Ketika Pengabdian Selalu Diminta Berkorban

 


Ketika Pengabdian Selalu Diminta Berkorban

Apakah Guru Hanya Akan Terus Diminta Memahami Keadaan?

Ada satu kalimat yang sudah terlalu sering didengar oleh para guru.

"Mohon bersabar."

"Mohon memahami kondisi negara."

"Anggaran sedang terbatas."

Kalimat-kalimat itu terus berulang.

Bahkan sudah bertahun-tahun.

Sementara di sisi lain, kehidupan terus berjalan.

Harga kebutuhan pokok naik.

Biaya pendidikan anak naik.

Listrik naik.

Transportasi naik.

Namun tidak semua kesejahteraan guru ikut bergerak naik.


Gambar yang beredar di media sosial ini memang berupa satire.

Namun seperti kebanyakan satire yang baik, ia lahir bukan sekadar untuk membuat orang tertawa.

Ia lahir karena ada kegelisahan.

Panel pertama menggambarkan alasan klasik.

"Gaji guru belum bisa naik karena tidak ada uang."

Lalu panel berikutnya memperlihatkan adanya kenaikan tunjangan bagi sektor lain.

Di situlah masyarakat mulai bertanya.

Apakah benar persoalannya hanya soal tidak adanya anggaran?

Ataukah sebenarnya persoalannya adalah tentang prioritas?


Saya tidak ingin melihat persoalan ini sebagai upaya membandingkan profesi satu dengan profesi lainnya.

Tentara memiliki pengabdian.

Polisi memiliki pengabdian.

Tenaga kesehatan memiliki pengabdian.

Guru pun demikian.

Semuanya memiliki peran yang sangat penting bagi bangsa.

Karena itu, persoalan ini seharusnya tidak dibingkai sebagai siapa yang lebih layak.

Melainkan bagaimana negara mampu memberikan penghargaan yang adil sesuai tanggung jawab masing-masing.


Sebagai guru, saya percaya bahwa mengajar memang sebuah panggilan.

Namun panggilan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan.

Kita sering mendengar ungkapan,

"Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa."

Kalimat itu terdengar indah.

Tetapi jangan sampai tanpa sadar kita mengubahnya menjadi pembenaran agar guru terus diminta berkorban.

Karena guru juga manusia.

Guru juga memiliki keluarga.

Guru juga membayar listrik.

Guru juga membeli beras.

Guru juga memiliki anak yang harus sekolah.

Guru juga memiliki masa depan yang perlu dipersiapkan.


Sering kali masyarakat hanya melihat guru ketika berada di depan kelas.

Padahal pekerjaan guru tidak berhenti ketika bel pulang berbunyi.

Masih ada perangkat pembelajaran.

Masih ada penilaian.

Masih ada laporan.

Masih ada refleksi.

Masih ada pelatihan.

Masih ada berbagai tugas administrasi.

Dan yang paling berat, ada tanggung jawab moral untuk membentuk karakter generasi masa depan.

Semua itu tidak pernah terlihat dalam hitungan jam kerja.


Saya percaya, bangsa yang besar tidak hanya membangun gedung sekolah.

Bangsa yang besar juga membangun martabat gurunya.

Karena kualitas pendidikan tidak pernah melampaui kualitas guru yang mengajarnya.

Dan kualitas guru akan sulit berkembang jika kesejahteraannya terus menjadi persoalan yang tidak kunjung menemukan titik terang.


Kesejahteraan guru bukan sekadar soal nominal.

Ia adalah bentuk penghargaan.

Pesan yang ingin disampaikan negara kepada mereka yang setiap hari membangun masa depan bangsa.

Ketika guru merasa dihargai, mereka akan lebih leluasa berkonsentrasi pada pembelajaran.

Lebih tenang mengembangkan kompetensi.

Lebih fokus mendampingi peserta didik.

Pada akhirnya, yang menikmati hasilnya bukan hanya guru.

Melainkan seluruh generasi Indonesia.


Karena itu, menurut saya, diskusi tentang kesejahteraan guru tidak boleh berhenti pada perdebatan siapa yang lebih penting.

Setiap profesi strategis berhak memperoleh perhatian.

Yang perlu terus kita dorong adalah kebijakan yang adil, transparan, dan mampu meningkatkan kualitas pelayanan publik di semua sektor, termasuk pendidikan.

Sebab pendidikan bukanlah pengeluaran negara.

Pendidikan adalah investasi paling panjang bagi masa depan bangsa.

Dan investasi terbaik selalu dimulai dari manusia yang menggerakkannya.

Yaitu guru.


Saya berharap suatu hari nanti tidak ada lagi guru yang merasa harus memilih antara membeli buku atau membeli beras.

Tidak ada lagi guru yang harus mengorbankan martabat profesinya demi bertahan hidup.

Dan tidak ada lagi generasi muda yang ragu menjadi guru karena khawatir masa depannya tidak sejahtera.

Karena bangsa yang menghormati gurunya sesungguhnya sedang menghormati masa depannya sendiri.

"Guru tidak meminta dipuja. Guru hanya berharap pengabdiannya dihargai dengan kebijakan yang adil. Sebab ketika guru sejahtera, yang sesungguhnya sedang disiapkan adalah masa depan Indonesia yang lebih bermartabat."

— Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer