JANGAN PAKSA SEMUA ANAK BERLAYAR DENGAN ANGIN YANG SAMA

 


JANGAN PAKSA SEMUA ANAK BERLAYAR DENGAN ANGIN YANG SAMA

Tentang Guru Penggerak, Pembelajaran Berdiferensiasi, dan seni melihat manusia di balik setiap murid

Ada sebuah kalimat dari Sujiwo Tejo yang beberapa waktu lalu kembali mengusik pikiran saya:

“Sebelum teknologi maju, manusia berlayar ke mana arah angin. Setelah teknologi maju, sebagian manusia masih saja menuju ke mana arah nasib.”

Saya suka kalimat itu karena sederhana, tetapi diam-diam menampar.

Teknologi boleh semakin canggih. AI boleh semakin pintar. Platform pembelajaran semakin banyak. Perangkat digital semakin lengkap.

Tetapi pertanyaannya:

Apakah cara kita mendidik manusia juga benar-benar berkembang?

Sebab jangan-jangan kita sedang hidup di zaman teknologi yang sangat maju, tetapi masih mendidik anak dengan cara yang sama seperti puluhan tahun lalu.

Semua anak duduk.

Semua anak mendengar.

Semua anak mengerjakan tugas yang sama.

Semua anak dinilai dengan cara yang sama.

Semua anak diharapkan mencapai hasil yang sama.

Kemudian ketika ada anak yang tidak berhasil mengikuti ritme tersebut, kita buru-buru mengatakan:

“Anaknya kurang motivasi.”

“Anaknya malas.”

“Anaknya memang tidak pintar.”

Padahal mungkin...

bukan anaknya yang tidak mampu belajar. Bisa jadi cara kita yang belum mampu membaca cara mereka belajar.


Setiap Anak Datang Membawa Cerita yang Berbeda

Dalam pembelajaran berdiferensiasi, ada setidaknya tiga hal penting yang perlu kita lihat: kesiapan belajar, minat murid, dan profil belajar murid.

Tiga hal sederhana.

Tetapi kalau benar-benar kita praktikkan, ketiganya bisa mengubah cara kita memandang kelas.

Karena seorang guru tidak sedang berhadapan dengan sekumpulan angka di daftar presensi.

Kita sedang berhadapan dengan manusia.

Ada anak yang sudah siap menerima tantangan berikutnya.

Ada yang masih membutuhkan penguatan konsep dasar.

Ada yang sangat tertarik pada sains.

Ada yang justru hidup ketika menggambar.

Ada yang menemukan dirinya ketika berbicara.

Ada yang lebih mudah memahami sesuatu ketika bergerak.

Ada yang senang bekerja bersama teman.

Ada pula yang justru membutuhkan ruang untuk berpikir sendiri.

Mereka tidak sama. Dan ketidaksamaan itu bukan masalah.

Justru di situlah kekayaan sebuah kelas.


Guru Bukan Pabrik yang Mencetak Produk Seragam

Kadang saya berpikir, pendidikan akan jauh lebih sederhana kalau murid adalah benda.

Kita tinggal memasukkan bahan yang sama.

Menggunakan mesin yang sama.

Mengikuti prosedur yang sama.

Lalu menghasilkan produk yang sama.

Tetapi murid bukan produk pabrik.

Mereka manusia.

Mereka memiliki pengalaman berbeda.

Keluarga berbeda.

Minat berbeda.

Cara berpikir berbeda.

Kekuatan berbeda.

Ketakutan berbeda.

Mimpi yang berbeda.

Bahkan cara mereka memahami satu kalimat pun bisa berbeda.

Karena itu, pekerjaan guru bukan sekadar menyampaikan materi.

Pekerjaan guru adalah mencari jalan agar materi dapat bertemu dengan kebutuhan manusia yang sedang belajar.

Dan ini membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan materi.

Ia membutuhkan kepekaan.


Kecerdasan Tidak Hanya Duduk di Kepala

Saya juga tertarik pada materi tentang kecerdasan majemuk.

Verbal-linguistik.

Logis-matematis.

Visual-spasial.

Musikal.

Kinestetik.

Interpersonal.

Intrapersonal.

Naturalis.

Hingga spiritual-eksistensial.

