KODING BUKAN RAJA

 


KODING BUKAN RAJA: JANGAN AJARI ANAK MEMANDANG ILMU LAIN SEBAGAI KELAS DUA

Di bulan kemerdekaan, mungkin yang perlu kita merdekakan bukan hanya cara anak belajar teknologi, tetapi juga cara kita memandang ilmu.

Ada sebuah kalimat yang mungkin terdengar keren di telinga anak-anak:

“Sekarang Koding lebih penting daripada pelajaran lain.”

Murid mungkin langsung terkesan.

Guru mungkin merasa sedang membawa anak-anak menuju masa depan.

Apalagi sekarang kita hidup di zaman AI, robotika, machine learning, aplikasi, dan segala sesuatu yang serba digital.

Tetapi tunggu sebentar.

Benarkah Koding lebih penting daripada ilmu yang lain?

Atau jangan-jangan kita sedang mengulangi kesalahan lama dengan mengganti satu bentuk keangkuhan ilmu dengan bentuk keangkuhan yang baru?

Dulu orang mungkin menganggap hafalan sebagai ukuran kecerdasan.

Sekarang jangan sampai kita berpindah menjadi:

“Kalau tidak bisa coding, berarti ketinggalan zaman.”

Padahal ilmu pengetahuan tidak pernah dibangun seperti perlombaan siapa yang paling tinggi.

Ilmu bukan kerajaan yang membutuhkan satu raja.

Ilmu adalah ekosistem.

Dan di dalam ekosistem itu, setiap cabang memiliki perannya masing-masing.


KODING MEMANG PENTING. TAPI BUKAN BERARTI PALING PENTING.

Mari kita mulai dengan adil.

Koding itu penting.

Bahkan sangat penting.

Ia melatih cara berpikir sistematis, algoritmik, pemecahan masalah, pengenalan pola, dan kemampuan mengubah gagasan menjadi instruksi yang dapat dijalankan mesin.

Kebijakan pendidikan Indonesia pun menempatkan Koding dan Kecerdasan Artifisial sebagai mata pelajaran pilihan yang dapat disediakan satuan pendidikan sesuai sumber daya dan dipilih murid sesuai minat. Pemerintah juga membuka kemungkinan integrasinya dengan mata pelajaran lain serta kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. (Kurikulum Kemendikdasmen)

Jadi sejak awal saja sebenarnya pesannya sudah jelas:

Koding bukan untuk menggantikan ilmu lain.

Ia hadir untuk melengkapi.

Koding adalah alat.

Dan alat menjadi berguna ketika manusia tahu untuk apa alat itu digunakan.

Pisau bisa digunakan untuk memasak.

Bisa juga digunakan untuk melukai.

Komputer bisa digunakan untuk menemukan solusi.

Bisa juga digunakan untuk menyebarkan kebohongan.

AI bisa membantu manusia belajar.

Bisa juga membuat manusia malas berpikir.

Maka persoalannya bukan sekadar:

“Apakah anak bisa coding?”

Tetapi:

“Untuk apa kemampuan coding itu digunakan?”

Dan pertanyaan kedua membutuhkan ilmu yang jauh lebih luas daripada sekadar kode.


SEBELUM ADA KODING, MANUSIA SUDAH BERPIKIR (Filsafat & Mother of Science)

Ini bagian yang sering kita lupakan secara Filsafat.

Koding bukanlah awal dari kemampuan berpikir manusia.

Justru kemampuan berpikirlah yang memungkinkan manusia menciptakan koding.

Sebelum ada Python.

Sebelum ada JavaScript.

Sebelum ada komputer.

Sebelum ada internet.

Bahkan sebelum ada listrik...

manusia sudah bertanya.

Mengapa?

Bagaimana?

Apa sebabnya?

Apa akibatnya?

Apa yang benar?

Apa yang baik?

Apa yang indah?

Apa yang adil?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kemudian melahirkan berbagai cabang pengetahuan.

Dalam sejarah pemikiran, filsafat sering dipahami sebagai salah satu akar penting yang melahirkan dan mempertanyakan dasar-dasar berbagai ilmu. Ia tidak hadir untuk mengajarkan seseorang mengetik kode, tetapi untuk bertanya tentang hakikat pengetahuan, kebenaran, realitas, nilai, dan cara manusia mengetahui sesuatu.

Dan pertanyaan seperti:

“Apakah teknologi ini seharusnya dibuat?”

jauh lebih filosofis daripada:

“Bagaimana cara membuatnya?”

