Bukan Tentang Pohon

 

POHON YANG LURUS LEBIH CEPAT DITEBANG

Tentang orang baik, beban yang lebih berat, dan seni menjaga diri agar kebaikan tidak berubah menjadi jalan bagi orang lain untuk memanfaatkan kita.

Ada sebuah pepatah yang sejak lama membuat saya berpikir.

Pohon yang lurus lebih cepat ditebang.
Pohon yang bengkok dibiarkan tumbuh.

Sederhana.

Tetapi semakin direnungkan, semakin terasa getir.

Sebab ternyata pepatah itu bukan hanya berbicara tentang pohon.

Ia sedang berbicara tentang manusia.

Tentang orang-orang yang jujur.

Tentang mereka yang dapat dipercaya.

Tentang orang-orang yang ketika diberi amanah berusaha menyelesaikannya dengan baik.

Dan tentang sebuah ironi kehidupan:

Kadang-kadang, justru karena kita dianggap baik, kita diberi lebih banyak beban.


Yang Lurus Memang Lebih Mudah Dipercaya

Pohon yang lurus memiliki nilai.

Ia bisa menjadi tiang.

Bisa menjadi papan.

Bisa menjadi bahan bangunan.

Karena itu, ia dicari.

Sementara pohon yang bengkok mungkin tetap tumbuh di tempatnya.

Tidak banyak yang membutuhkan.

Tidak banyak yang mencarinya.

Begitu pula manusia.

Ketika seseorang dikenal jujur, orang akan lebih mudah mempercayakan sesuatu kepadanya.

Ketika seseorang dikenal bertanggung jawab, ia lebih sering dimintai bantuan.

Ketika seseorang dikenal rajin, pekerjaan tambahan sering kali datang kepadanya.

Ketika seseorang dikenal tidak banyak mengeluh, orang mengira ia selalu sanggup.

Dan perlahan-lahan muncul sebuah keadaan yang aneh:

orang yang paling bisa diandalkan justru sering menjadi orang yang paling banyak diandalkan.

Awalnya mungkin tidak masalah.

Kita membantu karena ingin membantu.

Kita bekerja karena ingin menyelesaikan amanah.

Kita hadir karena merasa keberadaan kita dibutuhkan.

Tetapi pada suatu titik, kita mulai bertanya dalam diam:

“Mengapa saya terus?”

“Mengapa yang lain tidak?”

“Mengapa orang yang berusaha melakukan yang benar justru mendapatkan beban lebih banyak?”

Pertanyaan seperti itu manusiawi.

Dan tidak perlu kita malu mengakuinya.


KEBAIKAN MEMANG SERING MENDATANGKAN AMANAH

Mungkin di sinilah kita perlu mengubah cara pandang.

Beban yang datang tidak selalu berarti kita sedang dihukum.

Kadang ia datang karena kita dianggap mampu.

Amanah yang lebih besar tidak selalu berarti kehidupan kita lebih buruk.

Kadang ia justru merupakan tanda bahwa ada kepercayaan yang sedang diletakkan di pundak kita.

Tetapi...

jangan romantisasi semua beban.

Ini juga penting.

Tidak semua pekerjaan tambahan adalah amanah.

Tidak semua permintaan bantuan harus diterima.

Tidak semua orang yang datang membawa kebutuhan harus kita layani sampai diri sendiri kehilangan ruang untuk bernapas.

Sebab ada perbedaan besar antara:

menjadi manusia yang bermanfaat

dan

membiarkan diri terus dimanfaatkan.


BAIK BUKAN BERARTI TIDAK PUNYA BATAS

Ada orang yang merasa bersalah ketika mengatakan tidak.

Takut dianggap tidak peduli.

Takut dianggap berubah.

Takut mengecewakan.

Akhirnya semua permintaan diterima.

Semua pekerjaan diambil.

Semua masalah orang lain ikut dipikirkan.

Sampai suatu hari ia kelelahan.

Bukan karena kebaikannya salah.

Tetapi karena kebaikannya tidak memiliki batas.

Padahal mengatakan tidak pada sesuatu yang tidak mampu kita lakukan bukan berarti kita menjadi jahat.

