MELINDUNGIMU DARI SIKSA KUBUR
INI YANG AKAN MELINDUNGIMU DARI SIKSA KUBUR
Ketika Rumah Terakhir Mengajarkan Kita Apa yang Sebenarnya Kita Bawa dari Dunia
“Pada akhirnya, yang menemani kita bukan rumah yang kita bangun, bukan kendaraan yang kita miliki, bukan jabatan yang kita sandang, tetapi amal yang pernah kita tanam selama hidup.”
Ada satu perjalanan yang pasti akan dilakukan oleh setiap manusia.
Tidak peduli seberapa tinggi jabatannya.
Tidak peduli seberapa banyak hartanya.
Tidak peduli seberapa terkenal namanya.
Tidak peduli apakah ia tinggal di rumah mewah atau rumah sederhana.
Pada suatu hari, kita semua akan sampai pada sebuah tempat yang sangat sunyi.
Kuburan.
Di sana tidak ada lagi kartu nama.
Tidak ada jabatan.
Tidak ada pengikut media sosial.
Tidak ada rekening bank.
Tidak ada penghargaan.
Tidak ada tepuk tangan.
Yang tersisa hanyalah manusia dan apa yang pernah ia kerjakan.
Dan mungkin karena itulah sebuah hadis yang menjadi bahan renungan dalam tulisan ini terasa begitu dalam.
Dalam riwayat yang dinisbatkan kepada Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, digambarkan bahwa ketika seorang mukmin berada di dalam kubur dan datang kepadanya azab dari berbagai arah, amal-amal salehnya menjadi penghalang. Dari arah kepala disebutkan bacaan Al-Qur'an; dari arah tangan sedekah; dan dari arah kaki langkah menuju masjid. Riwayat ini dinukil dari ath-Thabrani dan dinilai hasan dalam Shahih at-Targhib no. 3561.
Saya tidak ingin membacanya hanya sebagai cerita tentang alam kubur.
Saya ingin mengajak kita membaca pesan yang jauh lebih dalam:
Apa yang kita lakukan hari ini sedang membentuk siapa diri kita ketika suatu hari nanti kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan apa-apa.
Kita Sering Sibuk Menyiapkan Rumah, Tetapi Lupa Menyiapkan Rumah Terakhir
Manusia adalah makhluk yang sangat pandai merencanakan masa depan.
Kita menabung untuk membeli rumah.
Kita membeli tanah.
Kita menyiapkan pendidikan anak.
Kita memikirkan dana pensiun.
Kita membeli asuransi.
Kita merencanakan perjalanan.
Kita bahkan membuat daftar cita-cita untuk lima atau sepuluh tahun ke depan.
Semua itu baik.
Tetapi ada satu pertanyaan yang sering kita hindari:
Bagaimana dengan rumah yang pasti kita tempati setelah kehidupan ini?
Kita begitu teliti memilih lokasi rumah di dunia.
Tetapi apakah kita juga serius mempersiapkan tempat kembali?
Kita menghias rumah dengan berbagai benda.
Tetapi apakah kita menghias kehidupan dengan amal?
Kita memperhatikan keamanan rumah.
Tetapi apakah kita memperhatikan keamanan akhirat?
Kita memastikan pintu rumah terkunci sebelum tidur.
Tetapi apakah kita memastikan bahwa hati kita tidak tertutup dari kebaikan?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar berat.
Tetapi kematian memang seharusnya membuat kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia.
Bukan untuk takut berlebihan.
Melainkan untuk mengingat tujuan.
Ketika Semua yang Kita Miliki Perlahan Ditinggalkan
Bayangkan hari ketika kita meninggal.
Orang-orang akan mengantar kita.
Mereka mungkin menangis.
Mereka mungkin memeluk keluarga kita.
Mereka mungkin menceritakan kebaikan kita.
Kemudian tubuh kita dibawa ke tempat peristirahatan.
Tanah ditutup.
Orang-orang perlahan meninggalkan kita.
Suara langkah mereka semakin jauh.
Dan kita tinggal sendiri.
Pada saat itu, harta yang selama ini kita kumpulkan tidak ikut masuk.
Rumah yang kita bangun tetap berdiri.
Kendaraan tetap berada di garasi.
Jabatan akan digantikan.
Ponsel akan berpindah tangan.
Akun media sosial mungkin masih aktif.
Tetapi kita sudah tidak lagi menggunakannya.
Lalu apa yang benar-benar kita bawa?
Amal.
Ternyata Amal yang Kita Anggap Kecil Bisa Menjadi Sangat Besar
Ada sesuatu yang indah dari agama.
Kebaikan tidak selalu harus spektakuler.
Tidak semua amal harus diketahui banyak orang.
Tidak semua kebaikan harus difoto.
Tidak semua sedekah harus dipublikasikan.