Koding menjawab bagaimana.

Filsafat sering memaksa kita bertanya:

“Mengapa?”

Dan jangan remehkan pertanyaan itu.

Karena manusia bisa membuat sesuatu hanya karena ia mampu.

Tetapi manusia yang bijaksana bertanya apakah sesuatu itu layak dibuat.


LALU MATEMATIKA? (The Queen of s

Sciences)

Kalau ingin membuat pernyataan bahwa satu ilmu lebih fundamental, kita akan segera masuk ke wilayah yang rumit.

Matematika memiliki posisi luar biasa dalam perkembangan ilmu karena menyediakan bahasa, struktur, model, dan alat penalaran bagi banyak bidang.

Tanpa matematika, banyak algoritma akan kehilangan fondasinya.

Tanpa logika, algoritma menjadi kumpulan instruksi tanpa ketertiban.

Tanpa konsep pola, relasi, fungsi, probabilitas, statistik, dan struktur...

dunia komputasi akan menjadi sangat berbeda.

Jadi ketika seseorang mengatakan:

“Koding adalah masa depan!”

Saya ingin bertanya sedikit:

“Dengan matematika yang mana?”

Karena komputer tidak tiba-tiba menjadi pintar hanya karena kita mengetik kode.

Di balik kode ada logika.

Di balik logika ada struktur.

Di balik struktur ada matematika.

Dan di balik pertanyaan tentang bagaimana matematika digunakan untuk memahami realitas, kita kembali bertemu dengan filsafat.

Begitulah ilmu bekerja.

Ia saling bertaut.

Bukan saling meniadakan.


BAHKAN KETIKA KITA BERBICARA, ADA “KOMPUTASI” DI DALAM TUBUH KITA

Nah, ini bagian yang sedikit membuat kita tersenyum. 😅

Bayangkan seseorang berdiri di depan kelas lalu berkata:

“Koding adalah ilmu paling penting!”

Ia berbicara panjang lebar tentang teknologi.

Tetapi mungkin ia lupa bahwa untuk bisa berdiri, berpikir, menggerakkan otot, dan menghasilkan suara, tubuhnya sedang menjalankan sistem biologis yang luar biasa kompleks.

Neuron menghasilkan dan menghantarkan sinyal listrik melalui perubahan potensial membran dan pergerakan ion. Sinyal ini memungkinkan informasi bergerak sepanjang sistem saraf. (NCBI)

Jadi sebelum kita sibuk mengajari anak menulis:

if...
else...

tubuh kita sendiri sudah memiliki sistem pengolahan informasi yang jauh lebih kompleks daripada komputer yang kita gunakan sehari-hari.

Dan kemudian kita sampai pada sesuatu yang lebih menakjubkan:

DNA.

DNA menyimpan informasi biologis menggunakan urutan basa A, T, C, dan G. Informasi tersebut ditranskripsikan dan diterjemahkan melalui mekanisme seluler untuk membantu menghasilkan protein. Dalam biologi, istilah genetic code memang digunakan untuk menjelaskan bagaimana informasi tersebut dibaca dalam bentuk kodon. (Genome.gov)

Kalau mau memakai bahasa metaforis:

sebelum manusia mengenal coding, kehidupan sudah memiliki “bahasa instruksi” biologisnya sendiri.

Tetapi hati-hati.

Ini bukan berarti DNA adalah coding komputer.

DNA bekerja melalui mekanisme kimia dan biologis yang sangat berbeda dari program komputer.

Namun analoginya menarik:

manusia menciptakan kode, sementara manusia sendiri lahir dari sistem biologis yang menyimpan dan menerjemahkan informasi.

Bukankah itu seharusnya membuat kita semakin rendah hati?


KODING TANPA BAHASA BISA KEHILANGAN ARAH

Mari kita lihat dari sisi lain.

Kode adalah bahasa.

Python adalah bahasa.

JavaScript adalah bahasa.

Tetapi apa yang terjadi kalau seseorang mampu menulis kode tetapi tidak mampu memahami manusia?

Ia mungkin bisa membuat aplikasi.

Tetapi belum tentu tahu apakah aplikasi itu dibutuhkan.

Ia mungkin bisa membuat sistem rekomendasi.

Tetapi belum tentu memahami dampak sosialnya.

Ia mungkin bisa membuat algoritma.

Tetapi belum tentu memahami bias yang mungkin muncul dari data.

Karena itu, literasi bahasa tetap penting.

Kemampuan membaca tetap penting.

