MASIH BAGUS ERA STY
🇮🇩 BAGAIMANA? MASIH BAGUS ERA STY?
Tentang Rafael Struick, puzzle yang belum lengkap, dan pertanyaan “bagaimana jika…”
Melihat lini serang Indonesia di Piala ASEAN, entah kenapa admin kembali teringat kepada satu nama.
Rafael Struick.
Bukan karena Rafael tiba-tiba menjadi striker paling tajam yang pernah dimiliki Indonesia.
Bukan pula karena ia selalu mencetak gol.
Justru sebaliknya.
Rafael sering mendapatkan kritik karena satu hal yang paling mudah dilihat dari seorang striker:
gol.
Tetapi sepak bola, ternyata, tidak sesederhana menghitung berapa kali seorang pemain memasukkan bola ke gawang.
Dan mungkin di situlah kita mulai memahami mengapa Shin Tae-yong begitu percaya kepada Rafael Struick.
⚽ Rafael Struick dan sebuah teka-teki nomor 9
Kalau kita melihat profil Rafael, sebenarnya cukup jelas bahwa ia bukan tipikal striker nomor 9 klasik.
Ia lebih dikenal sebagai pemain sayap kiri, meskipun juga bisa bermain sebagai penyerang tengah maupun sayap kanan. (Transfermarkt)
Namun di Timnas Indonesia, STY berkali-kali menempatkannya di posisi yang sangat penting:
nomor 9.
Pertanyaannya:
Kenapa?
Bukankah saat itu Rafael juga belum menjadi pemain reguler di level klub?
Bukankah produktivitas golnya bersama Timnas juga belum bisa dikatakan luar biasa?
Bahkan ketika Timnas sedang membutuhkan gol, nama Rafael tidak jarang menjadi sasaran kritik.
Tetapi STY sepertinya melihat sesuatu yang tidak selalu terlihat dari statistik.
Pergerakan.
Rafael bisa turun menjemput bola.
Ia bisa bergeser ke sisi lapangan.
Ia bisa menarik bek keluar dari posisinya.
Ia bisa membuka ruang untuk pemain lain.
Ia bisa melakukan pressing.
Dan yang paling penting:
ia membuat struktur serangan Indonesia menjadi lebih hidup.
Ini pula yang membuat Rafael berbeda dengan striker yang hanya menunggu bola di kotak penalti.
Ketika Rafael turun ke bawah, bek lawan sering berada dalam dilema.
Kalau mengikutinya?
Ruang di belakang terbuka.
Kalau tidak mengikutinya?
Rafael bisa menerima bola dan menghubungkan permainan.
Lalu pemain lain masuk ke ruang yang ditinggalkan.
Sederhana?
Tidak.
Justru di situlah kecerdasan taktik seorang pemain dibutuhkan.
🧩 STY sebenarnya sedang mencari apa?
Kalau kita mundur sedikit dan melihat era STY, ada satu masalah besar yang terus menghantui Timnas Indonesia:
kita tidak memiliki striker murni yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan skema.
Bahkan pada 2024, kondisi ini begitu terasa sampai-sampai PSSI mendatangkan Yeom Ki-hun secara khusus untuk meningkatkan kualitas para striker Indonesia, termasuk Rafael Struick dan Ragnar Oratmangoen. (ANTARA News)
Dan di tengah keterbatasan tersebut, STY menemukan solusi:
gunakan pemain yang tersedia, tetapi berikan fungsi yang sesuai dengan sistem.
Rafael bukan sekadar diminta menjadi pencetak gol.
Ia diberi tugas untuk menjadi bagian dari mekanisme serangan.
Jadi ketika Rafael turun ke bawah, jangan hanya bertanya:
“Kenapa striker turun terus? Siapa yang mau mencetak gol?”
Coba lihat apa yang terjadi setelah ia turun.
Siapa yang masuk ke ruang kosong?
Siapa yang mendapatkan ruang?
Bagaimana garis pertahanan lawan berubah?
Di situlah kita akan melihat bahwa seorang pemain bisa berkontribusi tanpa harus selalu mencetak gol.
🧠Pemain bagus belum tentu cocok dengan skema
Dan dari sini saya justru mendapatkan pelajaran yang jauh lebih besar.
Pemain bagus belum tentu cocok dengan skema pelatih.
Begitu pula sebaliknya.
Pemain yang secara statistik biasa saja belum tentu tidak berguna dalam sebuah sistem.
Karena sepak bola bukan hanya tentang:
siapa yang paling bagus?
Tetapi juga:
siapa yang paling cocok?
Ini juga berlaku untuk pelatih.
Pelatih hebat belum tentu menjadi pelatih yang paling cocok untuk Timnas Indonesia.
Dan pelatih yang pernah sukses di tempat lain belum tentu bisa mengulang kesuksesannya ketika datang ke Indonesia.
Sebab setiap tim mempunyai karakter.
Setiap pemain mempunyai karakter.
Dan setiap pertandingan mempunyai kebutuhan yang berbeda.
STY, suka tidak suka, menurut saya punya kemampuan membaca fungsi pemain.
Ia tidak selalu melihat pemain berdasarkan label posisinya.
Winger bisa menjadi striker.
Striker bisa turun menjadi penghubung.
Gelandang bisa menjadi pemutus serangan.
Bek bisa menjadi bagian dari build-up.
Dan semua itu harus masuk ke dalam satu sistem.
