Kemalasan Menjadi Penyakit dan Pengetahuan Menjadi Obat

 


Ketika Kemalasan Menjadi Penyakit dan Pengetahuan Menjadi Obat

Membaca Kembali Ibnu Sina tentang Pikiran, Ilmu, Logika, dan Keberanian untuk Bertumbuh

“Tak ada penyakit yang tak bisa disembuhkan kecuali kemalasan, dan tak ada obat yang tak berguna selain kurangnya pengetahuan.”

Kalimat ini menarik. Sangat menarik.

Namun sebelum terlalu jauh menganggapnya sebagai kutipan literal dari Ibnu Sina, ada baiknya kita berhati-hati: saya belum menemukan sumber primer yang dapat memastikan kalimat tersebut sebagai ucapan autentik Ibnu Sina. Karena itu, lebih aman membacanya sebagai gagasan populer yang dinisbatkan kepada beliau, bukan sebagai kutipan tekstual yang pasti berasal dari karya beliau.

Meski demikian, pesan intelektual di baliknya sangat menarik jika dibaca berdampingan dengan pemikiran Ibnu Sina tentang ilmu, akal, logika, dan pengobatan. Ibnu Sina—atau Avicenna—(980–1037) memang merupakan seorang polymath yang menulis luas tentang kedokteran, filsafat, logika, dan berbagai cabang ilmu. Dalam tradisi pemikirannya, logika memiliki fungsi penting: membantu manusia bergerak dari sesuatu yang sudah diketahui menuju sesuatu yang belum diketahui sekaligus menghindari kesalahan dalam penalaran. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

Dan mungkin, di situlah kalimat tentang kemalasan dan pengetahuan menjadi relevan bagi kita hari ini.

Sebab sering kali masalah manusia bukan semata-mata karena tidak ada jalan keluar.

Bisa jadi kita hanya berhenti mencari.


Ada Masalah yang Menjadi Berat karena Kita Berhenti Berpikir

Kita hidup dalam dunia yang penuh persoalan.

Ada orang yang kesulitan mengatur keuangan.

Ada yang merasa kariernya tidak berkembang.

Ada yang bisnisnya menurun.

Ada yang ingin belajar tetapi selalu berkata, “Nanti saja.”

Ada yang ingin berubah tetapi menunggu keadaan sempurna.

Ada pula yang sebenarnya memiliki kesempatan, waktu, bahkan kemampuan dasar yang cukup, tetapi semuanya tidak pernah benar-benar digunakan.

Di sinilah kemalasan menjadi sesuatu yang berbahaya.

Kemalasan tidak selalu hadir dalam bentuk tidur sepanjang hari atau tidak melakukan apa-apa.

Kadang ia tampil sangat sopan.

Namanya menunda.

“Besok saya mulai.”

“Nanti kalau sudah punya waktu.”

“Nanti kalau sudah punya modal.”

“Nanti kalau sudah siap.”

“Nanti kalau keadaan sudah lebih baik.”

Masalahnya, “nanti” sering kali menjadi tempat paling nyaman untuk mengubur potensi.

Potensi tidak tumbuh hanya karena seseorang memilikinya.

Potensi membutuhkan latihan.

Ia membutuhkan pengalaman.

Ia membutuhkan keberanian untuk mencoba.

Ia membutuhkan kesediaan untuk salah.

Dan yang paling penting, ia membutuhkan kemauan untuk kembali mencoba setelah kesalahan terjadi.


Bukan Selalu Kurang Pintar, Kadang Hanya Terlalu Cepat Menyerah

Ada orang yang gagal bukan karena tidak memiliki kemampuan.

Ia hanya berhenti sedikit terlalu cepat.

Ada orang yang tertinggal bukan karena tidak mempunyai peluang.

Ia terlalu lama menunggu peluang yang sempurna.

Ada orang yang tidak berkembang bukan karena tidak berbakat.

Ia tidak cukup lama berlatih.

Ini sebuah perbedaan yang sering kita abaikan.

Kita terlalu mudah mengatakan:

“Dia memang pintar.”

Padahal yang terlihat sebagai kepintaran kadang merupakan hasil dari latihan yang panjang.

Kita melihat seseorang mampu berbicara dengan baik, tetapi tidak melihat berapa banyak buku yang dibacanya.

Kita melihat seseorang berhasil membangun usaha, tetapi tidak melihat berapa banyak kegagalan yang pernah dilaluinya.

Kita melihat seorang guru mampu mengajar dengan kreatif, tetapi tidak melihat malam-malam panjang ketika ia belajar, mencoba desain, membaca referensi, mengevaluasi pembelajaran, lalu mencoba kembali.

Keberhasilan sering kali memiliki masa lalu yang tidak terlihat.


Tetapi Rajin Saja Tidak Cukup

Di sinilah gagasan tentang pengetahuan menjadi penting.

Bayangkan seseorang bekerja sangat keras.

Ia bangun pagi.

Ia bekerja sampai malam.

Ia tidak pernah berhenti bergerak.

Tetapi ternyata ia bergerak ke arah yang salah.

Apakah kerja kerasnya akan otomatis menghasilkan keberhasilan?

Belum tentu.

Sebab energi tanpa arah dapat menghasilkan kelelahan, bukan kemajuan.

Kita membutuhkan ilmu agar mengetahui apa yang sedang kita kerjakan.

Kita membutuhkan pengetahuan agar memahami persoalan.

Dan kita membutuhkan logika agar tidak salah menghubungkan sebab dengan akibat.

Dalam pemikiran Ibnu Sina, logika bukan sekadar permainan abstrak. Logika dipandang sebagai perangkat untuk membantu manusia memperoleh pengetahuan baru dari apa yang telah diketahuinya dan menghindari kesalahan dalam penalaran. (Stanford Encyclopedia of Philosophy)

Menariknya, cara berpikir seperti ini juga berhubungan dengan praktik kedokterannya.

Sejumlah kajian mengenai epistemologi medis Ibnu Sina menunjukkan bagaimana penalaran, pengamatan, diagnosis, dan penilaian terhadap sebab penyakit menjadi bagian penting dalam sistem medisnya. (The USA Journals)

Dengan kata lain:

seorang dokter tidak cukup hanya memiliki obat.

Ia harus mengetahui penyakitnya.

Ia harus memahami gejalanya.

Ia harus menilai penyebabnya.

Barulah ia dapat menentukan tindakan.


Masalahnya Sering Bukan pada Obat, tetapi pada Diagnosis

Ini pelajaran yang sangat dalam untuk kehidupan.

Seseorang berkata:

“Penghasilan saya kurang.”

Mungkin benar.

Tetapi mungkin juga tidak.

Bagaimana kalau masalah sebenarnya adalah pengelolaan uang?

Bagaimana kalau pengeluaran tidak pernah dicatat?

Bagaimana kalau kebutuhan dan keinginan selalu dianggap sama?

Bagaimana kalau pendapatan bertambah, tetapi gaya hidup juga terus meningkat?

Maka menambah penghasilan saja belum tentu menyelesaikan persoalan.

Begitu pula dalam bisnis.

Penjualan menurun.

Lalu pemilik usaha berkata:

“Pasarnya sedang sepi.”

Benarkah?

Bisa saja.

Tetapi bisa juga produknya tidak lagi menarik.

Bisa jadi kualitas pelayanan menurun.

Bisa jadi harga tidak kompetitif.

Bisa jadi konsumen sudah berpindah.

Bisa jadi cara promosinya tidak lagi relevan.

Atau mungkin produk tersebut memang sudah tidak menjawab kebutuhan masyarakat.

Tanpa pengetahuan, berbagai penyebab itu terlihat seperti satu masalah yang sama.

Dengan pengetahuan, kita mulai mampu membedakannya.

Dan ketika kita mampu membedakan masalah, kita memiliki peluang lebih besar menemukan solusi yang tepat.