Kadang amal yang paling bernilai justru dilakukan dalam diam.
Memberi makan seseorang.
Membantu tetangga.
Mengajar anak.
Membaca Al-Qur'an.
Mendirikan salat.
Bersedekah.
Mengunjungi orang sakit.
Menolong seseorang yang kesulitan.
Menyingkirkan sesuatu yang mengganggu jalan.
Bahkan sebuah senyuman.
Kita tidak pernah tahu amal mana yang paling berarti di sisi Allah.
Karena itu, jangan meremehkan kebaikan hanya karena terlihat kecil.
Al-Qur'an: Bukan Hanya untuk Dibaca, Tetapi untuk Menemani Kehidupan
Materi dalam gambar menyebut bacaan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang melindungi dari arah kepala.
Terlepas dari bagaimana kita memahami gambaran metaforis dalam riwayat tersebut, ada pesan spiritual yang sangat indah:
Al-Qur'an seharusnya tidak hanya hadir ketika kita sedang membutuhkan pertolongan.
Ia seharusnya hadir ketika kita menjalani kehidupan.
Bukan hanya dibaca ketika ada kematian.
Bukan hanya dibuka ketika hati sedang sedih.
Bukan hanya diperdengarkan ketika bulan Ramadan.
Tetapi menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Kita membaca.
Kita memahami.
Kita merenungkan.
Kita mengamalkan.
Karena membaca Al-Qur'an bukan sekadar menyelesaikan jumlah halaman.
Tujuan akhirnya adalah agar ayat-ayat itu perlahan mengubah cara kita hidup.
Sedekah: Ketika Tangan yang Memberi Menjadi Tangan yang Menolong
Ada bagian yang sangat menarik dalam materi tersebut:
sedekah digambarkan berada di sisi tangan.
Seolah-olah ada pesan sederhana:
Tangan yang selama hidupnya digunakan untuk memberi, kelak memiliki cerita sendiri.
Tangan yang pernah membantu.
Tangan yang pernah berbagi.
Tangan yang pernah mengulurkan makanan.
Tangan yang pernah memberikan uang kepada orang yang membutuhkan.
Tangan yang pernah menghapus air mata.
Tangan yang pernah mengangkat seseorang yang jatuh.
Bukankah tangan kita sebenarnya sedang menulis sejarahnya sendiri?
Pertanyaannya:
Lebih banyak apa yang keluar dari tangan kita—memberi atau mengambil?
Dan Ada Kaki yang Pernah Berjalan Menuju Masjid
Materi tersebut juga menyebut langkah kaki menuju masjid sebagai salah satu amal yang menjadi pelindung.
Saya teringat sebuah hal sederhana:
Kaki kita setiap hari berjalan ke banyak tempat.
Ke kantor.
Ke pasar.
Ke sekolah.
Ke mal.
Ke tempat wisata.
Ke rumah teman.
Ke mana-mana.
Tetapi ada kaki yang memilih berjalan menuju tempat ibadah.
Langkah itu mungkin terlihat biasa bagi manusia.
Tetapi dalam perspektif iman, tidak ada langkah menuju kebaikan yang benar-benar sia-sia.
Dan ini mengajarkan sesuatu:
Tubuh kita sebenarnya sedang menjadi saksi ke mana saja kita memilih pergi.
Jangan Tunggu Tua untuk Mulai Menjadi Baik
Ada satu kesalahan yang sering dilakukan manusia.
Kita menganggap bahwa waktu untuk berbuat baik masih panjang.
“Nanti kalau sudah tua saya akan lebih rajin ibadah.”
“Nanti kalau sudah punya uang saya akan banyak sedekah.”
“Nanti kalau pekerjaan sudah selesai saya akan lebih banyak membaca Al-Qur'an.”
“Nanti kalau sudah pensiun saya akan lebih dekat dengan masjid.”
Masalahnya...
tidak ada seorang pun yang diberi kalender kematiannya.
Kita tahu tanggal lahir.
Tetapi tidak tahu tanggal kembali.
Itulah sebabnya amal tidak seharusnya menunggu masa yang sempurna.
Kebaikan terbaik adalah kebaikan yang dilakukan ketika kesempatan masih ada.
Kita Sering Takut Kehilangan Dunia, Padahal Dunia Memang Akan Hilang
Kita takut kehilangan pekerjaan.
Takut kehilangan uang.
Takut kehilangan rumah.
Takut kehilangan jabatan.
Takut kehilangan popularitas.
Takut kehilangan orang yang kita cintai.
Semua itu manusiawi.
Tetapi ada kehilangan yang jauh lebih besar:
kehilangan kesempatan untuk beramal.
Selama kita hidup, pintu itu masih terbuka.
Kita masih bisa meminta maaf.
Masih bisa bersedekah.
Masih bisa salat.
Masih bisa membaca Al-Qur'an.