Menolak pekerjaan yang tidak adil bukan berarti kita malas.

Meminta pembagian tugas yang proporsional bukan berarti kita egois.

Mengatakan bahwa kita sedang lelah bukan berarti kita lemah.

Batas yang sehat bukan musuh kebaikan.

Justru batas membantu kebaikan tetap hidup dalam jangka panjang.


JANGAN SAMPAI ORANG BAIK HABIS KARENA TERLALU BANYAK MEMBERI

Ini yang kadang kita lupakan.

Manusia bukan pohon yang bisa terus dipanen tanpa dirawat.

Ada tenaga yang perlu dipulihkan.

Ada tubuh yang perlu beristirahat.

Ada pikiran yang perlu diberi ruang.

Ada keluarga yang juga membutuhkan kehadiran.

Ada ibadah yang membutuhkan ketenangan.

Ada kehidupan pribadi yang tidak boleh selalu dikorbankan demi memenuhi kebutuhan semua orang.

Kita boleh menjadi orang yang bermanfaat.

Tetapi kita juga harus belajar menjadi orang yang merawat dirinya sendiri.

Karena bagaimana mungkin kita terus memberi cahaya jika lampu di dalam diri sendiri dibiarkan padam?


ISTIQAMAH BUKAN BERARTI MEMBIARKAN DIRI DIINJAK-INJAK

Ada satu hal yang menurut saya penting ketika pepatah ini dibawa ke dalam perspektif Islam.

Jangan sampai kita salah memahami maknanya.

Kalau pohon yang lurus lebih cepat ditebang, bukan berarti solusinya adalah:

“Kalau begitu, jadilah bengkok.”

Tidak.

Islam justru mengajarkan istiqamah.

Lurus dalam akidah.

Lurus dalam kejujuran.

Lurus dalam amanah.

Lurus dalam perkataan.

Lurus dalam perbuatan.

Yang perlu kita hindari bukanlah kelurusan akhlak.

Tetapi cara berpikir yang membuat kita percaya bahwa menjadi baik berarti harus selalu berkata iya kepada semua orang.

Istiqamah bukan kehilangan batas.

Sabar bukan membiarkan diri dizalimi.

Ikhlas bukan berarti membenarkan ketidakadilan.

Tawakal bukan berarti berhenti menjaga diri.

Ada kebijaksanaan dalam berkata:

“Saya ingin membantu, tetapi saya juga punya batas kemampuan.”


ORANG BAIK JUGA BERHAK MENGATAKAN “CUKUP”

Mungkin ini salah satu kalimat yang paling sulit bagi orang-orang yang terbiasa menjadi tempat bergantung.

Cukup.

Bukan karena tidak peduli.

Tetapi karena manusia memiliki kapasitas.

Ada pekerjaan yang bisa kita lakukan.

Ada pekerjaan yang harus dibagi.

Ada masalah yang bisa kita bantu.

Ada masalah yang harus diselesaikan oleh orang yang bersangkutan.

Ada orang yang memang membutuhkan pertolongan.

Tetapi ada pula orang yang sebenarnya hanya membutuhkan seseorang untuk terus menyelesaikan masalahnya.

Dan jika kita selalu mengambil alih, kita bukan sedang membantu mereka bertumbuh.

Kita justru mungkin sedang membuat mereka semakin bergantung.


JANGAN IRI KEPADA POHON YANG BENGKOK

Pepatah ini juga mempunyai sisi lain yang tidak kalah menarik.

Kadang kita melihat kehidupan orang lain dan merasa:

“Enak sekali hidupnya.”

Tidak banyak tanggung jawab.

Tidak banyak yang meminta bantuan.

Tidak banyak yang berharap kepadanya.

Sementara kita...

Sedikit-sedikit dicari.

Sedikit-sedikit dimintai tolong.

Sedikit-sedikit diberi amanah.

Lalu kita merasa kehidupan kita lebih berat.

Tetapi kita tidak pernah tahu seluruh cerita seseorang.

Pohon yang berdiri sendirian mungkin memang tidak ditebang.

