Lagu SESI POTRET enau
SESI POTRET: INI LAGU CINTA, LAGU SEDIH, ATAU SURAT YANG TERLAMBAT DIKIRIM KEPADA ORANG TUA?
Sebuah review personal tentang lagu eńau & Ari Lesmana yang membuat kita sadar: ternyata yang paling menyakitkan bukan kehilangan, tetapi menyadari bahwa kita masih punya banyak hal yang belum sempat dilakukan.
Ada lagu yang kita dengarkan dengan telinga.
Ada lagu yang kita dengarkan dengan hati.
Dan ada lagu yang entah bagaimana membuka pintu menuju masa lalu yang selama ini kita kunci rapat-rapat.
Bagi saya, “Sesi Potret” karya eńau bersama Ari Lesmana adalah jenis yang terakhir.
Lagu ini bukan sekadar lagu sedih.
Bahkan saya sempat bertanya:
Ini sebenarnya lagu cinta atau lagu sedih?
Setelah berkali-kali mendengarkan, saya justru menemukan jawaban yang lebih menyakitkan:
Ini lagu tentang cinta yang baru terasa sepenuhnya setelah kehilangan.
“Sesi Potret” dirilis pada 30 Januari 2026 dan menjadi kolaborasi eńau—Putra Permana—bersama kakaknya, Ari Lesmana, vokalis Fourtwnty. Lagu ini ditulis eńau dan diproduseri Kevin Pangestu. eńau sendiri menjelaskan bahwa lagu tersebut lahir dari berbagai kisah kehilangan di sekitarnya, tentang duka, rasa bersalah, penyesalan, dan kerinduan yang datang ketika waktu sudah tidak bisa diputar kembali. (detikcom)
Dan mungkin karena itulah lagu ini terasa begitu dekat.
Karena ia tidak bercerita tentang kehilangan secara abstrak.
Ia bercerita tentang hal-hal kecil yang pernah kita anggap biasa.
SESI POTRET: JEJAK DIGITAL DARI KEABADIAN YANG SEMU
Kita hidup di zaman ketika hampir setiap momen bisa dipotret.
Makan dipotret.
Jalan-jalan dipotret.
Wisuda dipotret.
Ulang tahun dipotret.
Keluarga berkumpul, kamera dikeluarkan.
Senyum.
Klik.
Selesai.
Kita kemudian menyimpannya di galeri, cloud, media sosial, atau entah di mana.
Seolah-olah sebuah foto bisa menyelamatkan waktu.
Padahal foto hanya menyelamatkan gambar.
Bukan orangnya.
Bukan suaranya.
Bukan ocehannya.
Bukan bau tubuhnya.
Bukan cara dia memanggil nama kita.
Bukan marahnya.
Bukan tawanya.
Dan ketika seseorang benar-benar pergi, sebuah foto tiba-tiba berubah fungsi.
Yang dulu hanya dokumentasi...
berubah menjadi pintu menuju kerinduan.
Di situlah “Sesi Potret” menjadi begitu jahat sekaligus indah.
Karena ia mengambil sesuatu yang sederhana—foto keluarga—lalu mengubahnya menjadi simbol kehilangan.
Detik juga menyoroti bagaimana “sesi potret” dalam lagu ini menjadi representasi foto keluarga yang justru terasa menyakitkan ketika satu orang sudah tidak lagi ada di dalam barisan. (detikcom)
LALU MASUKLAH ARANSEMEN ITU...
Yang membuat lagu ini menarik bagi saya bukan hanya ceritanya.
Tetapi bagaimana musiknya tidak buru-buru menangis.
Ada fondasi akustik yang terasa dekat.
Ada perkusi yang membuat lagu tetap bergerak.
Ada lapisan string yang perlahan memperluas ruang emosinya.
Dan di sinilah kejeniusan emosional lagu ini terasa.
Seharusnya lagu tentang kematian membuat kita terpuruk.
Tetapi “Sesi Potret” justru seperti seseorang yang menggandeng tangan kita dan berkata:
“Ayo, kita pulang sebentar ke masa lalu.”
Kita berjalan.
Awalnya biasa saja.
Kemudian mulai teringat.
Lalu tersenyum.
Kemudian diam.
Lalu...
Hening.
Dan tiba-tiba mata basah.
Bukan karena musiknya memaksa kita menangis.
Tetapi karena ceritanya terlalu dekat dengan kehidupan kita.
“BERJUTA ALASAN...”
Saya paling terpukul justru sejak bagian awal.
Tentang seseorang yang dulu belum bisa pulang karena penghasilannya pas-pasan.
Entah mengapa saya langsung merasa:
“Ini gue banget.”
Saya pernah berada pada fase ketika menjadi guru honorer berarti menghitung banyak hal sebelum memutuskan pulang.
Uang transportasi.
Kebutuhan rumah.
Kebutuhan lain.
Kadang ingin pulang, tetapi kondisi berkata:
nanti dulu.
Nanti kalau sudah punya uang.
Nanti kalau sudah lebih mapan.
Nanti kalau sudah sukses.
Nanti kalau sudah bisa membawa sesuatu.
Dan “nanti” adalah salah satu kata paling berbahaya dalam kehidupan.
Karena kita sering mengira:
waktu akan selalu menyediakan kesempatan kedua.
Padahal tidak.
KEMUDIAN ADA SATU KALIMAT TENTANG DOA
Bagian ketika tokohnya akhirnya bisa pulang karena keadaan ekonomi sudah lebih baik terasa seperti kemenangan kecil.
Ia membawa oleh-oleh.
Ia pulang.
Ia sudah siap disambut.
Tetapi hidup ternyata punya kejutan yang paling kejam:
orang yang ingin ditemuinya sudah lebih dahulu pulang.
Bukan pulang ke rumah.
Tetapi pulang kepada Sang Maha Pencipta.
Dan di titik itu, keberhasilan terasa begitu kecil.
Penghasilan yang sudah lumayan tidak bisa mengembalikan seseorang.
Oleh-oleh yang sudah dibeli tidak bisa diberikan.
Rencana yang sudah disiapkan tidak lagi memiliki penerima.
Kita kemudian sadar:
kadang kita terlalu sibuk menyiapkan sesuatu untuk seseorang sampai lupa bahwa yang paling mereka butuhkan sebenarnya adalah kehadiran kita.
“RUMAH BARU” YANG PALING SUNYI
Lalu datanglah bagian yang menurut saya paling brutal.
Tokohnya datang ke “rumah baru”.
Tetapi yang ditemukan bukan orangnya.
Hanya papan.
Nama.
Dan ruang yang kehilangan suara.
Di sinilah lagu ini berhasil melakukan sesuatu yang tidak semua lagu bisa lakukan:
membuat benda mati terasa lebih hidup daripada manusia yang sudah tiada.
Papan nama itu diam.
Tetapi justru diamnya terasa berisik.
Karena kita mulai mengingat:
“Dulu Ibu marah begini.”
“Dulu Bapak ngomel begitu.”
“Dulu rumah selalu ramai.”
“Dulu ada suara itu.”
“Dulu ada aroma itu.”
Sekarang?
Tidak ada.
ANEHNYA, YANG PALING KITA RINDUKAN JUSTRU HAL-HAL YANG DULU KITA BENCI
Ini yang membuat saya merasa lagu ini sangat manusiawi.
Kita sering mengeluh ketika orang tua cerewet.
Disuruh pulang.
Disuruh makan.
Ditanya sudah sampai mana.
Dinasehati.
Dimarahi.
Bahkan kadang kita merasa:
“Ah, Bapak/Ibu ini kok begini terus?”
Tetapi ketika mereka sudah tidak ada...
ocehan itu menjadi musik yang paling kita rindukan.
Suara yang dulu ingin kita matikan...
justru ingin kita dengarkan sekali lagi.
Satu kali saja.
Tolong.
Cerewetlah lagi.
Marahlah lagi.
Panggil nama saya lagi.
Saya janji kali ini saya tidak akan membantah.
Tetapi hidup tidak selalu memberikan kesempatan untuk mengatakan itu.
Karena itu, saya setuju dengan satu renungan sederhana:
Marahnya Ibu dan Bapak jauh lebih indah daripada diamnya batu nisan yang tak pernah kunjung bicara.
DAN REFF-NYA...
