawit juga menyerap karbon dioksida.
Semua itu benar.
Namun ilmu biologi tidak berhenti sampai di sana.
Sawit tidak memiliki kambium pembuluh sebagaimana pohon dikotil.
Batangnya tidak membentuk kayu sekunder seperti jati, mahoni, atau beringin.
Sistem akarnya pun berupa akar serabut yang memiliki karakteristik berbeda dengan akar tunggang pohon-pohon besar penyusun hutan tropis.
Lebih dari itu, ketika berbicara tentang hutan, kita sebenarnya sedang berbicara tentang ekosistem, bukan sekadar kumpulan tumbuhan.
Di dalam hutan terdapat hubungan yang rumit antara tanah, air, mikroorganisme, jamur, serangga, burung, mamalia, hingga manusia yang hidup di sekitarnya.
Inilah mengapa banyak ahli ekologi menjelaskan bahwa perkebunan sawit monokultur tidak dapat disamakan dengan fungsi ekologis hutan alami.
Bukan karena sawit tidak bermanfaat.
Melainkan karena keduanya memang memiliki tujuan dan karakter yang berbeda.
Mengapa Saya Terus Mengajak Anak-Anak Mencintai Lingkungan?
Di sekolah, saya diberi amanah mendampingi Science Expedition Learning (SEL).
Ekskul sederhana yang kami dirikan bukan untuk mencetak ahli lingkungan dalam semalam.
Kami hanya ingin menanamkan satu kebiasaan.
Mau mengamati sebelum menyimpulkan.
Saat peserta didik menemukan burung di halaman sekolah, saya tidak meminta mereka langsung menebak namanya.
Saya meminta mereka memperhatikan bentuk paruhnya.
Warna bulunya.
Cara terbangnya.
Jenis makanannya.
Karena sains selalu dimulai dari observasi.
Bukan opini.
Begitu pula ketika mereka melihat pohon, sungai, atau hutan.
Yang ingin saya tumbuhkan bukan sekadar rasa kagum.
Tetapi kemampuan membaca alam dengan cara yang benar.
Salah Nalar yang Diam-Diam Sering Kita Lakukan
Dalam filsafat ilmu, kita mengenal berbagai bentuk kekeliruan berpikir.
Salah satunya adalah menarik kesimpulan yang terlalu jauh dari fakta yang tersedia.
Misalnya:
Sawit memiliki daun.
Sawit menghasilkan oksigen.
Lalu disimpulkan bahwa sawit dapat menggantikan fungsi hutan.
Padahal ada begitu banyak variabel lain yang belum diperhitungkan.
Keanekaragaman hayati.
Siklus hidrologi.
Habitat satwa.
Cadangan karbon.
Kesuburan tanah.
Hubungan antarorganisme.
Semuanya tidak dapat diringkas hanya menjadi satu kalimat.
Di sinilah literasi bekerja.
Literasi bukan sekadar kemampuan membaca tulisan.
Literasi adalah kemampuan membaca konteks.
Ketika Saya Kembali Menjadi Mahasiswa
Hari ini, di usia yang tidak lagi muda, Allah kembali memberi kesempatan kepada saya untuk duduk di bangku kuliah.
Saya sedang menempuh Program Doktor (S3) Pendidikan.
Banyak orang bertanya mengapa masih ingin belajar.
Jawaban saya sederhana.
Karena semakin banyak belajar, semakin saya sadar bahwa ilmu pengetahuan membuat kita lebih rendah hati.
Gelar bukanlah akhir perjalanan.
Justru setiap jenjang pendidikan membuka pintu bahwa masih begitu banyak hal yang belum kita pahami.
Saya belajar bahwa pendidikan bukan hanya mengajarkan isi kepala.
Pendidikan juga membentuk cara berpikir.
Dan cara berpikir yang baik selalu dimulai dengan kesediaan menguji keyakinan kita menggunakan bukti.
Bumi Tidak Membutuhkan Perdebatan yang Tak Berujung
Sebagai bangsa yang hidup di salah satu negara dengan hutan tropis terbesar di dunia, kita membutuhkan ruang diskusi yang sehat.
Kita boleh berbeda pandangan.
Kita boleh memiliki argumentasi yang berbeda.
Namun setiap pendapat akan menjadi lebih bernilai apabila dibangun di atas ilmu pengetahuan, data, dan kerendahan hati untuk terus belajar.
Karena alam tidak pernah berbohong.
Yang sering keliru adalah cara kita membacanya.
Mungkin itulah sebabnya saya masih betah menjadi guru.
Masih bersemangat mendampingi anak-anak di Science Expedition Learning.
Masih ingin belajar di jenjang doktor.
Sebab saya percaya, menjaga lingkungan tidak hanya dimulai dengan menanam pohon.
Ia dimulai ketika kita menanam cara berpikir ilmiah pada generasi yang akan datang.
Dan mungkin, itulah warisan terbaik yang dapat diberikan seorang guru.
"Semakin dalam saya mempelajari biologi, semakin saya memahami alam. Semakin lama saya menjadi guru, semakin saya memahami manusia. Dan semakin tinggi saya belajar tentang pendidikan, semakin saya yakin bahwa literasi adalah jembatan yang mempertemukan keduanya."
— Abdulloh Aup
Guru IPA | Pamong Science Expedition Learning (SEL) | Penggerak Cinta Lingkungan | Calon Doktor Pendidikan

Komentar
Posting Komentar