Ketika Seekor Induk Ditangkap

 


Ketika Seekor Induk Ditangkap, Satu Keluarga Kehilangan Masa Depan

Ada Kesedihan yang Tidak Pernah Terdengar dari Sebuah Sarang

Di tengah hutan, ada suara yang sering tidak pernah kita dengar.

Bukan karena suaranya terlalu pelan.

Melainkan karena kita tidak pernah benar-benar mendengarkan.

Suara itu bukan kicauan.

Bukan pula nyanyian alam yang merdu.

Suara itu adalah keheningan sebuah sarang yang kehilangan induknya.


Bayangkan ada beberapa anak burung yang baru menetas.

Mata mereka bahkan belum terbuka sempurna.

Sayap mereka belum cukup kuat untuk mengepak.

Mereka belum mengenal dunia.

Mereka hanya mengenal satu hal.

Menunggu.

Menunggu induknya kembali membawa makanan.

Menunggu kehangatan sayap yang melindungi mereka dari dinginnya malam.

Menunggu kehidupan.

Namun suatu hari...

Induk itu tidak pernah pulang.


Mungkin bagi manusia, yang tertangkap hanyalah seekor burung.

Hanya satu.

Tidak lebih.

Namun bagi anak-anak burung di atas pohon, yang hilang bukan sekadar seekor induk.

Yang hilang adalah harapan.

Yang hilang adalah sumber kehidupan.

Yang hilang adalah satu-satunya alasan mereka masih mampu bertahan.

Sarang yang kemarin dipenuhi suara kini berubah menjadi tempat menunggu kematian.

Bukan karena alam kejam.

Tetapi karena manusia mengambil sesuatu yang bukan miliknya.


Sebagai pecinta lingkungan dan pembina Science Expedition Learning (SEL), saya sering mengatakan kepada anak-anak bahwa konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan pohon.

Konservasi adalah menjaga seluruh mata rantai kehidupan.

Seekor burung bukan hanya individu.

Ia adalah bagian dari sebuah keluarga.

Bagian dari ekosistem.

Bagian dari keseimbangan alam.

Ketika satu induk diambil dari hutan, sering kali kita tidak menyadari bahwa ada kehidupan lain yang ikut terputus.


Anakan burung pada hari-hari pertama kehidupannya tidak mampu mencari makan sendiri.

Mereka bergantung sepenuhnya kepada induknya.

Setiap beberapa menit, paruh kecil mereka terbuka lebar.

Bukan karena manja.

Tetapi karena memang begitulah alam menciptakan mereka.

Ketergantungan itu adalah bagian dari proses bertumbuh.

Dan ketika induknya tidak pernah kembali, waktu berubah menjadi musuh.

Kelaparan datang.

Dehidrasi menyusul.

Predator mulai mengintai.

Harapan perlahan menghilang.


Ironisnya, semua itu sering terjadi hanya karena satu alasan.

Manusia ingin memelihara burung.

Atau sekadar menikmati suara kicauannya dari balik jeruji sangkar.

Padahal suara yang paling indah sesungguhnya bukan berasal dari sangkar.

Melainkan dari hutan yang bebas.

Karena kicauan burung bukan hanya hiburan bagi manusia.

Ia adalah bahasa alam.

Bahasa kehidupan.

Bahasa yang menandakan bahwa hutan masih bernapas.


Sebagai guru IPA, saya selalu percaya bahwa pendidikan lingkungan tidak cukup hanya mengajarkan nama spesies atau rantai makanan.

Yang lebih penting adalah menumbuhkan empati.

Sebab seseorang tidak akan merusak sesuatu yang ia cintai.

Dan seseorang tidak akan mencintai sesuatu yang tidak pernah ia pahami.

Mungkin kita tidak pernah menjadi seekor anak burung.

Namun kita semua pernah menjadi seorang anak.

Kita tahu bagaimana rasanya menunggu orang tua pulang.

Bayangkan jika penantian itu tidak pernah berakhir.

Bukankah hati kita ikut sesak membayangkannya?


Alam tidak pernah meminta banyak kepada manusia.

Ia hanya meminta kita hidup berdampingan.

Membiarkan burung tetap bersarang.

Membiarkan pepohonan tetap menjadi rumah.

Membiarkan hutan tetap bernyanyi setiap pagi.

Karena sesungguhnya, yang kita wariskan kepada generasi mendatang bukan hanya bumi.

Tetapi juga seluruh kehidupan yang ada di dalamnya.


Mungkin hari ini kita tidak bisa menyelamatkan semua satwa liar.

Namun kita selalu bisa memulai dari satu keputusan sederhana.

Tidak membeli burung hasil tangkapan alam.

Tidak mendukung perdagangan satwa liar.

Mengajarkan anak-anak untuk mencintai satwa di habitatnya.

Dan membiarkan setiap kicauan tetap lahir dari cabang-cabang pohon, bukan dari balik jeruji besi.

Sebab seekor burung yang terbang bebas mungkin terlihat biasa bagi kita.

Tetapi bagi anak-anaknya di dalam sarang, ia adalah seluruh dunia.

"Jangan hanya kasihan kepada burung yang terkurung di dalam sangkar. Kasihanilah juga anak-anaknya yang diam-diam menunggu di sarang, tanpa pernah tahu bahwa induknya tidak akan pulang lagi. Sebab ketika satu burung diambil dari alam, sering kali satu keluarga kehilangan masa depannya."

— Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer