Menanam Kebaikan

 


Menanam Kebaikan, Bukan Memelihara "Toxic"

Karena Hidup Terlalu Berharga untuk Dihabiskan pada Hal-Hal yang Menguras Jiwa

Akhir-akhir ini saya semakin percaya bahwa hidup bukan tentang siapa yang paling banyak memiliki.

Bukan pula tentang siapa yang paling sering dipuji.

Hidup sesungguhnya adalah tentang apa yang terus kita tanam setiap hari.

Karena apa pun yang kita tanam, cepat atau lambat akan tumbuh.

Jika yang kita tanam adalah kebencian, maka hati akan dipenuhi kegelisahan.

Jika yang kita tanam adalah iri hati, maka hidup akan terasa sempit.

Jika yang kita tanam adalah energi negatif, maka kita sedang membangun penjara bagi diri sendiri.

Maka benar adanya.

Buanglah jauh-jauh segala sesuatu yang membuat hidup menjadi toxic.

Bukan berarti kita membenci orangnya.

Tetapi kita sedang menjaga hati agar tetap menjadi tempat bertumbuhnya kebaikan.


Di era media sosial hari ini, sangat mudah menemukan kemarahan.

Orang berlomba menjadi yang paling keras.

Paling benar.

Paling cepat menghakimi.

Paling mudah menyebarkan kebencian.

Padahal dunia sudah cukup gaduh.

Mengapa kita masih ingin menambah kebisingan itu?

Bukankah hidup akan jauh lebih indah jika kita berlomba dalam kebaikan?

Bukan berlomba mencari perhatian.

Melainkan berlomba memberikan manfaat.


Saya teringat firman Allah yang begitu sederhana tetapi sangat dalam maknanya:

"Fastabiqul khairat."

Berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Bukan berlomba menjadi paling terkenal.

Bukan berlomba menjadi paling kaya.

Bukan pula berlomba menjatuhkan orang lain.

Tetapi berlomba menghadirkan manfaat sebanyak mungkin.

Dan perlombaan seperti ini tidak pernah mengenal kata kalah.

Karena ketika orang lain berbuat baik, kita ikut bahagia.

Ketika kita berbuat baik, orang lain ikut merasakan manfaatnya.

Semua menang.


Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil.

Senyum.

Ucapan terima kasih.

Menyapa lebih dulu.

Membantu teman.

Membuang sampah pada tempatnya.

Menanam satu pohon.

Mengajar dengan sepenuh hati.

Memaafkan.

Mendoakan.

Semua itu mungkin tampak sederhana.

Namun, bukankah pohon besar pun dahulu hanya sebuah kecambah kecil?

Begitu pula kebaikan.

Ia tumbuh perlahan.

Mengakar.

Menguat.

Lalu suatu hari menjadi pohon yang rindang.


Saya selalu menyukai filosofi pohon manggis.

Batangnya kokoh.

Daunnya rindang.

Buahnya dari luar tampak gelap.

Namun ketika dibuka, daging buahnya putih bersih dan rasanya manis.

Bukankah manusia seharusnya seperti itu?

Tidak sibuk mempercantik penampilan luar sambil membiarkan hati dipenuhi prasangka.

Melainkan terus memperbaiki isi dirinya.

Karena kemanisan seseorang bukan terletak pada apa yang tampak oleh mata.

Tetapi pada akhlak, ketulusan, dan manfaat yang ia berikan kepada sesama.


Saya juga selalu kagum kepada bunga matahari.

Ia tidak pernah mengeluh mengapa matahari begitu jauh.

Ia hanya terus menghadap ke arah cahaya.

Bukan karena hidupnya selalu mudah.

Melainkan karena ia tahu ke mana arah pertumbuhannya.

Bukankah kita pun demikian?

Hidup akan terasa jauh lebih ringan ketika kita memilih fokus kepada cahaya daripada terus menghitung gelapnya kehidupan.


Kadang kita terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Padahal setiap orang memiliki musimnya sendiri.

Ada yang sedang bertumbuh.

Ada yang sedang berjuang.

Ada yang sedang belajar bangkit.

Karena itu, jangan sibuk menjadi orang lain.

Jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri.

Lebih baik daripada dirimu kemarin.

Itu sudah cukup.


Ada satu kalimat yang sejak lama menjadi teman perjalanan saya.

"Man Jadda Wajada."

Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Namun hari ini saya memahaminya dengan cara yang sedikit berbeda.

Bersungguh-sungguh bukan hanya dalam mengejar cita-cita.

Tetapi juga bersungguh-sungguh menjaga hati.

Bersungguh-sungguh menebarkan kebaikan.

Bersungguh-sungguh memperbaiki diri.

Bersungguh-sungguh menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Karena keberhasilan sejati bukan hanya tentang apa yang berhasil kita raih.

Tetapi tentang siapa yang berhasil kita bentuk dalam diri kita sendiri.


Dan jika suatu hari hidup terasa begitu berat, izinkan saya mengingatkan satu kalimat sederhana.

Sedekahkan sedihmu untuk senyuman kebahagiaanmu.

Mungkin kita tidak mampu menghapus semua luka.

Tetapi kita selalu mampu memilih bagaimana cara meresponsnya.

Apakah kita akan menyebarkan kepahitan?

Ataukah mengubahnya menjadi alasan untuk semakin banyak menebar kebaikan?

Pilihan itu selalu ada.


Mari kita mulai dari langkah yang paling kecil.

Satu senyum.

Satu doa.

Satu pertolongan.

Satu kata yang menenangkan.

Satu ilmu yang dibagikan.

Satu pohon yang ditanam.

Satu hati yang dihibur.

Karena dunia tidak berubah hanya oleh pidato-pidato besar.

Dunia berubah oleh jutaan kebaikan kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Semoga setiap kebaikan yang kita tanam hari ini tumbuh menjadi kecambah harapan.

Lalu menjadi batang yang kokoh.

Menjadi pohon yang rindang.

Memberi teduh kepada banyak orang.

Dan pada akhirnya berbuah manis, sebagaimana pohon manggis yang diam-diam menyimpan kemanisan di balik kulitnya yang gelap.

"Jangan sibuk menghitung seberapa besar kebaikanmu. Sibuklah menanamnya. Sebab pohon tidak pernah memakan buahnya sendiri, tetapi selalu menghadiahkannya untuk kehidupan di sekitarnya."

— Abdulloh Aup
#aupdentata

Komentar

Postingan Populer