Masih bisa membantu orang.
Masih bisa memperbaiki hubungan.
Masih bisa belajar.
Masih bisa bertobat.
Tetapi ketika kematian datang...
kesempatan itu selesai.
Mungkin Persoalannya Bukan Berapa Banyak Amal Kita
Saya sering berpikir bahwa kita terlalu sibuk menghitung.
Berapa kali khatam?
Berapa rupiah sedekah?
Berapa rakaat?
Berapa kali ke masjid?
Berapa banyak kegiatan keagamaan?
Semua itu penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih dalam:
Apa yang terjadi pada diri kita setelah melakukan semua itu?
Apakah kita menjadi lebih lembut?
Lebih jujur?
Lebih sabar?
Lebih peduli?
Lebih mudah memaafkan?
Lebih takut menyakiti orang?
Lebih mampu menahan diri?
Karena ibadah seharusnya tidak hanya mengubah jadwal kita.
Ia seharusnya mengubah diri kita.
Jangan Sampai Kita Rajin Beribadah Tetapi Lupa Menjadi Manusia
Ini bagian yang kadang menyakitkan.
Kita bisa sangat rajin membaca.
Tetapi masih suka merendahkan orang.
Kita bisa sering ke masjid.
Tetapi masih mudah menyakiti tetangga.
Kita bisa banyak bersedekah.
Tetapi masih suka berlaku tidak jujur.
Kita bisa rajin mengikuti kajian.
Tetapi masih senang menyebarkan kebencian.
Maka barangkali yang perlu kita perbaiki bukan hanya jumlah amal, tetapi kualitas manusia yang lahir dari amal tersebut.
Sebab agama bukan sekadar ritual.
Ia juga akhlak.
Kalau Hari Ini Adalah Hari Terakhir Kita?
Coba berhenti membaca sebentar.
Bayangkan...
Jika malam ini ternyata menjadi malam terakhir kita.
Apa yang masih ingin kita lakukan?
Siapa yang ingin kita temui?
Siapa yang ingin kita mintai maaf?
Siapa yang ingin kita peluk?
Amal apa yang ingin kita tambahkan?
Buku apa yang ingin kita baca?
Ayat apa yang ingin kita ulang?
Sedekah apa yang ingin kita berikan?
Dan kebaikan apa yang selama ini kita tunda?
Pertanyaan seperti ini bukan untuk membuat kita hidup dalam ketakutan.
Justru sebaliknya.
Ia membantu kita hidup dengan lebih sadar.
Kematian Seharusnya Membuat Kita Lebih Hidup
Ini mungkin terdengar paradoks.
Tetapi orang yang benar-benar mengingat kematian seharusnya bukan menjadi manusia yang murung.
Ia justru menjadi manusia yang lebih menghargai waktu.
Lebih menghargai keluarga.
Lebih menghargai kesempatan.
Lebih cepat meminta maaf.
Lebih ringan membantu.
Lebih hati-hati menyakiti.
Lebih banyak bersyukur.
Karena ia tahu:
waktu tidak pernah kembali.
Hari ini tidak bisa diulang.
Kesempatan hari ini mungkin tidak datang lagi besok.
Orang yang kita cintai mungkin tidak selamanya berada di samping kita.
Maka jangan tunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Ada Amal yang Terus Hidup Setelah Kita Mati
Dan di sinilah pembahasan tentang bekal kubur menjadi semakin luas.
Islam juga mengajarkan bahwa ada amal yang manfaatnya terus mengalir setelah seseorang meninggal.
Dalam hadis yang masyhur disebutkan:
“Apabila manusia meninggal, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
Ini luar biasa.
Artinya, kehidupan kita dapat meninggalkan sesuatu yang tetap bekerja setelah kita tidak lagi berada di dunia.
Sebuah buku yang kita tulis.
Seorang murid yang kita ajar.
Sebuah ilmu yang kita bagikan.
Sebuah pohon yang kita tanam.
Sebuah masjid yang kita bantu bangun.
Sebuah beasiswa yang kita berikan.
Seorang anak yang kita didik dengan baik.
Sebuah kebiasaan baik yang kita wariskan.
Kita bisa pergi, tetapi kebaikan kita masih bisa berjalan.
Dan Mungkin Inilah Bentuk “Warisan” yang Sesungguhnya
Kita sering berpikir tentang warisan dalam bentuk tanah.
Rumah.
Tabungan.
Perhiasan.
Bisnis.
Tetapi ada warisan yang jauh lebih panjang:
ilmu.
Bayangkan seorang guru meninggal.
Tetapi muridnya masih mengajar orang lain.
Ilmu itu terus berpindah.
Seorang penulis meninggal.
Tetapi bukunya masih dibaca.
Seorang ibu meninggal.
Tetapi akhlak yang ia tanamkan kepada anaknya masih hidup.
