KETIKA GURU MULAI BEKERJA SESUAI TUPOKSINYA
KETIKA GURU MULAI BEKERJA SESUAI TUPOKSINYA, MUNGKIN YANG BERUBAH BUKAN GURUNYA
Sebuah refleksi tentang guru yang pernah memberikan segalanya, lalu belajar bahwa profesionalisme juga membutuhkan batas.
Ada sebuah perubahan kecil yang kadang tidak disadari oleh sebuah sekolah.
Guru yang dulu datang paling pagi, mulai datang sesuai jam kerjanya.
Guru yang dulu pulang paling akhir, mulai pulang ketika tugas dan tanggung jawabnya selesai.
Guru yang dulu selalu menawarkan bantuan, mulai menunggu ketika diminta.
Guru yang dulu punya banyak gagasan, mulai memilih diam.
Guru yang dulu selalu berkata,
“Biar saya yang kerjakan.”
perlahan berubah menjadi,
“Apakah itu bagian dari tupoksi saya?”
Lalu kita buru-buru menyimpulkan:
“Guru itu sekarang malas.”
Benarkah?
Atau jangan-jangan kita hanya sedang melihat ujung dari sebuah cerita yang panjang?
COBA SEBENTAR KITA TARIK KE BELAKANG
Sebelum ia menjadi guru yang bekerja sesuai tupoksinya, mungkin ia pernah menjadi guru yang bekerja sepenuh tenaga.
Datang ketika sekolah belum ramai.
Mengecek kelas sebelum pembelajaran dimulai.
Membuat media pembelajaran sampai malam.
Mencari ide ketika orang lain sedang beristirahat.
Membantu kegiatan sekolah meskipun namanya tidak selalu tercatat.
Mengambil pekerjaan yang sebenarnya bukan kewajibannya karena merasa,
“Kalau saya bisa membantu, mengapa tidak?”
Ia pernah menjadi orang yang paling mudah berkata iya.
Iya ketika diminta.
Iya ketika dibutuhkan.
Iya ketika sekolah punya program baru.
Iya ketika ada kegiatan tambahan.
Iya ketika ada persoalan yang harus diselesaikan.
Bukan karena ia tidak punya kehidupan sendiri.
Tetapi karena ia percaya:
Sekolah ini adalah tempat ia bertumbuh bersama.
Ia bekerja bukan hanya karena gaji.
Ada idealisme di sana.
Ada kebanggaan.
Ada rasa memiliki.
Ada keinginan untuk menjadi guru yang lebih baik.
Ada keyakinan sederhana:
“Kalau saya memberikan yang terbaik, suatu hari kebaikan itu akan menemukan jalannya.”
LALU IA MENEMUKAN SESUATU YANG TIDAK PERNAH DIAJARKAN DI BANGKU KULIAH
Ia menemukan bahwa kerja keras tidak selalu menghasilkan penghargaan yang lebih besar.
Ia menemukan bahwa orang yang bekerja lebih banyak belum tentu diperlakukan lebih baik.
Ia menemukan bahwa orang yang kompeten belum tentu paling didengar.
Dan yang paling menyakitkan...
kadang ia melihat orang yang pandai mengambil hati, dekat dengan pusat kekuasaan, atau pandai memainkan relasi justru mendapatkan ruang yang lebih luas, kemudahan yang lebih banyak, bahkan pembiaran terhadap berbagai hal yang seharusnya dipertanyakan.
Sementara mereka yang bekerja dalam diam...
sering dianggap biasa.
Tidak dicari ketika ada penghargaan.
Tidak disebut ketika ada keberhasilan.
Tetapi dicari ketika ada pekerjaan.
Di sinilah sesuatu di dalam dirinya mulai retak.
Bukan semangatnya terlebih dahulu.
Tetapi keyakinannya tentang keadilan.
“UNTUK APA SAYA TERUS MEMAKSAKAN DIRI?”
Pertanyaan itu biasanya tidak muncul pada hari pertama.
Ia muncul setelah terlalu banyak hal dikumpulkan.
Satu kekecewaan.
Dua kekecewaan.
Tiga.
Lalu menjadi kebiasaan.
Ia mulai melihat bahwa guru yang bekerja biasa saja tetap mendapatkan hak yang sama.
Guru yang bekerja keras mendapatkan beban tambahan.
Guru yang selalu siap membantu mendapatkan pekerjaan tambahan.
Guru yang memiliki banyak ide mendapatkan lebih banyak tanggung jawab.
Sementara orang yang memilih aman...
sering kali tetap aman.
