ALLAH HANYA MEMINTA BEBERAPA MENIT

 


24 JAM UNTUK DUNIA, ALLAH HANYA MEMINTA BEBERAPA MENIT UNTUK BERSUJUD

Setelah itu, lanjutkan lagi perjuanganmu. Bekerjalah, berkarya, dan berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Pernahkah kita menghitung berapa banyak waktu yang kita habiskan dalam sehari?

24 jam.

Kita bekerja.

Kita mengajar.

Kita belajar.

Berdagang.

Mengurus keluarga.

Bertemu orang.

Bermedia sosial.

Menonton.

Bermain.

Bahkan kadang kita menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menggulir layar tanpa sadar waktu telah berlalu.

Tetapi dari 24 jam itu, Allah hanya meminta kita berhenti sejenak.

Bukan sehari penuh.

Bukan berjam-jam.

Hanya beberapa menit.

Lima kali sehari.

Shalat.

Lalu setelah itu?

Silakan kembali bekerja.

Kembali mengajar.

Kembali berdagang.

Kembali belajar.

Kembali membangun usaha.

Kembali mengurus keluarga.

Kembali berkarya.

Kembali mengejar cita-cita.

Bahkan kembali berlomba-lomba dalam kebaikan.


Mungkin yang sering kita lupakan adalah: shalat bukan penghambat kesibukan

Kadang kita merasa terlalu sibuk untuk shalat.

“Sebentar lagi.”

“Setelah pekerjaan ini selesai.”

“Nanti saja.”

“Masih ada rapat.”

“Masih ada yang harus diselesaikan.”

Seolah-olah shalat adalah sesuatu yang mengambil waktu kita.

Padahal kalau kita mau jujur...

yang mengambil waktu kita bukan shalat.

Kita memang sedang sibuk.

Tetapi bukankah di tengah kesibukan itu kita tetap diberi waktu untuk berhenti?

Adzan seperti sebuah panggilan:

“Berhentilah sebentar. Dunia tidak akan runtuh hanya karena beberapa menit kamu meninggalkannya.”

Pekerjaan bisa dilanjutkan.

Pesan bisa dibalas nanti.

Rapat bisa menunggu.

Proyek bisa diteruskan.

Target bisa dikejar kembali.

Tetapi hati juga membutuhkan jeda.

Dan mungkin...

itulah salah satu makna shalat.


Kita sering takut kehilangan waktu, tetapi lupa siapa yang memberikan waktu

Ini yang kadang membuat saya merenung.

Kita begitu takut kehilangan lima atau sepuluh menit.

Tetapi kita lupa bahwa:

waktu itu sendiri adalah pemberian Allah.

Kita tidak pernah membeli pagi.

Kita tidak pernah membayar datangnya siang.

Kita tidak pernah memesan malam.

Semuanya datang begitu saja.

Dan ketika satu hari berlalu...

ia tidak pernah kembali.

Maka ketika Allah meminta kita berhenti beberapa menit untuk mengingat-Nya, sebenarnya Allah tidak sedang mengambil waktu kita.

Kita sedang mengembalikan sebagian kecil dari waktu yang memang sejak awal milik-Nya.


Setelah shalat, kembali bekerja!

Ini juga penting.

Islam tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia.

Justru setelah menunaikan shalat, kita diperintahkan untuk kembali bertebaran di muka bumi dan mencari karunia Allah.

Artinya, menjadi saleh bukan berarti berhenti berkarya.

Menjadi dekat dengan Allah bukan berarti berhenti mengejar prestasi.

Menjadi ahli ibadah bukan berarti tidak boleh menjadi profesional.

Justru seharusnya semakin dekat kepada Allah, semakin baik pula pekerjaan kita.

Guru yang selesai shalat kembali ke kelas dan mengajar dengan lebih ikhlas.

Pedagang kembali ke tokonya dengan lebih jujur.

Petani kembali ke sawahnya dengan penuh tanggung jawab.