Tetapi apakah ia menghasilkan sesuatu yang bermanfaat?

Kita tidak selalu tahu.

Jangan mengukur kemuliaan hidup hanya dari seberapa ringan beban yang dipikul.

Ada orang yang hidupnya tampak sederhana tetapi penuh keberkahan.

Ada orang yang memikul amanah besar tetapi hatinya justru menemukan kedamaian di dalamnya.

Dan ada pula orang yang terlihat bebas dari tanggung jawab, tetapi sebenarnya sedang kehilangan kesempatan untuk memberi manfaat.


BEBAN BISA MENJADI JALAN TUMBUH

Dalam kehidupan, tidak semua beban harus dimusuhi.

Ada beban yang justru membuat bahu kita semakin kuat.

Ada amanah yang membuat kita belajar disiplin.

Ada tanggung jawab yang memaksa kita keluar dari zona nyaman.

Ada persoalan yang membuat kita belajar sabar.

Ada kegagalan yang membuat kita lebih rendah hati.

Ada kepercayaan yang membuat kita belajar menjadi manusia yang lebih matang.

Maka mungkin pertanyaannya bukan:

“Mengapa saya yang diberi beban?”

Tetapi sesekali kita bisa bertanya:

“Apa yang sedang Allah tumbuhkan melalui amanah ini?”

Tentu dengan catatan:

amanah harus tetap berada dalam batas yang manusiawi dan adil.


JANGAN SAMPAI KEBAIKAN MENJADI KOMODITAS

Ada fenomena yang sangat halus dalam kehidupan.

Ketika seseorang terus membantu, orang lain mulai menganggap bantuannya sebagai sesuatu yang otomatis tersedia.

Kemarin dibantu.

Hari ini dibantu.

Besok dibantu.

Lama-lama bantuan tidak lagi dianggap sebagai kebaikan.

Ia dianggap sebagai kewajiban.

Dan ketika suatu hari orang baik itu berkata:

“Maaf, kali ini saya tidak bisa.”

Muncullah kekecewaan.

Padahal yang berubah bukan kebaikannya.

Yang berubah adalah ekspektasi orang lain terhadap kebaikannya.

Ini penting.

Jangan biarkan kebaikan yang kita berikan sekali berubah menjadi kewajiban yang harus kita lakukan selamanya.


KITA PERLU BELAJAR MENJADI BAIK DENGAN CERDAS

Saya suka gagasan tentang kebaikan yang berakal.

Bukan hanya baik hati.

Tetapi juga baik dalam mengambil keputusan.

Menolong bukan berarti selalu mengambil alih.

Memberi bukan berarti selalu mengiyakan.

Memaafkan bukan berarti mengizinkan kesalahan yang sama terus berulang.

Sabar bukan berarti tidak boleh mengambil sikap.

Ikhlas bukan berarti tidak boleh meminta keadilan.

Kebaikan membutuhkan kebijaksanaan.

Karena niat baik tanpa kebijaksanaan kadang justru menghasilkan persoalan baru.


DAN MUNGKIN, INILAH MAKNA MENJADI “POHON YANG LURUS”

Kalau kita memang ingin menjadi pohon yang lurus, mari menjadi pohon yang benar-benar bermanfaat.

Tumbuh dengan akar yang kuat.

Menjulang dengan cita-cita tinggi.

Memberi teduh.

Memberi buah.

Memberi kehidupan.

Tetapi jangan lupa:

pohon juga membutuhkan tanah yang sehat.

Pohon juga membutuhkan air.

Pohon juga membutuhkan ruang.

Pohon juga membutuhkan waktu untuk bertumbuh.

Dan pohon yang sehat bukan pohon yang setiap saat memberikan seluruh dirinya untuk ditebang.


ADA WAKTUNYA MEMBERI, ADA WAKTUNYA MENJAGA DIRI

Mungkin inilah keseimbangan yang sering kita cari.

Ketika mampu, bantulah.

Ketika punya kesempatan, berbagilah.

Ketika dipercaya, tunaikanlah amanah.

Ketika diminta pertolongan dan kita mampu, jangan terlalu banyak alasan.