Kemampuan menulis tetap penting.

Kemampuan memahami konteks tetap penting.

Karena komputer membaca kode, tetapi manusia membaca makna.


KODING TANPA SENI BISA MEMBUAT TEKNOLOGI YANG TAK DISUKAI MANUSIA

Sebuah aplikasi mungkin bekerja sempurna.

Tetapi tampilannya buruk.

Navigasinya membingungkan.

Warnanya tidak nyaman.

Tidak ramah bagi pengguna.

Tidak mempertimbangkan kebutuhan kelompok tertentu.

Di sinilah seni, desain, psikologi, komunikasi visual, dan pengalaman pengguna menjadi penting.

Sebuah produk digital yang hebat bukan hanya tentang:

“Apakah programnya berjalan?”

Tetapi juga:

“Apakah manusia nyaman menggunakannya?”

Teknologi yang hebat bukan sekadar teknologi yang mampu bekerja.

Ia harus mampu melayani manusia.


KODING TANPA SAINS HANYA AKAN MENJADI ALAT YANG KEHILANGAN OBJEK

Bayangkan kita meminta seorang programmer membuat aplikasi untuk memprediksi cuaca.

Ia bisa membuat algoritmanya.

Tetapi apakah ia cukup hanya dengan coding?

Tidak.

Ia membutuhkan meteorologi.

Fisika.

Matematika.

Statistika.

Data.

Bahkan geografi.

Atau kita ingin membuat aplikasi kesehatan.

Maka kita membutuhkan biologi.

Anatomi.

Fisiologi.

Kedokteran.

Etika.

Privasi.

Dan masih banyak lagi.

Membuat aplikasi keuangan?

Kita membutuhkan ekonomi.

Akuntansi.

Matematika.

Hukum.

Perilaku manusia.

Jadi sebenarnya:

Koding adalah perkakas.

Dan seorang tukang yang hebat bukan hanya karena memiliki palu.

Ia juga harus tahu apa yang sedang dibangun.


MAKA JANGAN AJARI ANAK UNTUK MEMUJA KODING

Ajari mereka memahami koding.

Ajari mereka menggunakan teknologi.

Ajari mereka berpikir komputasional.

Ajari mereka membuat solusi.

Tetapi pada saat yang sama...

Ajari mereka membaca.

Ajari mereka menghitung.

Ajari mereka memahami alam.

Ajari mereka memahami manusia.

Ajari mereka sejarah.

Ajari mereka seni.

Ajari mereka bahasa.

Ajari mereka etika.

Ajari mereka bertanya.

Ajari mereka meragukan informasi yang belum terbukti.

Ajari mereka membedakan:

data dan opini,

fakta dan propaganda,

kemampuan dan kebijaksanaan.

Karena masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang bisa membuat teknologi.

Masa depan membutuhkan manusia yang tahu kapan teknologi harus digunakan dan kapan teknologi justru harus dibatasi.


DAN DI SINILAH GURU HARUS BERHATI-HATI

Guru memiliki kekuatan yang sangat besar.

Satu kalimat guru bisa menjadi keyakinan seorang anak selama bertahun-tahun.

Ketika guru mengatakan:

“Pelajaran ini paling penting.”

anak bisa menyimpulkan:

“Berarti pelajaran lain tidak penting.”

Padahal tidak demikian.

Mungkin yang sebenarnya ingin disampaikan adalah:

“Koding sangat penting untuk masa depan.”

Kalimat itu jauh lebih sehat.

Karena kita sedang mengajarkan apresiasi, bukan hierarki yang tidak perlu.

Guru tidak perlu mengecilkan ilmu lain untuk membesarkan bidang yang ia ajarkan.

Kita tidak perlu mematikan lampu orang lain agar lampu kita terlihat terang.


KEMERDEKAAN JUGA BERARTI MERDEKA DARI FANATISME ILMU

Lucunya, kita sedang berada di bulan kemerdekaan.

Kita bicara tentang Indonesia yang merdeka.

Tetapi jangan sampai kemerdekaan hanya berhenti pada upacara dan bendera.

Ada kemerdekaan intelektual yang jauh lebih penting:

merdeka untuk bertanya.

Merdeka untuk berbeda pendapat.

Merdeka untuk mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Merdeka untuk mengakui:

“Saya keliru.”

Merdeka untuk belajar lagi.

Dan yang paling sulit:

merdeka dari keangkuhan karena merasa paling tahu.