Ilmu Membuat Sesuatu yang Kabur Menjadi Terlihat

Inilah salah satu fungsi paling indah dari belajar.

Ilmu tidak selalu langsung menyelesaikan masalah.

Tetapi ilmu membuat kita melihat masalah dengan cara yang berbeda.

Sesuatu yang awalnya tampak rumit dapat menjadi lebih sederhana setelah penyebabnya dipahami.

Sesuatu yang dianggap mustahil dapat berubah menjadi mungkin setelah caranya dipelajari.

Dan sesuatu yang selama ini kita salahkan kepada keadaan dapat ternyata memiliki bagian yang masih bisa kita perbaiki.

Pengetahuan adalah cahaya yang membuat kita mampu melihat pilihan.

Tetapi cahaya saja belum cukup.

Kita tetap harus memilih jalan.


Di Sinilah Logika Menjadi Sangat Penting

Kita hidup pada zaman ketika informasi tidak pernah berhenti.

Satu detik.

Satu unggahan.

Satu video.

Satu komentar.

Satu potongan berita.

Satu pesan WhatsApp.

Semuanya dapat masuk ke kepala kita hampir tanpa jeda.

Ironisnya, banyak informasi tidak otomatis berarti banyak kebenaran.

Sebuah informasi dapat viral karena mengejutkan.

Bukan karena benar.

Sebuah pendapat dapat dipercaya karena disampaikan dengan sangat yakin.

Bukan karena memiliki bukti.

Sebuah video dapat membuat kita marah.

Padahal kita hanya melihat beberapa detik dari keseluruhan peristiwa.

Sebuah grafik dapat terlihat ilmiah.

Padahal kita belum mengetahui sumber datanya.

Di sinilah manusia modern membutuhkan sesuatu yang sudah dibicarakan oleh para filsuf berabad-abad lalu:

kemampuan berpikir.

Bukan sekadar kemampuan mengetahui.

Tetapi kemampuan menilai apa yang diketahui.


Tidak Semua yang Kita Percaya adalah Kebenaran

Ada satu jebakan besar dalam pikiran manusia.

Kita cenderung menyukai informasi yang sesuai dengan apa yang sudah kita percaya.

Ketika sebuah informasi mendukung pendapat kita, kita cepat mengatakan:

“Nah, benar kan!”

Tetapi ketika informasi tersebut bertentangan dengan keyakinan kita, kita buru-buru berkata:

“Itu pasti salah.”

Padahal seharusnya pertanyaannya bukan:

“Apakah informasi ini sesuai dengan pendapat saya?”

Melainkan:

“Apa bukti yang mendukungnya?”

Inilah bentuk kerendahan hati intelektual.

Seseorang yang benar-benar mencintai ilmu tidak takut menemukan bahwa dirinya salah.

Karena tujuan belajar bukan mempertahankan ego.

Tujuan belajar adalah mendekati kebenaran.

Dalam kerangka epistemologi Ibnu Sina, pengetahuan yang ketat berkaitan dengan pembuktian dan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan; logika berfungsi sebagai instrumen untuk mengarahkan penalaran menuju kesimpulan yang sah. (OUP Academic)


Mengubah Pendapat Bukan Berarti Kalah

Ini mungkin salah satu pelajaran yang paling sulit bagi manusia.

Kita sering menganggap mengubah pendapat sebagai tanda kelemahan.

Padahal bisa jadi justru sebaliknya.

Jika kemarin kita percaya A, kemudian hari ini menemukan bukti kuat bahwa A keliru, lalu kita mengubah pandangan menjadi B, itu bukan kekalahan.

Itu pertumbuhan.

Pikiran yang sehat bukan pikiran yang tidak pernah berubah.

Pikiran yang sehat adalah pikiran yang bersedia berubah ketika bukti menuntutnya.

Sebab orang yang mempertahankan pendapat hanya karena gengsi sebenarnya tidak sedang mempertahankan kebenaran.

