Catatan Purna Tugas untuk Abah Nizar
KETIKA GURU PENSIUN, TELADANNYA TIDAK PERNAH PENSIUN
Catatan kecil untuk Abah Mohammad Nizar, S.Pd.
Ada orang yang hadir dalam hidup kita hanya sebentar.
Ada yang datang sebagai teman.
Ada yang hadir sebagai rekan kerja.
Tetapi ada pula orang-orang tertentu yang kehadirannya perlahan menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.
Bukan karena mereka banyak bicara.
Bukan karena mereka selalu tampil di depan.
Tetapi karena nasihatnya tinggal lebih lama daripada kehadirannya.
Bagi saya, salah satu orang itu adalah:
Mohammad Nizar, S.Pd.
Kami biasa memanggil beliau Pak Nizar.
Tetapi di antara kami, beliau lebih akrab dipanggil:
Abah.
Dan hari ini, saya ingin menuliskan sedikit cerita tentang seorang guru yang baru saja menuntaskan perjalanan panjang pengabdiannya.
Ketika saya baru lahir, beliau sudah mengajar
Ada sebuah kebetulan yang bagi saya terasa sangat bermakna.
Pak Nizar mulai mengajar di sekolah ini pada tahun 1987.
Tahun yang sama ketika saya lahir.
Artinya, ketika saya baru belajar mengenal dunia, beliau sudah terlebih dahulu berdiri di depan kelas, mengajarkan anak-anak di sekolah ini.
Saya bahkan belum tahu apa arti menjadi guru.
Beliau sudah menjalaninya.
Saya belum tahu bagaimana rasanya memikul tanggung jawab mendidik.
Beliau sudah melakukannya.
Saya belum mengenal sekolah ini.
Beliau sudah menjadi bagian dari perjalanan sekolah ini.
Dan hampir empat dekade kemudian, pada 1 Agustus 2026, perjalanan panjang itu sampai pada satu titik:
purna bakti.
Ada sesuatu yang terasa haru ketika menyadari bahwa seorang guru yang sudah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk pendidikan akhirnya meninggalkan ruang kelas sebagai seorang guru aktif.
Bukan karena beliau berhenti menjadi guru.
Tetapi karena masa tugas formalnya telah selesai.
Pak Nizar bukan sekadar senior bagi saya
Saya mengenal beliau bukan hanya sebagai guru IPS senior di UPTD SMP Negeri 1 Blega.
Beliau adalah salah satu orang yang ikut membentuk perjalanan saya sebagai guru.
Ketika saya masih menjadi guru honorer, Pak Nizar termasuk orang pertama yang melakukan supervisi terhadap saya.
Saya masih belajar.
Masih mencari bentuk.
Masih banyak bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah cara saya mengajar sudah benar?”
“Apakah pendekatan saya kepada siswa sudah tepat?”
“Apakah saya sudah benar-benar menjadi guru?”
Dan di masa-masa seperti itulah, kehadiran seorang senior menjadi sangat berarti.
Bukan senior yang hanya datang untuk menilai.
Tetapi senior yang mau membimbing.
Bukan hanya menunjukkan kesalahan.
Tetapi memberi tahu bagaimana memperbaikinya.
Bukan membuat guru muda merasa kecil.
Tetapi membuatnya merasa:
“Saya masih bisa belajar.”
Itulah yang saya rasakan dari Pak Nizar.
Dari supervisi, kemudian menjadi tempat berdiskusi
Yang menarik, hubungan kami kemudian berkembang.
Beliau bukan hanya menjadi senior.
Beliau menjadi tempat saya berdiskusi.
Kadang tentang pendidikan.
Kadang tentang politik.
Kadang tentang kehidupan.
Dan tentu saja...
Timnas Indonesia. 🇮🇩⚽
Kalau sudah bicara bola dan futsal, diskusinya bisa panjang.
Ada saja yang dibicarakan.
Pemain.
Pelatih.
Taktik.
Hasil pertandingan.
Timnas.
Dan segala macam perdebatan khas orang yang sama-sama mencintai sepak bola. 😄
Saya kira justru di situlah letak menariknya seorang guru.
Guru tidak selalu harus berbicara tentang buku.
Kadang guru berbicara tentang kehidupan.
Kadang tentang negara.
Kadang tentang olahraga.
Kadang tentang kegelisahan.
Kadang bahkan tentang hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran di kelas.
Tetapi dari percakapan-percakapan sederhana itulah hubungan antarmanusia tumbuh.
Dan bagi saya, Abah adalah salah satu senior yang membuat ruang kerja terasa seperti ruang belajar bersama.
Sebagai guru IPS, beliau juga memengaruhi saya sebagai guru IPA
Ini mungkin terdengar sederhana.
Saya guru IPA.
Beliau guru IPS.
Secara bidang keilmuan, kami berbeda.
Tetapi ternyata seorang guru tidak hanya mewariskan materi pelajaran.
Guru juga mewariskan cara memandang murid.
Dan saya merasa banyak pendekatan Pak Nizar kepada siswa yang kemudian secara tidak sadar memengaruhi cara saya mengajar.
Bagaimana berbicara dengan siswa.
Bagaimana memahami karakter mereka.
Bagaimana menempatkan diri bukan hanya sebagai orang yang menyampaikan materi, tetapi sebagai orang dewasa yang sedang menemani anak-anak tumbuh.
Saya belajar bahwa mengajar bukan hanya tentang:
“Apa yang harus saya ajarkan hari ini?”
Tetapi juga:
“Manusia seperti apa yang sedang saya bantu tumbuhkan?”
Mungkin inilah salah satu warisan terbesar seorang guru.
Tidak selalu terlihat.
Tidak selalu tertulis di perangkat pembelajaran.
Tidak selalu bisa diukur dengan angka.
Tetapi suatu hari...
menjelma menjadi cara murid kita memperlakukan kehidupan.
Abah, mungkin Bapak tidak pernah tahu...
Bahwa nasihat-nasihat yang dulu mungkin terasa seperti percakapan biasa, ternyata bisa tinggal begitu lama.
Ada nasihat yang baru kita pahami bertahun-tahun kemudian.
Ada kalimat yang baru terasa maknanya setelah kita mengalami sendiri.
Ada petuah yang dulu kita dengarkan sambil lalu, tetapi kemudian muncul kembali ketika kita menghadapi persoalan.
Begitulah guru.
Kadang ia menanam sesuatu tanpa tahu kapan benih itu tumbuh.
Ia hanya menanam.
Menyiram.
Mendoakan.
Kemudian melanjutkan hidup.
Dan suatu hari, muridnya datang membawa pohon yang tumbuh dari benih tersebut.
Purna bakti bukan berarti selesai menjadi guru
Saya kira ini penting untuk kita pahami.
Pada 1 Agustus 2026, Pak Nizar memang resmi memasuki masa purna bakti.
Tetapi apakah pengabdiannya selesai?
Tidak.
Sebab masa kerja bisa selesai.
Seragam dinas bisa dilepas.
Rutinitas datang ke sekolah setiap pagi bisa berakhir.
Jadwal mengajar bisa berhenti.
Tetapi keteladanan tidak mengenal SK pensiun.
Nasihat tidak memiliki batas usia.
Kebaikan tidak memiliki masa berlaku.
Dan ilmu yang pernah diberikan kepada murid tidak ikut pensiun.
Begitu pula pengaruhnya kepada kami, rekan-rekan guru yang pernah belajar darinya.
🌱 Itulah yang saya sebut sebagai "legacy"
Bagi saya, legacy seorang guru bukan hanya berapa tahun ia mengajar.
Bukan hanya berapa banyak sertifikat yang dimiliki.
Bukan hanya berapa banyak jabatan yang pernah diemban.
Bukan pula hanya berapa banyak administrasi yang berhasil diselesaikan.
Legacy seorang guru adalah:
berapa banyak manusia yang menjadi lebih baik karena pernah bertemu dengannya.
Dan kalau ukuran itu yang kita gunakan...
maka perjalanan Pak Nizar tentu tidak berhenti pada tanggal 1 Agustus 2026.
Sebab ada begitu banyak murid yang pernah beliau ajar.
Ada rekan-rekan yang pernah beliau dampingi.
Ada guru-guru muda yang pernah beliau beri nasihat.
Ada saya, yang pernah beliau supervisi ketika masih menjadi guru honorer.
Dan mungkin ada banyak orang lain yang membawa sebagian kecil dari kebaikan beliau ke tempat-tempat yang bahkan tidak pernah beliau ketahui.
40 tahun mengabdi bukan waktu yang sebentar
Empat puluh tahun adalah perjalanan yang panjang.
Empat puluh tahun berarti melewati pergantian generasi.
Murid yang dahulu duduk di bangku sekolah mungkin kini telah menjadi orang tua.
Sebagian mungkin telah menjadi guru.
Sebagian menjadi pegawai.
Sebagian menjadi pengusaha.
Sebagian mungkin menjadi tokoh masyarakat.
Dan tanpa mereka sadari, ada bagian dari perjalanan hidup mereka yang pernah disentuh oleh seorang guru bernama:
Mohammad Nizar.
Itulah mengapa menjadi guru sebenarnya pekerjaan yang sangat unik.
Kita tidak pernah benar-benar tahu sejauh mana pengaruh kita.
Kita mengajar satu kelas.
Tetapi dampaknya bisa berjalan puluhan tahun.
Kita memberi satu nasihat.
Tetapi mungkin nasihat itu diingat seseorang sampai tua.
Kita membantu seorang anak percaya kepada dirinya sendiri.
Lalu anak itu tumbuh dan melakukan sesuatu yang besar.
Dan kita bahkan mungkin tidak pernah tahu bahwa salah satu sumber keberaniannya dahulu berasal dari sebuah kalimat sederhana yang pernah kita ucapkan di kelas.
Kini Abah meninggalkan ruang yang selama ini menjadi rumah keduanya
Saya menggunakan kata “meninggalkan” bukan dalam arti pergi dari kehidupan kami.
Tetapi meninggalkan rutinitas yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari hidupnya.
Sekolah ini akan tetap berjalan.
Bel akan tetap berbunyi.
Guru-guru baru akan datang.
Murid-murid baru akan memenuhi kelas.
Pelajaran IPS akan terus diajarkan.
Dan generasi akan terus berganti.
Tetapi ada satu hal yang tidak akan tergantikan:
jejak orang yang pernah mengabdi di dalamnya.
Mungkin suatu hari nanti ada guru baru yang tidak mengenal Pak Nizar.
Tetapi jika ia bertanya:
“Siapa guru yang dulu pernah mengajar di sini?”
Kami akan menjawab:
“Ada seorang guru bernama Mohammad Nizar.”
Dan jika ia bertanya lagi:
“Seperti apa beliau?”
Mungkin kami tidak perlu menjelaskan terlalu panjang.
Cukup katakan:
“Beliau guru yang baik. Dan banyak orang belajar sesuatu dari beliau.”
❤️ Terima kasih, Abah
Terima kasih karena pernah menjadi senior bagi kami.
Terima kasih karena pernah menjadi guru.
Terima kasih karena pernah menjadi pembimbing.
Terima kasih karena pernah menjadi teman diskusi.
Terima kasih untuk percakapan-percakapan tentang pendidikan.
Tentang kehidupan.
Tentang politik.
Dan tentu saja...
tentang Timnas Indonesia yang kadang membuat kita senang, kadang membuat kita emosi, dan kadang membuat kita bertanya:
“Kapan juara?” 😄🇮🇩⚽
Terima kasih juga karena telah menjadi salah satu orang yang pernah melihat saya ketika masih belajar menjadi guru.
Ketika saya masih menjadi guru honorer.
Ketika saya masih mencari cara untuk menjadi guru yang baik.
Dan ketika mungkin saya masih jauh dari kata pantas disebut guru.
Abah, saya mungkin tidak akan pernah bisa menjadi seperti Bapak
Tetapi saya ingin belajar.
Saya ingin belajar dari ketulusan Bapak.
Dari kesabaran Bapak.
Dari cara Bapak memperlakukan murid.
Dari cara Bapak memberikan nasihat.
Dari cara Bapak menjadi senior tanpa membuat junior merasa rendah.
Dan dari cara Bapak mengabdikan diri dalam waktu yang begitu panjang.
Semoga suatu hari nanti, ketika saya juga sampai pada titik di mana Bapak berada hari ini, saya bisa menoleh ke belakang dan berkata:
“Setidaknya saya pernah berusaha menjadi guru sebaik orang-orang yang dulu mengajari saya.”
Dan salah satu nama yang akan saya ingat tentu saja:
Abah Mohammad Nizar.
Selamat memasuki masa purna tugas, Abah. 🎓❤️
40 tahun mengabdi untuk negeri.
Untuk pendidikan.
Untuk anak-anak.
Untuk sekolah.
Untuk Blega.
Dan untuk begitu banyak kehidupan yang pernah disentuh oleh tangan seorang guru.
Semoga setelah ini kehidupan Bapak menjadi lebih lapang.
Lebih banyak waktu untuk keluarga.
Lebih banyak waktu untuk menikmati hidup.
Lebih banyak waktu untuk berbincang.
Lebih banyak waktu untuk futsal, sepak bola, dan tentu saja...
membahas Timnas Indonesia. 😄🇮🇩
Sehat selalu, Abah.
Sukses selalu.
Bahagia selalu.
Dan jika suatu hari kami membutuhkan nasihat lagi...
semoga pintu rumah dan hati Abah tetap terbuka.
Sebab bagi kami,
Bapak boleh pensiun dari sekolah.
Tetapi...
Bapak tidak pernah pensiun dari ingatan kami.
Dan yang paling penting:
Bapak tidak pernah pensiun dari keteladanan.
Selamat menikmati babak baru kehidupan, Abah. 🙏🏽❤️
Terima kasih telah mengabdikan diri untuk negeri, khususnya untuk pendidikan di Kecamatan Blega.
Semoga legacy kebaikan Bapak terus hidup melalui kami dan melalui murid-murid yang pernah Bapak didik.
Dan semoga kami yang masih melanjutkan perjalanan ini mampu menjaga apa yang telah Bapak tanam:
mengajar dengan ilmu,
mendidik dengan hati,
dan mengabdi dengan ketulusan. "Doakan Kami Bisa Sehabat Abah"
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja


Komentar
Posting Komentar