Tetapi ketika sudah melewati batas...

berhentilah sejenak.

Tarik napas.

Periksa diri.

Tanyakan:

Apakah ini masih kebaikan?

Apakah ini masih amanah?

Apakah saya masih mampu?

Apakah saya sedang membantu atau justru sedang dimanfaatkan?

Apakah dengan terus mengatakan “iya”, saya sedang menjaga kebaikan atau sedang merusak diri sendiri?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu kadang menyelamatkan kita dari kelelahan yang panjang.


KARENA HIDUP BUKAN PERLOMBAAN SIAPA YANG PALING BANYAK BERKORBAN

Ini juga penting.

Jangan menjadikan pengorbanan sebagai identitas.

Seolah-olah semakin lelah berarti semakin mulia.

Tidak selalu.

Allah tidak meminta kita menghancurkan diri sendiri demi membuktikan bahwa kita baik.

Yang diminta adalah menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.

Dengan kemampuan.

Dengan keikhlasan.

Dengan kebijaksanaan.

Dengan batas yang sehat.

Dan dengan niat yang benar.

Kebaikan bukan tentang seberapa banyak diri kita habiskan.

Kebaikan adalah tentang seberapa banyak manfaat yang bisa kita hadirkan tanpa kehilangan diri sendiri.


JADI, APAKAH KITA HARUS TAKUT MENJADI POHON YANG LURUS?

Tidak.

Tetaplah lurus.

Tetaplah jujur.

Tetaplah dapat dipercaya.

Tetaplah menjadi orang yang ketika disebut namanya, orang lain merasa aman.

Tetaplah menjadi manusia yang kehadirannya membawa manfaat.

Tetapi belajarlah mengatakan:

“Saya tidak mampu.”

“Saya butuh istirahat.”

“Mari kita bagi tugas.”

“Saya bisa membantu sampai batas ini.”

“Untuk yang ini, mungkin perlu orang lain.”

Itu bukan tanda bahwa kita berubah menjadi buruk.

Itu tanda bahwa kita mulai memahami:

kebaikan juga membutuhkan batas agar tidak berubah menjadi luka.


PADA AKHIRNYA, SAYA MEMILIH TETAP MENJADI POHON YANG LURUS

Bukan karena ingin dipuji.

Bukan karena ingin selalu dipercaya.

Bukan karena ingin mendapatkan lebih banyak amanah.

Tetapi karena saya percaya:

kelurusan tetap lebih baik daripada kebengkokan.

Hanya saja, saya juga ingin belajar menjadi pohon yang tidak mudah ditebang oleh siapa saja.

Kalau ada yang membutuhkan teduh, saya ingin memberi.

Kalau ada yang membutuhkan buah, saya ingin berbagi.

Kalau ada yang membutuhkan tempat berteduh, saya ingin hadir.

Tetapi saya juga ingin belajar menjaga akar.

Sebab kalau akar saya rusak, suatu hari saya tidak akan mampu memberi apa-apa kepada siapa pun.

Maka mungkin kedewasaan bukan tentang berhenti menjadi baik.

Kedewasaan adalah belajar menjadi baik tanpa kehilangan diri sendiri.

Tetap lurus.

Tetap tumbuh.

Tetap bermanfaat.

Tetap rendah hati.

Tetapi tahu kapan harus berkata iya, dan kapan dengan tenang berkata tidak.

Sebab menjadi manusia yang baik bukan berarti menjadi manusia yang bisa dipakai siapa saja.

Jadilah pohon yang lurus.

Berikan teduh, tetapi jangan biarkan akar dicabut.

Berikan buah, tetapi jangan biarkan seluruh kehidupanmu dipanen tanpa batas.

Dan jika suatu hari hidup terasa lebih berat hanya karena kita memilih untuk tetap lurus...

barangkali bukan berarti kita salah memilih jalan.

Mungkin kita hanya sedang belajar bahwa kebaikan adalah amanah, dan menjaga diri adalah bagian dari amanah itu sendiri.

Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️🌱

#ArahBatin #Islam #Tasawuf #RefleksiKehidupan #MenjadiBaik

Komentar

Postingan Populer