Ia sedang mempertahankan dirinya sendiri.


Kemalasan Terbesar Mungkin Bukan Tidak Bekerja

Saya mulai melihat kemalasan dari sudut yang berbeda.

Kemalasan terbesar mungkin bukan ketika tubuh kita tidak bergerak.

Tetapi ketika pikiran kita berhenti bekerja.

Ketika kita tidak mau bertanya.

Tidak mau membaca.

Tidak mau mencoba.

Tidak mau mengevaluasi.

Tidak mau mengakui kesalahan.

Tidak mau mempelajari cara baru.

Dan merasa cukup hanya karena pernah berhasil pada masa lalu.

Padahal dunia terus berubah.

Teknologi berubah.

Pekerjaan berubah.

Pola komunikasi berubah.

Kebutuhan manusia berubah.

Cara belajar berubah.

Maka orang yang berhenti belajar sebenarnya sedang meminta dunia untuk tetap sama.

Padahal dunia tidak pernah berjanji akan demikian.


Namun Jangan Salah: Tidak Semua Kegagalan adalah Kemalasan

Di sinilah kita perlu adil.

Jangan menggunakan gagasan tentang kemalasan untuk menyalahkan setiap orang yang gagal.

Tidak semua orang yang miskin malas.

Tidak semua orang yang belum berhasil kurang berusaha.

Tidak semua orang yang tertinggal tidak mau belajar.

Ada faktor ekonomi.

Ada ketidakadilan struktural.

Ada keterbatasan akses.

Ada kondisi keluarga.

Ada kesehatan.

Ada kesempatan yang memang tidak sama.

Ada keadaan yang berada di luar kendali manusia.

Maka gagasan tentang kemalasan harus dibaca secara bijaksana.

Bukan untuk menyalahkan mereka yang sedang berjuang.

Tetapi untuk bertanya kepada diri sendiri:

“Dari semua hal yang masih bisa saya kendalikan, apakah saya sudah benar-benar berusaha?”

Pertanyaan itu jauh lebih sehat.


Fokus pada Apa yang Masih Bisa Diperbaiki

Jika masalahnya kemampuan, belajarlah.

Jika masalahnya strategi, ubahlah strategi.

Jika masalahnya pengalaman, carilah pengalaman.

Jika masalahnya informasi, bacalah.

Jika masalahnya cara berpikir, latihlah cara berpikir.

Jika masalahnya komunikasi, belajarlah berkomunikasi.

Jika masalahnya disiplin, bangun kebiasaan.

Kita tidak harus mampu memperbaiki semuanya.

Kita hanya perlu mengetahui:

Bagian mana yang masih berada dalam jangkauan tindakan kita?

Di situlah energi seharusnya diarahkan.

Sebab terlalu lama memikirkan sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan hanya akan menguras tenaga yang sebenarnya bisa digunakan untuk memperbaiki sesuatu yang masih mungkin diubah.


Pengetahuan Tanpa Pengalaman Juga Bisa Menjadi Ilusi

Ada orang yang membaca banyak buku tentang bisnis tetapi tidak pernah mencoba menjual sesuatu.

Ada yang membaca banyak buku tentang pendidikan tetapi tidak pernah mengevaluasi pembelajarannya.

Ada yang memahami teori kepemimpinan tetapi belum pernah belajar mendengarkan orang lain.

Ada yang mengetahui pentingnya hidup sehat tetapi tidak mengubah kebiasaan.

Maka pengetahuan harus bertemu pengalaman.

Membaca tentang berenang tidak membuat seseorang bisa berenang.

Ia tetap harus masuk ke air.

Begitu pula kehidupan.

Kita perlu mencoba.

Dan ketika gagal, jangan buru-buru menyebutnya sebagai akhir.

Kegagalan dapat menjadi data baru.


Kesalahan adalah Informasi yang Mahal

Ketika kita gagal, sebenarnya kita mendapatkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh teori semata:

pengalaman nyata.