Terlepas dari berbagai perdebatan akademik tentang teori kecerdasan majemuk, ada satu pesan pendidikan yang menurut saya tetap sangat penting:

Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa seorang anak “tidak pintar” hanya karena ia tidak bersinar dalam bentuk kecerdasan yang kita ukur.

Anak yang tidak pandai matematika belum tentu tidak cerdas.

Anak yang tidak suka berbicara di depan kelas belum tentu tidak memiliki gagasan.

Anak yang sulit menghafal belum tentu tidak mampu memahami.

Anak yang sering bergerak belum tentu tidak bisa fokus.

Anak yang pendiam belum tentu tidak punya kepemimpinan.

Dan anak yang nilainya biasa saja belum tentu masa depannya juga biasa saja.

Kadang kita hanya belum menemukan pintu masuk kecerdasannya.


Tugas Guru Bukan Membuat Semua Anak Menjadi Sama

Saya kira ini salah satu kesalahan terbesar dalam pendidikan:

kita terlalu sibuk mencari keseragaman.

Seragam.

Seragam cara belajar.

Seragam tugas.

Seragam jawaban.

Seragam keberhasilan.

Padahal pendidikan seharusnya membantu manusia menemukan keunikan dirinya.

Bukan berarti setiap anak bebas melakukan apa saja.

Bukan berarti standar belajar tidak penting.

Bukan berarti disiplin boleh hilang.

Tetapi kita perlu memahami bahwa jalan menuju tujuan tidak selalu harus sama.

Tujuannya boleh sama.

Jalannya bisa berbeda.

Anak yang suka menggambar mungkin memahami ekosistem melalui ilustrasi.

Anak yang suka berbicara mungkin menjelaskannya melalui presentasi.

Anak yang senang bergerak mungkin belajar melalui eksperimen.

Anak yang suka teknologi mungkin membuat infografis atau video.

Anak yang senang bekerja bersama mungkin berkembang melalui proyek kolaboratif.

Tujuan pembelajaran tetap dijaga. Cara menuju ke sana yang dibuat lebih manusiawi.


Di Sinilah Guru Penggerak Seharusnya Hadir

Materi yang saya lihat juga mengingatkan saya pada beberapa karakter penting seorang guru penggerak:

Guru mandiri.

Berpihak pada murid.

Mampu mengelola pembelajaran.

Mendorong inovasi dan pengembangan sekolah.

Berpegang pada kode etik.

Lima hal ini sebenarnya saling berhubungan.

Guru mandiri bukan berarti bekerja sendirian.

Guru mandiri berarti mau terus belajar dan bertumbuh.

Guru yang berpihak pada murid bukan berarti selalu menuruti keinginan murid.

Berpihak berarti menjadikan kebutuhan dan perkembangan murid sebagai pertimbangan utama dalam keputusan pendidikan.

Guru yang mampu mengelola pembelajaran bukan sekadar mampu membuat RPP atau perangkat ajar.

Ia mampu menciptakan pengalaman belajar yang membuat murid hadir secara utuh.

Guru yang berinovasi bukan guru yang setiap hari harus menggunakan teknologi terbaru.

Kadang inovasi paling sederhana adalah:

mengubah cara kita melihat seorang anak.

Dan guru yang berpegang pada kode etik memahami bahwa kekuasaan seorang guru atas murid bukan alasan untuk memperlakukan murid sesuka hati.

Karena mendidik adalah amanah.


Berpihak pada Murid Bukan Berarti Memanjakan Murid

Ini juga perlu diluruskan.

Berpihak pada murid bukan berarti:

“Kalau anak tidak mau belajar, biarkan.”

Bukan.

Berpihak bukan berarti semua keinginan anak harus dipenuhi.

Berpihak berarti kita berusaha memahami:

Apa yang mereka butuhkan untuk bertumbuh?

Kadang jawabannya adalah kebebasan.

Kadang jawabannya adalah tantangan.

Kadang jawabannya adalah pendampingan.

Kadang jawabannya adalah batas.

Kadang jawabannya adalah kesempatan untuk gagal.

Kadang jawabannya adalah seseorang yang berkata:

“Saya percaya kamu bisa mencoba sekali lagi.”

Guru yang berpihak pada murid bukan guru yang selalu membuat murid nyaman.

Tetapi guru yang membantu murid tumbuh, bahkan ketika proses pertumbuhan itu tidak selalu nyaman.


