Doa Bukan Memaksa Tuhan
Doa Bukan Memaksa Tuhan
Tentang Jarak yang Selalu Dijaga antara Sang Pemberi dan Sang Peminta
Ada satu hal yang sering kali luput kita pahami ketika menengadahkan tangan.
Kita terbiasa meminta.
Berharap.
Menangis.
Mengulang doa yang sama setiap hari.
Namun, di tengah semua itu, pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri,
apakah kita sedang berdoa, atau sebenarnya sedang memaksa?
Doa adalah ibadah yang unik.
Ia tidak lahir dari kekuatan manusia.
Justru doa lahir dari kesadaran akan kelemahan manusia.
Seseorang yang berdoa sedang mengakui bahwa ada batas yang tidak mampu ia lewati sendiri.
Ada pintu yang tidak dapat ia buka.
Ada masa depan yang tidak mampu ia lihat.
Dan ada kekuasaan yang jauh lebih besar daripada seluruh kemampuan yang ia miliki.
Di situlah doa menemukan maknanya.
Doa menjaga jarak antara Yang Maha Memberi dan yang meminta.
Antara Tuhan yang Mahakaya dengan hamba yang selalu membutuhkan.
Saya sering membayangkan doa seperti seorang pengemis yang berdiri di depan pintu seorang dermawan.
Seorang pengemis boleh berharap.
Boleh menangis.
Boleh mengetuk pintu.
Namun ia tidak pernah memiliki hak untuk memaksa sang pemilik rumah membuka pintunya saat itu juga.
Bukan karena sang dermawan pelit.
Melainkan karena keputusan tetap berada di tangan pemberi.
Begitu pula doa.
Kita boleh memohon dengan sepenuh hati.
Tetapi kita tidak pernah memiliki kuasa untuk mengatur waktu Tuhan.
Di sinilah letak perbedaan antara berdoa dan memaksa.
Berdoa berkata,
"Ya Allah, jika ini baik bagiku, mudahkanlah."
Sedangkan memaksa berkata,
"Ya Allah, harus ini. Harus sekarang. Harus sesuai keinginanku."
Berdoa mengandung harapan.
Memaksa mengandung tuntutan.
Berdoa lahir dari kerendahan hati.
Memaksa lahir ketika ego mulai mengambil alih.
Bukankah sering kali kita seperti itu?
Ketika doa belum dikabulkan, kita mulai kecewa.
Merasa Tuhan tidak mendengar.
Merasa ibadah kita sia-sia.
Padahal mungkin yang keliru bukan doa kita.
Melainkan cara kita memandang doa.
Kita menganggap doa seperti formulir pemesanan.
Padahal doa adalah bentuk penyerahan.
Dalam pendidikan, saya sering melihat anak-anak yang begitu ingin mendapatkan jawaban.
Mereka ingin semua soal segera selesai.
Namun seorang guru yang baik tidak selalu memberikan jawaban saat itu juga.
Kadang guru memberi waktu agar murid berpikir.
Agar mereka bertumbuh.
Agar mereka menemukan sendiri hikmahnya.
Bukan karena guru tidak peduli.
Justru karena guru peduli terhadap proses belajar.
Jika seorang guru saja memahami pentingnya proses, apalagi Allah yang Maha Mengetahui seluruh perjalanan hidup hamba-Nya.
Mungkin ada doa yang ditunda karena kita sedang dipersiapkan.
Mungkin ada doa yang dialihkan karena ada bahaya yang belum kita lihat.
Dan mungkin ada doa yang diganti dengan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang kita minta.
Doa tidak pernah mengubah posisi kita menjadi pengatur takdir.
Sebaliknya, doa selalu mengingatkan bahwa kita hanyalah hamba.
Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin lembut cara ia meminta.
Bukan semakin keras menuntut.
Karena orang yang benar-benar mengenal Sang Pemberi akan percaya bahwa apa pun keputusan-Nya selalu mengandung hikmah, meskipun belum dapat dipahami hari ini.
Ada kalanya yang kita minta tidak diberikan.
Bukan karena Allah tidak mampu.
Tetapi karena Allah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui.
Seorang anak kecil mungkin menangis meminta pisau yang tajam.
Orang tuanya menolak.
Bukan karena tidak sayang.
Melainkan karena tahu bahaya yang belum dimengerti sang anak.
Sering kali kita berada pada posisi anak kecil itu.
Kita melihat keinginan.
Allah melihat keseluruhan kehidupan.
Karena itu, doa bukanlah seni memaksa langit mengikuti keinginan bumi.
Doa adalah cara bumi belajar mempercayai keputusan langit.
Semakin sering kita berdoa, seharusnya semakin bertambah pula kerendahan hati kita.
Semakin lapang menerima takdir.
Semakin yakin bahwa Allah tidak pernah terlambat.
Dan semakin percaya bahwa tidak ada satu pun doa yang sia-sia.
Sebab setiap doa selalu memiliki tiga kemungkinan.
Dikabulkan sesuai harapan.
Diganti dengan yang lebih baik.
Atau disimpan sebagai kebaikan yang kelak akan kita temukan pada waktu yang telah Allah tetapkan.
Mungkin hari ini masih ada doa yang belum terjawab.
Tetaplah mengetuk.
Tetaplah berharap.
Tetaplah meminta.
Namun jangan pernah lupa menjaga adab seorang hamba.
Karena doa bukanlah bahasa seorang yang merasa berhak.
Doa adalah bahasa seorang yang sadar bahwa dirinya hanyalah peminta di hadapan Tuhan Yang Maha Memberi.
Dan di situlah letak keindahan doa.
Semakin banyak kita meminta, semakin kita diingatkan bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki apa-apa tanpa kasih sayang-Nya.
"Doa bukan cara manusia mengubah kehendak Tuhan. Doa adalah cara Tuhan mengubah hati manusia agar siap menerima kehendak-Nya."
— Abdulloh Aup "Hamba yang Fakir"

Komentar
Posting Komentar