Maka perlahan ia bertanya:
“Untuk apa saya terus berlari jika garis akhirnya tidak pernah dibedakan?”
Dan pertanyaan itu bukan selalu lahir dari kemalasan.
Kadang ia lahir dari kelelahan yang terlalu lama tidak memiliki saksi.
KEMUDIAN GURU ITU MULAI BEKERJA SESUAI TUPOKSINYA
Kalimat ini sering disalahpahami.
Bekerja sesuai tupoksi bukan berarti berhenti peduli.
Bukan berarti kehilangan loyalitas.
Bukan pula tanda bahwa seorang guru menjadi malas.
Bisa jadi ia sedang belajar satu hal yang sangat penting:
bahwa profesionalisme juga membutuhkan batas.
Ia tetap mengajar.
Tetap masuk kelas.
Tetap menyelesaikan administrasi.
Tetap mendidik murid.
Tetap menjalankan tanggung jawabnya.
Tetapi ia berhenti memberikan seluruh energinya kepada segala sesuatu yang datang tanpa batas.
Ia mulai memahami:
Tidak semua pekerjaan harus saya ambil.
Tidak semua persoalan harus saya selesaikan.
Tidak semua permintaan harus saya jawab dengan kata iya.
Bukan karena ia menjadi buruk.
Tetapi karena ia akhirnya memahami bahwa energi manusia juga memiliki batas.
IKHLAS BUKAN BERARTI MEMBIARKAN DIRI DIEKSPLOITASI
Ini bagian yang sering kita salah pahami.
Ketika seorang guru mengeluh karena terus diberi beban yang tidak proporsional, jangan buru-buru menasihatinya:
“Ikhlaskan saja.”
Ketika seorang guru merasa tidak dihargai, jangan selalu menjawab:
“Yang penting niatnya karena Allah.”
Ketika seorang guru mulai memasang batas, jangan langsung mengatakan:
“Guru itu harus loyal.”
Sebab ikhlas tidak sama dengan kehilangan batas.
Sabar tidak sama dengan membiarkan ketidakadilan.
Loyalitas tidak sama dengan menyerahkan seluruh hidup kepada institusi.
Dan menjadi guru yang baik tidak berarti harus selalu mengatakan iya.
Bahkan manusia yang ikhlas tetap memiliki hak untuk lelah.
Tetap memiliki hak untuk istirahat.
Tetap memiliki hak untuk dihargai.
Tetap memiliki hak untuk didengar.
Tetap memiliki hak untuk berkembang.
YANG PALING MENYEDIHKAN BUKAN GURU YANG PERGI
Ada sekolah yang takut kehilangan guru terbaik.
Takut jika guru hebat pindah.
Takut jika guru kreatif mengundurkan diri.
Takut jika orang-orang terbaik tidak lagi berada di dalam tim.
Tetapi menurut saya, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Guru terbaik tetap tinggal... tetapi semangat terbaiknya sudah pergi.
Ia masih ada secara fisik.
Masih mengajar.
Masih memakai seragam.
Masih mengisi daftar hadir.
Masih berada di ruang guru.
Tetapi sesuatu yang dulu membuatnya berbeda telah hilang.
Dulu ia melihat masalah lalu mencari solusi.
Sekarang ia melihat masalah lalu berkata:
“Bukan bagian saya.”
Dulu ia memiliki gagasan.
Sekarang ia menyimpannya.
Dulu ia ingin membuat perubahan.
Sekarang ia hanya ingin menyelesaikan tanggung jawabnya.
Dulu ia bekerja dengan hati.
Sekarang ia bekerja sesuai tupoksinya.
Dan mungkin inilah bentuk perubahan yang paling tidak terlihat.
Bukan meninggalkan sekolah.
Tetapi menarik kembali energi yang dahulu ia berikan tanpa batas.
JANGAN SALAHKAN BENIH KETIKA POHON TIDAK BERBUAH
Bayangkan sebuah kecambah.
Kecil.
Hijau.
Penuh kemungkinan.
Ia membutuhkan air.
Membutuhkan cahaya.
Membutuhkan mineral.
Membutuhkan tanah yang sehat.
Membutuhkan ruang untuk tumbuh.
Lalu kita tanam kecambah itu.
Tetapi tidak pernah disiram.
Tidak diberi nutrisi.
Tanahnya keras.
Cahayanya tertutup.
Setiap hari justru dimarahi:
“Mengapa kamu tidak tumbuh?”
“Mengapa tidak cepat besar?”
“Mengapa tidak menghasilkan buah?”
Bukankah pertanyaan itu terdengar aneh?
Bagaimana mungkin kita menuntut buah terbaik dari pohon yang tidak pernah kita rawat?
Begitu pula guru.
Kita meminta mereka kreatif.
Tetapi tidak memberi ruang untuk bereksperimen.
Kita meminta mereka inovatif.
Tetapi setiap kesalahan dihukum.
Kita meminta mereka loyal.
Tetapi pendapat mereka tidak pernah didengar.
Kita meminta mereka profesional.
Tetapi lingkungan kerjanya membuat mereka terus-menerus bertahan.
Kita meminta mereka memberikan yang terbaik.
Tetapi kita lupa bahwa manusia juga membutuhkan penghargaan, kepercayaan, dan ruang untuk tumbuh.
Jangan hanya menuntut buah. Rawatlah akarnya.
GURU TIDAK SELALU MEMBUTUHKAN PUJIAN
Kadang guru hanya membutuhkan sesuatu yang sangat sederhana:
dipercaya.
Didengar.
Dihargai.
Diberi kesempatan.
Diberi ruang.
Diberi umpan balik yang sehat.
Dan ketika ia bekerja dengan baik, ada seseorang yang berkata:
“Terima kasih. Kami melihat usaha Anda.”
Kalimat sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang telah bekerja dalam diam selama bertahun-tahun, kalimat itu bisa berarti sangat besar.
Sebab penghargaan bukan selalu tentang uang.
Kadang penghargaan adalah ketika seseorang merasa:
“Keberadaan saya ternyata berarti.”
KEPALA SEKOLAH BUKAN HANYA PENGELOLA PEKERJAAN
Kepemimpinan sekolah sesungguhnya bukan sekadar memastikan semua tugas selesai.
Lebih dari itu.
Seorang pemimpin sekolah sedang mengelola manusia.
Dan manusia tidak hanya memiliki kompetensi.
Manusia memiliki perasaan.
Memiliki harga diri.
Memiliki keluarga.
Memiliki mimpi.
Memiliki luka.
Memiliki batas.
Dan memiliki kebutuhan untuk merasa bahwa pekerjaannya bermakna.
Karena itu, sekolah yang sehat bukan sekolah yang gurunya paling sibuk.
Sekolah yang sehat adalah sekolah yang gurunya mampu bekerja dengan sehat, bertumbuh, dan tetap memiliki semangat untuk memberikan yang terbaik.
JANGAN SAMPAI BUDAYA SEKOLAH MENGAJARKAN SATU HAL YANG SALAH
Bahwa untuk mendapatkan perhatian, seseorang harus pandai menjilat.
Bahwa untuk mendapatkan kesempatan, kompetensi saja tidak cukup.
Bahwa untuk mendapatkan perlakuan istimewa, seseorang harus dekat dengan kekuasaan.
Bahwa orang yang kritis adalah masalah.
Bahwa orang yang selalu mengiyakan adalah orang loyal.
Kalau budaya seperti ini dibiarkan, lama-lama sekolah tidak lagi menumbuhkan profesionalisme.
Ia justru menumbuhkan kepandaian membaca arah angin.
Dan akhirnya orang-orang belajar:
Bukan bagaimana menjadi lebih kompeten.
Tetapi bagaimana menjadi lebih disukai.
Bukan bagaimana bekerja lebih baik.
Tetapi bagaimana terlihat bekerja.
Bukan bagaimana memberikan gagasan.
Tetapi bagaimana mengetahui gagasan siapa yang harus diikuti.
Ini berbahaya.
Karena ketika kompetensi kalah oleh kedekatan, organisasi perlahan kehilangan kompasnya.
GURU YANG MULAI MEMBATASI DIRI TIDAK SELALU HARUS DICURIGAI
Mungkin ia sedang belajar dewasa.
Dulu ia ingin menyelesaikan semua masalah.
Sekarang ia belajar bahwa tidak semua masalah adalah miliknya.
Dulu ia ingin membantu semua orang.
Sekarang ia belajar membantu tanpa kehilangan dirinya.
Dulu ia selalu berkata iya.
Sekarang ia belajar mengatakan:
“Saya belum bisa.”
“Saya perlu waktu.”
“Mari kita lihat apakah ini memang bagian dari tupoksi saya.”
Itu bukan selalu tanda kemunduran.
Bisa jadi itu tanda bahwa ia mulai mengenal batas dirinya.
SEBAB GURU JUGA MANUSIA
Kalimat ini sederhana.
Tetapi sering dilupakan.
Guru bisa lelah.
Guru bisa kecewa.
Guru bisa kehilangan motivasi.
Guru bisa salah.