Pembelajaran Berdiferensiasi Bukan Sekadar Membuat Banyak Tugas

Ini juga penting.

Jangan sampai diferensiasi hanya berubah menjadi:

“Anak A membuat poster.”

“Anak B membuat video.”

“Anak C membuat makalah.”

Selesai.

Diferensiasi bukan sekadar mengganti bentuk tugas.

Esensinya adalah respons guru terhadap keragaman kebutuhan belajar.

Guru perlu bertanya:

Siapa yang sedang saya ajar?

Apa yang sudah mereka ketahui?

Apa yang mereka minati?

Bagaimana mereka paling mungkin belajar dengan baik?

Dukungan seperti apa yang mereka perlukan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar sederhana.

Tetapi justru di situlah profesionalisme guru diuji.


Karena Guru yang Hebat Bukan yang Paling Banyak Bicara

Kadang kita mengukur guru dari seberapa hebat ia menjelaskan.

Padahal ada kemampuan lain yang jauh lebih penting:

kemampuan mendengarkan.

Mendengarkan murid yang mengatakan:

“Saya belum paham, Pak.”

Mendengarkan murid yang diam.

Mendengarkan murid yang mulai kehilangan minat.

Mendengarkan murid yang selalu gagal.

Mendengarkan murid yang sebenarnya punya potensi tetapi tidak pernah mendapatkan kesempatan.

Bahkan mendengarkan murid yang mungkin selama ini kita anggap “bermasalah”.

Karena bisa jadi...

perilaku adalah bahasa yang belum berhasil kita pahami.

Anak yang sering mengganggu mungkin sedang mencari perhatian.

Anak yang tidak mengerjakan tugas mungkin sedang menghadapi sesuatu yang tidak kita ketahui.

Anak yang tidak aktif mungkin membutuhkan pendekatan berbeda.

Tentu tidak semua perilaku harus dimaklumi.

Tetapi sebelum menghukum, seorang pendidik sebaiknya belajar memahami.


Teknologi Boleh Maju, Tetapi Guru Tetap Harus Mengenal Manusia

Hari ini kita sedang berada di era AI.

Saya sendiri sangat menikmati bagaimana teknologi membantu guru.

AI dapat membantu membuat bahan ajar.

Membantu menyusun ide.

Membantu membuat visual.

Membantu menganalisis data.

Membantu memberikan alternatif strategi.

Tetapi AI tidak boleh membuat guru kehilangan sesuatu yang paling fundamental:

hubungan manusia.

AI mungkin bisa memberikan seratus strategi pembelajaran.

Tetapi guru tetap harus menentukan:

mana yang cocok untuk anak-anak di depannya.

Karena konteks tidak selalu bisa dipindahkan begitu saja.

Strategi yang berhasil di satu kelas belum tentu berhasil di kelas lain.

Metode yang berhasil di satu sekolah belum tentu cocok di sekolah lain.

Bahkan strategi yang berhasil tahun lalu belum tentu berhasil tahun ini.

Sebab murid berubah.

Konteks berubah.

Kebutuhan berubah.

Guru yang baik bukan yang paling cepat mengikuti tren, tetapi yang paling peka membaca kebutuhan murid.


Jangan Sampai Kita Menggunakan Teknologi untuk Mempercepat Kesalahan

Ini yang menurut saya juga perlu direnungkan.

Teknologi bisa mempercepat pekerjaan.

Tetapi jika cara berpikir kita salah, teknologi hanya akan membuat kesalahan itu menjadi lebih cepat.

AI bisa membuat materi dalam hitungan detik.

Tetapi apakah materi itu sesuai dengan murid?

AI bisa membuat soal.

Tetapi apakah soal itu benar-benar mengukur kompetensi yang ingin dikembangkan?

AI bisa membuat presentasi yang indah.

Tetapi apakah pembelajaran di kelas menjadi lebih bermakna?

Teknologi adalah alat.

Manusia tetap menjadi pengarah.


Jangan Berlayar Hanya Mengikuti Angin

Kembali kepada kalimat Sujiwo Tejo tadi.

“Sebelum teknologi maju, manusia berlayar ke mana arah angin. Setelah teknologi maju, sebagian manusia masih saja menuju ke mana arah nasib.”

Bagi saya, pendidikan seharusnya mengajarkan manusia untuk memegang kemudi.

Bukan sekadar mengikuti angin.