Kita mengetahui apa yang tidak bekerja.

Kita melihat bagian yang lemah.

Kita memahami konsekuensi sebuah keputusan.

Dan dari sana kita memiliki kesempatan memperbaiki langkah.

Tetapi pengalaman hanya menjadi guru jika kita bersedia mengevaluasinya.

Melakukan pekerjaan selama sepuluh tahun tidak otomatis berarti kita memiliki pengalaman sepuluh tahun.

Bisa saja kita hanya memiliki satu tahun pengalaman yang diulang sepuluh kali.

Mengapa?

Karena setiap kesalahan tidak pernah dianalisis.

Setiap keberhasilan tidak pernah dipahami penyebabnya.

Setiap kegagalan hanya disalahkan kepada keadaan.


Belajar Sesungguhnya Adalah Sebuah Siklus

Saya membayangkan belajar seperti sebuah lingkaran:

Mencari → Memahami → Mencoba → Mengalami → Mengevaluasi → Memperbaiki → Belajar lagi.

Begitu terus.

Tidak ada titik selesai.

Karena manusia bukan produk jadi.

Kita adalah proses.

Hari ini kita memahami sesuatu.

Besok kita menemukan bahwa pemahaman kita masih kurang.

Lalu kita belajar lagi.

Dan justru di situlah kehidupan menjadi menarik.


Ibnu Sina dan Pelajaran untuk Zaman AI

Ada ironi yang menarik.

Ibnu Sina hidup lebih dari seribu tahun lalu.

Namun pertanyaan epistemologis yang kita hadapi hari ini terasa sangat dekat dengan dunia digital.

Hari ini kita memiliki AI.

Kita memiliki mesin pencari.

Kita memiliki jutaan artikel.

Kita memiliki video pembelajaran.

Kita memiliki akses pengetahuan yang hampir tidak pernah dimiliki manusia pada zaman sebelumnya.

Tetapi pertanyaannya:

Apakah semakin mudah mendapatkan informasi membuat manusia semakin berpengetahuan?

Belum tentu.

Karena akses informasi hanyalah pintu.

Manusia tetap harus tahu:

apa yang dicari,

mengapa mencarinya,

bagaimana memeriksanya,

bagaimana memahaminya,

dan bagaimana menggunakannya.

AI dapat memberikan jawaban.

Tetapi manusia tetap membutuhkan kemampuan untuk menilai jawaban.

Teknologi dapat mempercepat pencarian.

Tetapi manusia tetap harus menentukan arah.

Dan semakin mudah informasi diproduksi, semakin penting kemampuan manusia untuk berpikir secara kritis dan logis.


Mungkin “Obat” yang Kita Butuhkan Bukan Informasi Lebih Banyak

Kita sudah hidup dalam zaman informasi berlimpah.

Yang mungkin kita butuhkan bukan tambahan informasi tanpa batas.

Kita membutuhkan kemampuan mengolah informasi.

Kita membutuhkan literasi.

Kita membutuhkan numerasi.

Kita membutuhkan logika.

Kita membutuhkan pengalaman.

Dan yang tidak kalah penting:

kita membutuhkan kemauan untuk belajar.

Sebab obat terbaik sekalipun tidak akan banyak berguna jika seseorang tidak mau menggunakannya dengan benar.

Pengetahuan juga demikian.

Ilmu yang hebat tidak akan mengubah kehidupan seseorang jika hanya berhenti menjadi koleksi informasi di dalam kepala.

Ilmu harus turun menjadi keputusan.

Keputusan harus turun menjadi tindakan.

Dan tindakan harus menghasilkan perubahan.


Pada Akhirnya, Musuh Terbesar Kita Bisa Jadi Bukan Ketidaktahuan

Ketidaktahuan sebenarnya masih memiliki jalan keluar.

Namanya:

belajar.

Kebingungan juga masih memiliki jalan keluar.

Namanya:

bertanya.

Kesalahan masih memiliki jalan keluar.