🤔 Lalu datanglah Joey Pelupessy dan Ole Romeny...
Nah, bagian ini yang membuat saya sering berandai-andai.
Di era STY, kita belum memiliki dua kepingan puzzle yang sekarang terasa sangat menarik untuk dibicarakan:
Joey Pelupessy dan Ole Romeny.
Bayangkan...
STY selama ini seperti sedang mencari sebuah gelandang bertahan yang benar-benar bisa menjalankan fungsi tersebut.
Seorang pemain yang bisa menjadi pengaman di depan bek.
Memutus serangan.
Menjaga keseimbangan.
Membantu sirkulasi bola.
Dan memberikan kebebasan lebih kepada gelandang lain untuk bergerak.
Kemudian datanglah Joey Pelupessy.
Sementara di lini depan...
STY bertahun-tahun mencari pemain yang bisa bermain sebagai penyerang tetapi tidak terpaku berdiri di antara dua bek tengah.
Pemain yang bisa turun.
Menjemput bola.
Membawa bola.
Menghubungkan lini tengah dengan lini depan.
Dan tentu saja memiliki naluri mencetak gol.
Kemudian datanglah Ole Romeny.
Bukankah ini seperti kepingan puzzle yang selama ini dicari?
Ole bahkan pernah menjelaskan bahwa dirinya bisa bermain di beberapa posisi, sementara karakter permainannya kemudian menjadi salah satu opsi penting di lini depan Indonesia. (suara.com)
Dan sekarang pertanyaannya menjadi semakin menarik.
Bagaimana kalau mereka datang lebih cepat?
Bagaimana kalau Joey Pelupessy dan Ole Romeny sudah menjadi bagian dari Timnas Indonesia ketika STY masih berada di kursi pelatih?
Bagaimana jika Rafael tidak lagi harus menjadi nomor 9 utama karena Indonesia sudah memiliki striker yang lebih sesuai dengan kebutuhan tersebut?
Bagaimana jika Rafael kemudian dikembalikan ke posisi yang lebih natural?
Winger kiri.
Lalu kita memiliki:
Rafael di sisi kiri.
Ole di depan.
Pemain-pemain cepat di sisi kanan.
Gelandang kreatif di belakangnya.
Dan Joey menjadi penjaga keseimbangan di tengah.
Ah...
kok rasanya seperti puzzle yang mulai lengkap? 😅
🇮🇩 Lalu muncul pertanyaan yang agak nakal...
Kalau semua kepingan itu sudah tersedia...
Bagaimana?
Masih bagus era STY?
🤧
Pertanyaan ini tentu tidak akan pernah bisa kita jawab.
Karena sepak bola tidak mengenal mesin waktu.
Kita tidak akan pernah tahu apakah STY benar-benar akan membawa Indonesia lebih jauh jika mendapatkan Ole dan Joey.
Bisa saja berhasil.
Bisa juga tidak.
Karena pemain bagus tetap harus menyatu dengan sistem.
Dan sistem tetap harus dijalankan oleh manusia.
Tetapi setidaknya kita bisa melihat satu hal:
STY sudah membangun sebuah cara bermain berdasarkan pemain yang tersedia pada zamannya.
Ia bahkan pernah mempercayai Rafael Struick ketika banyak orang mungkin bertanya-tanya:
“Kenapa dia terus?”
Mungkin jawabannya sederhana.
Karena STY tidak hanya melihat berapa gol yang dicetak Rafael.
Ia melihat apa yang terjadi ketika Rafael bergerak.
❤️ Dan mungkin inilah yang sering kita lupakan
Dalam sepak bola, kita terlalu mudah menilai pemain dari sesuatu yang terlihat.
Gol.
Assist.
Rating.
Jumlah menit.
Jumlah pertandingan.
Padahal ada pekerjaan yang tidak selalu masuk statistik.
Menarik pemain.
Membuka ruang.
Memancing pressing.
Menutup jalur passing.
Membuat rekan mendapatkan ruang.
Menjaga struktur permainan.
Semua itu juga bagian dari sepak bola.
Dan mungkin itulah alasan mengapa seorang pemain seperti Rafael Struick bisa begitu dipercaya oleh STY.
Bukan karena ia striker paling sempurna.
Tetapi karena ia cocok dengan apa yang ingin dimainkan STY.
Dan pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:
“Siapa pemain terbaik Timnas Indonesia?”
Melainkan:
“Pemain seperti apa yang paling dibutuhkan oleh sistem Timnas Indonesia?”
Sebab pemain terbaik tanpa sistem bisa kehilangan arah.
Tetapi pemain yang tepat dalam sistem yang tepat...
bisa membuat sebuah tim terlihat jauh lebih besar daripada kumpulan nama-nama hebat di dalamnya.
Dan sekarang, setelah beberapa kepingan baru bermunculan...
Saya cuma bisa tersenyum sambil berkata:
“Coba kalau dulu STY masih ada...”
Mungkin kita akan melihat Rafael yang berbeda.
Mungkin kita akan melihat Ole yang berbeda.
Mungkin kita akan melihat Joey yang berbeda.
Atau mungkin...
kita justru akan menemukan jawaban lain.
Karena sepak bola memang selalu menyisakan satu kata yang paling menyebalkan sekaligus paling menarik:
SEANDAINYA. 🇮🇩🤧

Komentar
Posting Komentar