Pegawai kembali bekerja tanpa mengambil hak orang lain.

Pelajar kembali belajar dengan sungguh-sungguh.

Orang tua kembali mendidik anaknya dengan kesabaran.

Dan siapa pun kita...

kembali menjalankan peran masing-masing dengan sebaik-baiknya.


Karena ibadah tidak berhenti di atas sajadah

Ini yang sering saya renungkan.

Jangan sampai kita memisahkan:

shalat dan kehidupan.

Seolah-olah ketika berada di masjid kita sedang menjadi manusia yang baik.

Tetapi setelah keluar dari masjid, kita kembali menjadi manusia yang berbeda.

Padahal semestinya shalat membawa pengaruh ke seluruh kehidupan.

Kalau kita baru saja bersujud...

maka setelah berdiri, seharusnya kita menjadi manusia yang sedikit lebih baik.

Lebih sabar.

Lebih jujur.

Lebih santun.

Lebih mampu menahan diri.

Lebih peduli.

Lebih bertanggung jawab.

Lebih bermanfaat.

Sebab ukuran keberhasilan ibadah bukan hanya berapa lama kita berada di atas sajadah, tetapi juga apa yang berubah dari diri kita setelah meninggalkan sajadah.


Allah tidak meminta kita berhenti mengejar dunia

Ini bagian yang saya suka.

Allah tidak mengatakan:

“Tinggalkan semua pekerjaanmu.”

Tidak.

Kita tetap bekerja.

Tetap mencari rezeki.

Tetap belajar.

Tetap membangun.

Tetap bermimpi.

Tetap berprestasi.

Tetap berusaha menjadi lebih baik.

Tetapi di tengah perjalanan itu...

jangan lupa siapa yang memberikan kita kesempatan untuk berjalan.

Maka shalat bukanlah jeda dari kehidupan.

Shalat adalah jeda agar kita tidak kehilangan arah dalam kehidupan.


Bayangkan jika lima waktu itu benar-benar kita jaga

Subuh.

Ketika dunia masih sunyi, kita mengingat Allah sebelum memulai hari.

Dzuhur.

Ketika pekerjaan sedang ramai-ramainya, kita berhenti sejenak.

Ashar.

Ketika tenaga mulai terkuras, kita kembali mengingat tujuan.

Maghrib.

Ketika siang berganti malam, kita kembali bersyukur.

Isya.

Ketika aktivitas hari itu selesai, kita menutup hari dengan berserah diri.

Lihatlah...

Lima kali.

Hanya beberapa menit.

Tetapi seperti ada lima titik pemberhentian dalam perjalanan panjang bernama kehidupan.

Agar kita tidak terlalu jauh.

Agar kita tidak lupa arah.

Agar kita tidak mengira bahwa dunia adalah tujuan akhir.


Dan setelah itu, berlombalah dalam kebaikan

Ini yang menurut saya indah.

Setelah shalat...

lanjutkan lagi perjuanganmu.

Kalau kamu guru, jadilah guru yang lebih baik.

Kalau kamu pelajar, belajarlah lebih sungguh-sungguh.

Kalau kamu pengusaha, berusahalah dengan jujur.

Kalau kamu pemimpin, pimpinlah dengan adil.

Kalau kamu orang tua, didiklah anak dengan kasih sayang.

Kalau kamu memiliki ilmu, bagikan.

Kalau kamu memiliki rezeki, bantu.

Kalau kamu memiliki kesempatan, manfaatkan.

Kalau kamu memiliki kekuasaan, lindungi yang lemah.

Kalau kamu memiliki kemampuan, jangan hanya digunakan untuk diri sendiri.

Karena hidup bukan sekadar tentang:

“Apa yang bisa saya dapatkan?”

Tetapi juga:

“Apa yang bisa saya berikan?”


Berlomba-lomba dalam kebaikan bukan berarti berlomba menjadi paling terlihat

Ini juga penting di zaman media sosial.