Di sinilah lagu mulai berubah menjadi semacam lorong waktu.
Ada “sesi potret”.
Ada hitungan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Lalu kesadaran:
“Ini nyata.”
Dia benar-benar sudah pergi.
Bukan mimpi.
Bukan sementara.
Bukan sedang pergi sebentar.
Tidak ada lagi tombol undo.
Tidak ada rewind.
Tidak ada kesempatan mengulang adegan.
Dan saya rasa di sinilah “Sesi Potret” menjadi lebih dari sekadar lagu.
Ia menjadi pengalaman tentang kehilangan.
KITA TERNYATA MASIH AMATIR DALAM MENGIKHLASKAN
Ada satu pengakuan yang sangat manusiawi dalam lagu ini:
“Soal ikhlas ternyata aku masih amatir.”
Saya suka sekali gagasan itu.
Karena kita sering berpura-pura sudah ikhlas.
Padahal kehilangan orang yang kita cintai tidak memiliki kurikulum yang bisa diselesaikan dalam satu semester.
Tidak ada sertifikat:
“Selamat, Anda sudah lulus dari mata kuliah kehilangan.”
Tidak.
Kita belajar sedikit demi sedikit.
Hari ini bisa tersenyum.
Besok tiba-tiba menangis karena melihat foto.
Lusa sudah merasa baik.
Malamnya kembali rindu.
Begitulah manusia.
Ikhlas bukan berarti tidak lagi merindukan.
Mungkin ikhlas adalah ketika kita mulai menerima bahwa rasa rindu itu akan tetap ada, tetapi kita tidak lagi meminta waktu untuk mengembalikan sesuatu yang memang sudah menjadi kehendak-Nya.
YANG PALING MENYAKITKAN BUKAN KEHILANGANNYA, TETAPI KATA “SEHARUSNYA”
Seharusnya saya pulang lebih cepat.
Seharusnya saya menelepon.
Seharusnya saya duduk lebih lama.
Seharusnya saya tidak gengsi.
Seharusnya saya mengatakan sayang.
Seharusnya saya memeluk.
Seharusnya...
Seharusnya...
Seharusnya...
Dan kata itu tidak pernah selesai.
Karena orang yang sudah pergi tidak bisa lagi kita temui untuk memperbaiki masa lalu.
Maka kalau hari ini orang tua kita masih ada...
jangan tunggu sampai kata “seharusnya” menjadi satu-satunya percakapan yang tersisa.
DAN DI SINI SAYA TERINGAT ORANG TUA
Ada sesuatu yang terasa ajaib dari lagu ini.
Dua bersaudara—eńau dan Ari Lesmana—membawakan cerita tentang kehilangan orang tua dan penyesalan seorang anak.
Namun jangan buru-buru menganggap lagu itu sebagai autobiografi literal mereka.
Yang lebih tepat, dari penjelasan eńau, lagu ini merupakan representasi berbagai kisah kehilangan di sekitar mereka, termasuk pengalaman duka yang mereka amati dan rasakan. (detikcom)
Justru di situlah keajaibannya.
Mereka tidak harus kehilangan orang tua terlebih dahulu untuk memahami rasa kehilangan.
Mereka cukup menjadi manusia.
Cukup melihat.
Cukup mendengar cerita.
Cukup membayangkan:
“Bagaimana kalau suatu hari orang yang paling saya cintai benar-benar tidak ada?”
Dan pertanyaan itu saja sudah cukup membuat dada sesak.
ADA BANYAK LAGU TENTANG ORANG TUA. TETAPI “SESI POTRET” PUNYA RUANGNYA SENDIRI
Indonesia sebenarnya memiliki banyak lagu yang mengabadikan cinta kepada orang tua.
“Ayah” dari Rinto Harahap.
“Titip Rindu Buat Ayah” dari Ebiet G. Ade.
“Ibu” dari Iwan Fals.
“Yang Terbaik Bagimu” dari Ada Band.
“Bunda” dari Potret.
“Ummi” dari Haddad Alwi.
Masing-masing punya warna zamannya.
Ada yang berbicara tentang kerinduan.
Ada yang berbicara tentang pengorbanan.
Ada yang berbicara tentang kasih.
Ada yang berbicara tentang kehilangan.
Tetapi “Sesi Potret” membawa persoalan yang sangat kontemporer:
kesibukan, perantauan, ekonomi, gengsi, waktu, dan penyesalan.
Itulah mengapa ia terasa dekat dengan generasi hari ini.
Kita hidup dalam dunia yang membuat komunikasi semakin mudah.
Video call hanya satu klik.
Pesan bisa dikirim kapan saja.
Foto bisa dikirim dalam hitungan detik.
Tetapi anehnya...
kita justru semakin sering menunda pulang.
LAGU INI SEBENARNYA BUKAN TENTANG KEMATIAN
Atau setidaknya, bukan hanya tentang kematian.
Menurut saya, lagu ini sebenarnya sedang berbicara tentang:
waktu.
Kematian hanyalah titik yang membuat kita sadar bahwa waktu ternyata memiliki batas.
Kita sering berpikir:
“Nanti.”
Padahal “nanti” tidak pernah dijanjikan.
Kita berpikir:
“Besok telepon.”
Padahal besok tidak selalu datang dalam bentuk yang kita harapkan.
Kita berpikir:
“Kalau sudah sukses saya pulang.”
Padahal orang yang menunggu kita mungkin tidak sedang menunggu dalam ukuran waktu yang sama.
Dan akhirnya kita memiliki uang.
Memiliki oleh-oleh.
Memiliki keberhasilan.
Tetapi kehilangan orang yang seharusnya menerima semuanya.
Betapa ironisnya kehidupan.
SESI POTRET ADALAH TEGURAN UNTUK ORANG-ORANG YANG MASIH PUNYA WAKTU
Kalau Anda sedang membaca tulisan ini dan orang tua Anda masih hidup...
Tolong.
Pulanglah jika bisa.
Telepon.
Tanyakan kabar.
Dengarkan cerita yang mungkin sudah Anda dengar seratus kali.
Pegang tangannya.
Cium tangannya.
Peluk.
Belikan sesuatu jika mampu.
Tidak harus mahal.
Kadang yang mereka butuhkan bukan hadiah.
Mereka hanya ingin anaknya hadir.
Kalau pernah dimarahi...
Tidak apa-apa.
Kalau pernah berbeda pendapat...
Tidak apa-apa.
Kalau pernah sakit hati...
Bicarakan ketika masih ada kesempatan.
Karena konflik bisa diselesaikan.
Gengsi bisa diturunkan.
Uang bisa dicari lagi.
Pekerjaan bisa dikerjakan lagi.
Tetapi waktu...
tidak bisa dinegosiasikan dengan siapa pun.
DAN UNTUK YANG ORANG TUANYA SUDAH TIADA...
Mungkin tulisan ini justru terasa lebih berat.
Saya tidak tahu siapa yang sedang membaca.
Mungkin ada yang kehilangan ayah.
Mungkin kehilangan ibu.
Mungkin kehilangan keduanya.
Mungkin masih sering berbicara sendiri kepada mereka.
Mungkin kadang berharap mereka datang sebentar saja.
Terdengar tidak masuk akal?
Mungkin.
Tetapi ketika rindu sudah terlalu berat, ketidakmungkinan kadang terdengar seperti bentuk harapan yang nyata.
Tidak apa-apa.
Rindukan mereka.
Doakan mereka.
Sebut nama mereka dalam doa.
Lakukan kebaikan yang mungkin membuat pahala terus mengalir bagi mereka.
Dan kalau air mata jatuh...
biarkan.
Tidak semua air mata membutuhkan penjelasan.
TERIMA KASIH, eńau DAN ARI LESMANA
Terima kasih telah menciptakan lagu yang tidak sekadar enak didengar, tetapi juga begitu hidup dan menyentuh. Padahal, orang tua kalian berdua masih hidup, namun kalian mampu menghadirkan sebuah lagu tentang kehilangan dengan begitu nyata. Bahkan kedua orang tua saya pun masih hidup, tetapi entah mengapa lagu ini membuat saya begitu sedih hingga menangis tersedu.
Ada sesuatu dalam nada dan liriknya yang seperti membius hati, membuka kembali ruang-ruang kenangan yang selama ini tersimpan, lalu perlahan membanjiri mata ini dengan air mata.