Seorang ayah meninggal.
Tetapi nasihatnya masih menjadi pegangan anak-anaknya.
Itulah warisan yang tidak selalu tercatat dalam sertifikat.
Tetapi bisa tercatat dalam kehidupan manusia.
Maka, Sebelum Kuburan Menjadi Rumah Kita, Jadikan Dunia sebagai Ladang Amal
Kita masih punya waktu.
Gunakan.
Masih punya tangan.
Gunakan untuk memberi.
Masih punya kaki.
Gunakan untuk berjalan menuju kebaikan.
Masih punya mata.
Gunakan untuk membaca.
Masih punya mulut.
Gunakan untuk berkata baik.
Masih punya pikiran.
Gunakan untuk belajar.
Masih punya hati.
Gunakan untuk mencintai.
Masih punya kesempatan.
Gunakan untuk bertobat.
Karena suatu hari nanti, semua itu akan berhenti.
Dan ketika berhenti...
yang tersisa adalah apa yang telah kita tanam.
Jangan Tunggu Menjadi Orang Baik untuk Berbuat Baik
Ada orang yang berkata:
“Saya belum baik, jadi belum pantas berdakwah.”
“Saya masih banyak dosa, jadi belum pantas mengaji.”
“Saya belum kaya, jadi belum bisa bersedekah.”
Tidak.
Jangan menunggu sempurna.
Kita semua sedang belajar.
Berbuat baik bukan hadiah karena kita sudah sempurna.
Berbuat baik adalah salah satu cara agar kita terus diperbaiki.
Baca satu halaman.
Sedekah sedikit.
Salat tepat waktu.
Datang ke masjid.
Membantu seseorang.
Meminta maaf.
Memaafkan.
Menjaga lisan.
Menahan amarah.
Sederhana.
Tetapi jika dilakukan terus-menerus dengan ikhlas, ia menjadi jalan hidup.
Pada Akhirnya, Kuburan Tidak Bertanya Berapa Banyak Kita Punya
Kuburan tidak bertanya:
Berapa jumlah pengikutmu?
Berapa luas rumahmu?
Berapa mahal mobilmu?
Berapa tinggi jabatanmu?
Berapa banyak orang mengenal namamu?
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang telah kamu lakukan dengan kehidupan yang diberikan kepadamu?
Apakah ilmu yang diberikan menjadi manfaat?
Apakah harta yang dititipkan pernah dibagikan?
Apakah tubuh yang sehat digunakan untuk kebaikan?
Apakah waktu yang panjang digunakan untuk mendekat kepada-Nya?
Apakah keberadaanmu membuat kehidupan orang lain sedikit lebih baik?
Mungkin Inilah Pesan Terbesar dari Materi Ini
Jangan membaca tentang siksa kubur hanya untuk merasa takut.
Bacalah untuk mengubah cara kita menjalani hidup.
Jangan membaca tentang amal yang melindungi di kubur hanya untuk menghafal jenis amal.
Tanyakan:
“Apakah hari ini saya sedang menanamnya?”
Jika Al-Qur'an disebut sebagai pelindung, maka dekatilah Al-Qur'an.
Jika sedekah menjadi amal yang disebutkan, maka biasakan memberi.
Jika langkah menuju masjid menjadi amal yang bernilai, maka jangan remehkan langkah-langkah itu.
Jika ilmu yang bermanfaat dapat terus mengalir setelah kematian, maka belajarlah dan bagikan ilmu.
Jika anak saleh dapat menjadi doa bagi orang tua, maka didiklah anak dengan cinta dan keteladanan.
Karena sesungguhnya...
Kita sedang membangun rumah akhirat kita sendiri, setiap hari, melalui apa yang kita lakukan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Kita sibuk menyiapkan rumah untuk ditinggali.
Kita sibuk menyiapkan masa depan untuk dinikmati.
Kita sibuk menyiapkan tabungan untuk hari tua.Tetapi jangan lupa menyiapkan sesuatu untuk hari ketika semua itu tidak lagi bisa kita bawa.
Bacaan Al-Qur'an yang kita jaga.
Sedekah yang kita keluarkan.
Salat yang kita tegakkan.
Langkah yang kita ayunkan menuju kebaikan.
Ilmu yang kita ajarkan.
Kebaikan yang kita tinggalkan.Karena mungkin, ketika suatu hari kita sendirian di dalam tanah, kita akan berharap ada sesuatu dari kehidupan kita yang datang dan berkata:
“Tenang... aku pernah kau lakukan ketika engkau masih hidup. Hari ini aku datang untuk menemanimu.”
Maka jangan tunggu besok untuk menjadi lebih baik.
Sebab kita tidak pernah tahu, apakah besok masih menjadi milik kita.
— Abdulloh Aup
“Guru yang Biasa Saja”

Komentar
Posting Komentar