Kadang kita mengira kebaikan harus terlihat.

Harus diposting.

Harus diketahui.

Harus mendapatkan apresiasi.

Padahal tidak semua kebaikan membutuhkan kamera.

Ada kebaikan yang cukup diketahui Allah.

Membantu seseorang tanpa diketahui orang lain.

Memaafkan tanpa mengumumkannya.

Memberikan rezeki tanpa memotret penerimanya.

Mengajar dengan tulus meskipun tidak mendapat pujian.

Menolong teman tanpa berharap balasan.

Bahkan tersenyum kepada seseorang yang sedang membutuhkan sedikit ketenangan.

Kebaikan tidak selalu membutuhkan panggung.

Kadang ia hanya membutuhkan hati yang mau bergerak.


Jadi, jangan gunakan kesibukan sebagai alasan untuk menjauh

Kita semua sibuk.

Saya juga.

Anda juga.

Semua orang punya urusan.

Ada target yang harus dikejar.

Ada keluarga yang harus dinafkahi.

Ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ada mimpi yang harus diperjuangkan.

Tetapi justru karena hidup kita sibuk...

kita membutuhkan shalat.

Bukan karena kita tidak punya pekerjaan.

Tetapi karena kita punya terlalu banyak pekerjaan.

Bukan karena kita tidak punya tujuan.

Tetapi karena kita punya terlalu banyak tujuan.

Dan kita membutuhkan sesuatu yang mengingatkan:

Tidak semua yang kita kejar adalah tujuan akhir.


24 jam itu milik kita untuk menjalani kehidupan, tetapi semuanya tetap berada dalam izin-Nya

Kita boleh mengejar dunia.

Silakan.

Bekerjalah sebaik mungkin.

Belajarlah setinggi mungkin.

Bangunlah sesuatu yang bermanfaat.

Jadilah profesional.

Jadilah orang sukses.

Jadilah orang kaya jika Allah menghendaki.

Jadilah guru yang menginspirasi.

Jadilah manusia yang memberikan manfaat.

Tetapi di tengah semuanya...

jangan lupa berhenti.

Beberapa menit saja.

Berdiri.

Menghadap-Nya.

Mengangkat tangan.

Bersujud.

Dan berkata dalam hati:

“Ya Allah, aku sedang sibuk menjalani hidup yang Engkau berikan. Jangan biarkan kesibukanku membuatku melupakan-Mu.”

Kemudian setelah salam...

berdirilah kembali.

Lanjutkan pekerjaanmu.

Lanjutkan perjuanganmu.

Lanjutkan mimpimu.

Lanjutkan pengabdianmu.

Dan...

berlomba-lombalah dalam kebaikan. 🤲🏻


Sebab mungkin, yang Allah minta dari kita bukan meninggalkan dunia.

Allah hanya ingin kita tidak kehilangan-Nya ketika sedang mengejar dunia.

24 jam kita punya.

Lima waktu Allah minta.

Beberapa menit untuk bersujud.

Setelah itu...

silakan kembali berjuang.

Karena dunia membutuhkan orang-orang yang bekerja keras.

Keluarga membutuhkan orang-orang yang bertanggung jawab.

Bangsa membutuhkan orang-orang yang berkarya.

Dan umat membutuhkan orang-orang yang beriman sekaligus bermanfaat.

Maka...

jangan berhenti berkarya karena ingin menjadi saleh.

Dan jangan pula berhenti beribadah karena merasa terlalu sibuk berkarya.

Seimbangkan keduanya.

Sujudlah kepada Allah.

Lalu bangkitlah untuk manusia.

🤲🏻 Sujud kepada-Nya.
❤️ Bermanfaat bagi sesama.
🌱 Terus bertumbuh.
🔥 Terus berkarya.
🇮🇩 Terus mengabdi.

Dan sepanjang perjalanan itu...

berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja

Komentar

Postingan Populer