Mungkin inilah keajaiban sebuah lagu: ia tidak harus menceritakan persis kisah hidup kita untuk membuat kita merasa sedang mengalaminya.
Terima kasih karena telah mengingatkan kita bahwa menjadi manusia ternyata juga berarti belajar kehilangan.
Terima kasih karena membuat kita kembali melihat foto keluarga bukan sekadar sebagai gambar.
Tetapi sebagai:
waktu yang pernah hidup.
Dan mungkin setelah mendengarkan lagu ini, kita akan memandang sesi foto keluarga dengan cara yang berbeda.
Bukan lagi:
“Aduh, foto lagi.”
Tetapi:
“Mari. Sebelum suatu hari formasi ini berubah.”
KARENA PADA AKHIRNYA, YANG PALING MENYAKITKAN BUKANLAH KETIKA FOTO ITU TUA.
Bukan ketika warnanya memudar.
Bukan ketika kertasnya rusak.
Bukan ketika file-nya hilang.
Tetapi ketika kita membuka foto itu bertahun-tahun kemudian...
lalu menyadari:
ada satu orang yang tidak mungkin lagi kita panggil untuk ikut berfoto.
Dan di situlah “Sesi Potret” terasa seperti pukulan kecil yang datang diam-diam.
Ia tidak berteriak.
Ia tidak memaksa.
Ia hanya memainkan musik...
lalu membiarkan kenangan kita sendiri yang menyelesaikan sisanya.
MUNGKIN ITULAH SEBABNYA LAGU INI MEMBUAT KITA MENANGIS
Bukan karena ia sedang bercerita tentang kematian seseorang.
Tetapi karena ia membuat kita bertanya:
“Apakah saya sudah cukup hadir untuk orang-orang yang saya cintai?”
Dan pertanyaan itu jauh lebih menakutkan.
Karena mungkin kita memang belum.
Mungkin masih terlalu sibuk.
Masih mengejar sesuatu.
Masih merasa belum sukses.
Masih menunggu punya cukup uang.
Masih gengsi.
Masih merasa punya banyak waktu.
Padahal mungkin...
yang mereka tunggu bukan kesuksesan kita.
Mereka hanya ingin kita pulang.
JADI, INI LAGU CINTA ATAU LAGU SEDIH?
Setelah mendengarkannya berkali-kali, jawaban saya:
Ini lagu cinta yang disampaikan melalui kesedihan.
Cinta kepada orang tua.
Cinta kepada rumah.
Cinta kepada kenangan.
Cinta kepada waktu yang pernah kita miliki.
Dan cinta kepada seseorang yang sekarang hanya bisa kita temui melalui doa.
Karena ternyata...
kehilangan bukan lawan dari cinta.
Justru kadang kehilangan adalah cara paling menyakitkan bagi manusia untuk menyadari:
betapa besar cinta yang selama ini ia miliki.
Dan mungkin pesan paling penting dari “Sesi Potret” bukan:
“Jangan sampai orang tua meninggal.”
Karena kematian adalah kepastian.
Pesannya adalah:
Jangan sampai mereka meninggal sebelum kita sempat benar-benar hadir.
Kalau masih ada waktu...
bergegaslah.
Kalau masih bisa menelepon...
teleponlah.
Kalau masih bisa pulang...
pulanglah.
Kalau masih bisa mencium tangan...
ciumlah.
Kalau masih bisa berkata sayang...
katakan.
Jangan menunggu sampai yang tersisa hanyalah:
papan,
nama,
foto,
kenangan,
dan...
sesal.
Karena seribu tahun pun rasanya tidak akan pernah cukup jika kita ingin terus hidup bersama orang tua yang kita cintai.
Dan mungkin setelah tulisan ini selesai, saya sendiri akan melakukan satu hal sederhana:
menghubungi orang tua.
Bukan karena sedang ada masalah.
Bukan karena sedang butuh sesuatu.
Tetapi hanya untuk berkata:
“Bagaimana kabarnya?”
Sebab hari ini mereka masih bisa menjawab.
Dan itu...
adalah kemewahan yang tidak dimiliki semua orang.
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️

Komentar
Posting Komentar