Bukan sekadar mengikuti tren.

Bukan sekadar mengikuti teknologi.

Bukan sekadar mengikuti apa yang sedang viral.

Dan bukan sekadar menerima keadaan sebagai takdir yang tidak bisa diubah.

Guru pun demikian.

Jangan mengajar hanya karena:

“Dari dulu memang begini.”

Jangan memberi tugas hanya karena:

“Tahun lalu juga begini.”

Jangan menggunakan metode tertentu hanya karena:

“Semua guru melakukan itu.”

Pertanyaannya harus lebih dalam:

Apakah ini benar-benar baik untuk murid saya?

Jika iya, lanjutkan.

Jika tidak, beranilah memperbaikinya.


Guru Juga Harus Terus Bertumbuh

Guru penggerak pada akhirnya bukan tentang sebuah label.

Bukan tentang sertifikat.

Bukan tentang jabatan.

Bukan tentang siapa yang paling banyak mengikuti pelatihan.

Guru penggerak adalah guru yang bergerak.

Bergerak dari tidak tahu menjadi tahu.

Dari tahu menjadi mencoba.

Dari mencoba menjadi mengevaluasi.

Dari gagal menjadi belajar.

Dari berhasil menjadi berbagi.

Dan dari berbagi menjadi menggerakkan orang lain.

Karena guru yang berhenti bertumbuh akan kesulitan mengajak murid bertumbuh.


Mungkin Kita Tidak Bisa Mengubah Semua Hal

Kita tidak bisa mengubah seluruh sistem pendidikan sendirian.

Tidak bisa mengubah semua kebijakan.

Tidak bisa mengubah semua budaya sekolah.

Tidak bisa mengubah semua orang.

Tetapi kita masih bisa mengubah sesuatu yang paling dekat:

cara kita memasuki kelas.

Cara kita memandang murid.

Cara kita memberikan kesempatan.

Cara kita memberikan umpan balik.

Cara kita menghadapi kesalahan.

Cara kita memperlakukan anak yang berbeda.

Cara kita merancang pengalaman belajar.

Dan mungkin perubahan besar pendidikan memang sering dimulai dari sesuatu yang kecil:

seorang guru yang memutuskan untuk melihat muridnya lebih dalam.


Pada Akhirnya, Anak Tidak Hanya Membutuhkan Guru yang Pintar

Mereka membutuhkan guru yang peduli.

Guru yang menguasai materi, tetapi juga memahami manusia.

Guru yang mampu menggunakan teknologi, tetapi tidak diperbudak teknologi.

Guru yang mampu membuat pembelajaran menarik, tetapi tidak lupa pada makna.

Guru yang mampu menilai kemampuan, tetapi tidak melabeli manusia.

Guru yang mampu memberi batas, tetapi tetap memberi ruang.

Guru yang mampu berkata:

“Ini salah.”

tetapi juga:

“Mari kita perbaiki bersama.”

Karena pendidikan bukan tentang membuat anak menjadi versi kecil dari gurunya.

Pendidikan adalah perjalanan membantu seorang manusia menemukan dan mengembangkan dirinya.


Dan mungkin, inilah makna sebenarnya dari berpihak pada murid.

Bukan membuat semua anak berjalan di jalan yang sama.

Tetapi memastikan setiap anak memiliki kesempatan menemukan jalannya sendiri menuju tujuan yang bermakna.

Ada yang berlayar dengan layar.

Ada yang menggunakan dayung.

Ada yang menunggu angin.

Ada yang belajar membaca bintang.

Ada yang harus memperbaiki perahunya terlebih dahulu.

Tugas kita bukan memaksa semua perahu bergerak dengan cara yang sama.

Tugas kita adalah memastikan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan untuk belajar berlayar.

Sebab pada akhirnya...

guru bukanlah angin yang menentukan ke mana murid harus pergi.

Guru adalah seseorang yang membantu murid:

membaca angin,

memahami arah,

memegang kemudi,

dan suatu hari...

berani menentukan jalannya sendiri.

Itulah pendidikan yang memanusiakan manusia.

Itulah pembelajaran yang tidak sekadar mengejar nilai.

Dan mungkin...

itulah alasan mengapa seorang guru harus terus belajar sebelum meminta murid terus belajar.

Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️
Belajar. Bertumbuh. Berbagi. Menggerakkan.

Komentar

Postingan Populer