Guru bisa membutuhkan dukungan.
Guru bisa ingin didengar.
Guru juga bisa mengalami hari ketika ia tidak sanggup menjadi manusia super.
Maka jangan terus-menerus meminta guru menjadi lilin yang membakar dirinya agar orang lain mendapatkan cahaya.
Lilin juga akan habis.
Dan ketika habis, kita tidak bisa memarahinya karena tidak lagi menyala.
MUNGKIN YANG PERLU DIPERBAIKI BUKAN GURUNYA, TETAPI TANAH TEMPAT IA TUMBUH
Kalau banyak guru mulai kehilangan semangat, jangan hanya bertanya:
“Mengapa guru sekarang malas?”
Cobalah bertanya lebih dalam:
“Apa yang membuat mereka kehilangan alasan untuk memberikan yang terbaik?”
Kalau banyak guru mulai diam:
“Apakah selama ini suara mereka pernah benar-benar didengar?”
Kalau guru mulai berhenti berinisiatif:
“Apakah setiap gagasan pernah diberi ruang?”
Kalau guru mulai bekerja sesuai tupoksinya:
“Apakah selama ini kita menghargai mereka yang bekerja melampaui tupoksinya?”
Dan kalau guru terbaik mulai tidak peduli:
“Apa yang telah terjadi dengan lingkungan yang dahulu membuatnya begitu bersemangat?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih sehat daripada sekadar memberi ceramah tentang loyalitas.
SEMANGAT BUKAN TANAMAN YANG TUMBUH DENGAN CERAMAH
Semangat membutuhkan nutrisi.
Kepercayaan adalah airnya.
Apresiasi adalah pupuknya.
Ruang berkembang adalah tanahnya.
Keadilan adalah cahaya mataharinya.
Dan kepemimpinan yang sehat adalah lingkungan yang membuatnya bertumbuh.
Kalau semuanya tersedia...
jangan terlalu sering menyuruhnya tumbuh.
Ia akan tumbuh dengan sendirinya.
Dan suatu hari...
ia akan menghasilkan buah.
Bukan karena dipaksa.
Tetapi karena dirawat.
DAN MUNGKIN INILAH YANG PERLU KITA RENUNGKAN
Jangan buru-buru menyebut seorang guru malas hanya karena ia tidak lagi bekerja seperti dulu.
Lihatlah ke belakang.
Apakah dahulu ia pernah menjadi orang yang paling rajin?
Apakah dahulu ia datang paling pagi?
Pulang paling akhir?
Punya banyak gagasan?
Selalu siap membantu?
Selalu ingin memberikan yang terbaik?
Kalau jawabannya iya, mungkin kita sedang berhadapan bukan dengan guru yang malas.
Mungkin kita sedang berhadapan dengan guru yang terlalu lama tidak merasa dihargai.
Dan kalau benar demikian, jangan tambah bebannya dengan ceramah.
Jangan buru-buru menghakimi.
Jangan paksa ia kembali menjadi dirinya yang dulu hanya dengan kata-kata.
Rawat kembali tanahnya.
Berikan kepercayaan.
Berikan ruang.
Berikan keadilan.
Dengarkan suaranya.
Hargai kontribusinya.
Berikan kesempatan untuk berkembang.
Dan perlahan, mungkin kecambah yang hampir layu itu akan kembali menemukan alasan untuk tumbuh.
Sebab sekolah seharusnya bukan tempat di mana guru dipaksa terus menghasilkan buah.
Sekolah seharusnya menjadi tempat di mana guru juga bertumbuh.
Dan barangkali...
yang paling perlu kita selamatkan bukan sekadar kinerja seorang guru, tetapi alasan mengapa ia dulu begitu bersemangat menjadi guru.
Karena ketika semangat itu mati, sekolah mungkin masih terlihat berjalan.
Kelas masih berlangsung.
Administrasi masih selesai.
Program masih terlaksana.
Rapat masih dilakukan.
Tetapi ada sesuatu yang tidak terlihat:
jiwa pendidikan perlahan mengering.
Maka sebelum menuntut buah yang lebih banyak...
siramlah kecambahnya.
Berikan nutrisi.
Berikan ruang.
Jaga akarnya.
Rawat tanahnya.
Sebab guru yang merasa dipercaya tidak perlu terus-menerus diperintah untuk memberikan yang terbaik.
Ia akan melakukannya dengan hati.
Dan guru yang kembali bekerja dengan hati...
tidak hanya menyelesaikan pekerjaan.
Ia sedang menumbuhkan kehidupan yang baru.
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja

Komentar
Posting Komentar