SALAH ITU BUKAN MASALAH TERBESAR

Kalau seorang guru pernah mengatakan sesuatu yang kurang tepat, sebenarnya tidak perlu dunia pendidikan runtuh.

Manusia bisa salah.

Guru bisa salah.

Saya pun bisa salah.

Yang membedakan manusia terdidik bukanlah tidak pernah salah.

Tetapi:

mampu menyadari kesalahan, menerima masukan, memperbaiki pemahaman, lalu tidak mengulanginya.

Itulah pendidikan yang sesungguhnya.

Bukan mempertahankan kesalahan hanya karena sudah terlanjur diucapkan.

Bukan berlindung di balik jabatan.

Bukan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai tameng untuk memenangkan ego.

Dan tentu saja...

bukan membawa-bawa agama hanya untuk membenarkan pendapat pribadi.

Ilmu tidak membutuhkan kesombongan.

Agama tidak membutuhkan keangkuhan.

Guru tidak menjadi lebih hebat hanya karena tidak pernah mengaku salah.

Justru kadang kalimat:

“Maaf, saya keliru. Mari kita belajar lagi.”

adalah salah satu kalimat pendidikan yang paling berharga.


KODING BOLEH MAJU. ILMU LAIN JANGAN DISINGKIRKAN.

Saya justru ingin anak-anak kita belajar coding.

Belajar AI.

Belajar robotika.

Belajar data.

Belajar berpikir komputasional.

Tetapi saya juga ingin mereka membaca buku.

Menghitung.

Menulis.

Mengamati alam.

Mengenal sejarah.

Berdiskusi.

Menggambar.

Bermusik.

Memahami masyarakat.

Mengenal nilai.

Bertanya tentang kebenaran.

Dan belajar menjadi manusia.

Karena kita sedang tidak mencetak mesin yang pandai menggunakan mesin.

Kita sedang mendidik manusia yang akan hidup bersama teknologi.

Itu berbeda.

Sangat berbeda.


MUNGKIN YANG PALING PENTING BUKAN KODINGNYA, TETAPI MANUSIANYA

Bayangkan dua anak.

Anak pertama sangat pintar coding tetapi tidak punya empati.

Anak kedua kemampuan coding-nya biasa saja tetapi mampu memahami masalah manusia, bekerja sama, jujur, kreatif, dan bertanggung jawab.

Siapa yang lebih kita butuhkan?

Jawabannya tidak sesederhana memilih salah satu.

Karena dunia membutuhkan keduanya.

Kompetensi teknis penting.

Tetapi karakter menentukan bagaimana kompetensi itu digunakan.

AI semakin pintar.

Komputer semakin cepat.

Algoritma semakin kompleks.

Tetapi pertanyaan paling manusiawi tetap sama:

Untuk apa semua itu?


JADI, KODING PENTING?

Iya.

Sangat penting.

APAKAH KODING PALING PENTING?

Tidak sesederhana itu.

Karena ilmu pengetahuan bukan lomba siapa yang menjadi juara pertama.

Fisika membutuhkan matematika.

Biologi membutuhkan kimia.

Teknologi membutuhkan matematika dan sains.

Koding membutuhkan logika dan bahasa.

AI membutuhkan data, matematika, statistika, ilmu komputer, dan pemahaman manusia.

Dan semuanya pada akhirnya membutuhkan sesuatu yang jauh lebih tua daripada komputer:

akal manusia.


Maka kepada siapa pun yang sedang mengajarkan Koding kepada anak-anak:

Teruskan.

Ajarkan dengan serius.

Ajarkan dengan kreatif.

Ajarkan dengan penuh semangat.

Tetapi jangan pernah membuat anak percaya bahwa untuk menjadi hebat ia harus merendahkan ilmu lain.

Karena ketika kita mengatakan:

“Koding paling penting.”

mungkin tanpa sadar kita sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada syntax error:

kesombongan intelektual.

Dan itu adalah error yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan menambahkan satu baris kode.

Mungkin kita perlu debugging bukan hanya pada program...

tetapi juga pada cara kita berpikir.

Belajar dari kesalahan.

Terima masukan.

Buka kembali buku.

Periksa lagi argumen.

Kalau memang keliru, sederhana saja:

minta maaf.

Lalu belajar lagi.

Karena guru tidak harus selalu benar.

Tetapi guru harus selalu mau belajar menjadi lebih benar.

Dan mungkin itulah salah satu bentuk kemerdekaan yang paling indah:

merdeka dari merasa paling tahu.

Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️

Komentar

Postingan Populer