Namanya:

evaluasi.

Kegagalan masih memiliki jalan keluar.

Namanya:

mencoba kembali dengan cara yang lebih baik.

Tetapi ketika seseorang sudah merasa tidak perlu belajar, tidak perlu bertanya, tidak perlu mencoba, dan tidak perlu mengevaluasi...

di situlah persoalan menjadi jauh lebih sulit.

Sebab pintu perubahan ditutup dari dalam.


Maka, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Mungkin tidak perlu sesuatu yang terlalu rumit.

Mulailah dengan lima hal:

1. Jangan malas bertanya.

Pertanyaan yang baik sering kali menjadi pintu menuju pengetahuan baru.

2. Jangan malas membaca.

Bukan hanya membaca apa yang kita sukai, tetapi juga membaca sesuatu yang menantang cara berpikir kita.

3. Jangan malas mencoba.

Tidak harus sempurna. Yang penting bergerak.

4. Jangan malas mengevaluasi.

Tanyakan mengapa sesuatu berhasil dan mengapa sesuatu gagal.

5. Jangan malas memperbaiki diri.

Karena dunia berubah setiap hari, dan kita tidak boleh berhenti bertumbuh.


Barangkali Inilah Pesan Terbesar dari Gagasan Itu

Saya tidak ingin membaca kalimat tentang Ibnu Sina sebagai sekadar nasihat:

“Jangan malas.”

Terlalu sederhana.

Saya justru ingin membacanya lebih dalam:

Jangan biarkan kemalasan mematikan kemampuan berpikirmu.

Jangan biarkan ketidaktahuan membuatmu berhenti mencari.

Jangan biarkan kegagalan membuatmu berhenti belajar.

Jangan biarkan satu kesalahan membuatmu menganggap seluruh jalan telah tertutup.

Dan jangan biarkan informasi yang begitu banyak membuatmu kehilangan kemampuan untuk berpikir.

Sebab manusia memiliki sesuatu yang sangat berharga:

akal.

Akal memungkinkan kita bertanya.

Ilmu membantu kita memahami.

Logika membantu kita menimbang.

Pengalaman membantu kita menguji.

Dan tindakan membuat semuanya menjadi nyata.


Mungkin tidak semua penyakit kehidupan memiliki obat yang sederhana.

Tetapi hampir setiap persoalan akan menjadi lebih mungkin dipahami ketika kita bersedia belajar lebih dalam.

Mungkin tidak semua jalan keluar langsung terlihat.

Tetapi jalan yang belum terlihat bukan berarti tidak ada.

Kadang kita hanya belum cukup belajar untuk menemukannya.

Kadang kita belum cukup mencoba.

Kadang kita terlalu cepat menyerah.

Dan kadang...

kita terlalu sibuk mencari siapa yang harus disalahkan sampai lupa mencari apa yang bisa diperbaiki.

Maka hari ini, sebelum mengatakan:

“Saya tidak bisa.”

Cobalah bertanya:

“Apa yang belum saya ketahui?”

Sebelum mengatakan:

“Tidak ada jalan.”

Tanyakan:

“Jalan mana yang belum saya coba?”

Dan sebelum mengatakan:

“Saya memang tidak mampu.”

Tanyakan:

“Sudah berapa lama saya benar-benar belajar?”

Karena boleh jadi persoalan terbesar bukan bahwa kita tidak memiliki kemampuan.

Kita hanya belum menggunakannya dengan sungguh-sungguh.

Dan boleh jadi obatnya bukan sesuatu yang jauh.

Ia bernama ilmu, dipandu logika, diuji pengalaman, lalu diwujudkan dalam tindakan.


“Potensi tidak akan tumbuh hanya karena kita memilikinya. Ia tumbuh ketika kita mau belajar, berani mencoba, bersedia salah, dan cukup rendah hati untuk memperbaiki diri.”

Abdulloh Aup, “Guru yang Biasa Saja”

Komentar

Postingan Populer