KETIKA RAKYAT CERDAS, KEKUASAAN TIDAK MUDAH MENIPU
KETIKA RAKYAT CERDAS, KEKUASAAN TIDAK MUDAH MENIPU
Belajar dari Tan Malaka, Albert Einstein, dan Soe Hok Gie tentang pendidikan yang memerdekakan pikiran
Ada tiga gambar yang beberapa hari terakhir saya buat.
Tiga tokoh.
Tiga zaman.
Tiga latar belakang yang berbeda.
Tan Malaka.
Albert Einstein.
Soe Hok Gie.
Tetapi ketika saya membaca kembali kata-kata yang saya letakkan di dalamnya, saya justru menemukan satu benang merah yang sangat kuat.
Tan Malaka mengingatkan kita tentang bahaya membuat rakyat sekadar patuh.
Albert Einstein mengingatkan kita tentang bahaya penghormatan buta kepada kekuasaan.
Sementara Soe Hok Gie mengingatkan bahwa hidup yang bermartabat kadang menuntut keberanian untuk melawan.
Kalau tiga gagasan itu kita satukan, muncul sebuah pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang mengucapkannya:
Pendidikan seperti apa yang sedang kita bangun?
Apakah kita sedang mendidik manusia agar cerdas dan berani berpikir?
Ataukah kita sedang mendidik manusia agar patuh, aman, dan tidak banyak bertanya?
Karena keduanya terlihat mirip dari luar.
Tetapi sebenarnya sangat berbeda.
“Mereka ingin rakyat patuh, bukan cerdas.”
Kalimat yang sering dikaitkan dengan Tan Malaka itu terasa seperti sebuah tamparan yang tidak pernah benar-benar kehilangan relevansinya.
Sebab rakyat yang patuh memang lebih mudah diarahkan.
Tetapi rakyat yang cerdas?
Mereka bertanya.
Mereka meminta alasan.
Mereka membaca data.
Mereka membandingkan informasi.
Mereka tidak mudah percaya hanya karena seseorang memiliki jabatan.
Mereka tidak menganggap sebuah pernyataan benar hanya karena diucapkan oleh orang yang memiliki kekuasaan.
Dan justru di situlah letak pentingnya pendidikan.
Pendidikan seharusnya tidak membuat manusia kehilangan kemampuan untuk bertanya.
Sebaliknya, pendidikan harus membuat seseorang semakin mampu membedakan:
mana fakta,
mana opini,
mana propaganda,
mana kepentingan,
mana kebenaran,
dan mana sekadar suara paling keras.
Kutipan tersebut memang kerap dikaitkan dengan Tan Malaka dalam diskursus publik kontemporer. (Jurnas)
Tetapi bagi saya, bahkan lebih penting daripada memperdebatkan siapa pemilik kalimatnya adalah pesan pendidikannya.
Sebab sekolah yang baik bukan sekolah yang menghasilkan anak yang selalu menjawab:
“Iya, Bu.”
“Siap, Pak.”
Sekolah yang baik juga harus mampu melahirkan anak yang sesekali berani bertanya:
“Mengapa?”
Dan ketika jawabannya belum masuk akal, ia berani bertanya lagi:
“Benarkah demikian?”
Lalu Einstein datang membawa pertanyaan yang lebih tajam
Albert Einstein memiliki gagasan yang senada.
Kutipan dalam gambar yang kita buat berbicara tentang penghormatan buta terhadap kekuasaan sebagai musuh kebenaran.
Ini bukan sekadar kutipan internet tanpa jejak sama sekali. Gagasan tersebut bersumber dari surat Einstein kepada Jost Winteler pada 8 Juli 1901; frasa Jermannya “Autoritätsdusel ist der größte Feind der Wahrheit” diterjemahkan dalam berbagai versi sebagai kritik terhadap ketundukan atau penghormatan yang tidak berpikir kepada otoritas. (Skeptics Stack Exchange)
Menariknya, Einstein menulisnya ketika masih sangat muda.
Dan di sini kita menemukan sesuatu yang sangat penting:
kecerdasan bukan hanya kemampuan mengetahui jawaban.
Kecerdasan juga berarti kemampuan mempertanyakan jawaban yang dianggap sudah selesai.
Inilah jantung dari ilmu pengetahuan.
Newton bertanya.
Einstein bertanya.
Darwin bertanya.
Para ilmuwan bertanya.
Bahkan sebuah teori yang sudah diterima selama puluhan tahun tetap boleh dipertanyakan jika ditemukan bukti yang lebih kuat.
Bayangkan jika dunia pendidikan justru mengajarkan sebaliknya.
“Jangan banyak bertanya.”
“Guru selalu benar.”
“Buku selalu benar.”
“Atasan selalu benar.”
“Yang tua selalu benar.”
“Yang punya jabatan pasti lebih tahu.”
Kalau semua itu menjadi dogma, maka kita sedang membangun generasi yang mungkin pandai menghafal, tetapi kehilangan keberanian untuk berpikir.
Dan itu jauh lebih berbahaya.
Sebab orang yang cerdas tidak selalu mudah diatur
Ini bagian yang sering tidak nyaman untuk dibicarakan.
Masyarakat yang cerdas tidak selalu menjadi masyarakat yang paling mudah dikendalikan.
Karena mereka akan bertanya:
Anggarannya dari mana?
Datanya mana?
Dasarnya apa?
Siapa yang diuntungkan?
Siapa yang dirugikan?
Apa buktinya?
Apakah kebijakan ini benar-benar untuk kepentingan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sebenarnya bukan tanda pembangkangan.
Itu tanda kewargaan yang sehat.
Tentu saja, berpikir kritis tidak berarti selalu menolak.
Ini juga penting.
Kritis bukan berarti oposisi terhadap segala sesuatu.
Kalau benar, katakan benar.
Kalau salah, katakan salah.
Kalau belum tahu, katakan belum tahu.
Kalau datanya belum cukup, jangan membuat kesimpulan.
Itulah berpikir.
Dan menurut saya, itulah salah satu bentuk adab intelektual yang paling penting.
Kemudian Soe Hok Gie membawa kita pada satu kata: MELAWAN
Kutipan Soe Hok Gie yang kita jadikan gambar berbunyi:
“Kalau mau selamat, diam saja. Kalau mau kaya, korupsi saja. Kalau mau hidup, ya lawan!”
Kutipan ini juga beredar luas sebagai bagian dari warisan pemikiran Gie. (Indonesia Daily)
Saya tidak membacanya sebagai ajakan untuk menjadi manusia yang gemar memberontak.
Bukan.
Saya justru membacanya sebagai pertanyaan moral.
Sebab ada saat ketika diam adalah kebijaksanaan.
Tetapi ada pula saat ketika diam justru menjadi bentuk pembiaran.
Ada saat ketika mengalah adalah kedewasaan.
Tetapi ada pula saat ketika terus mengalah berarti membiarkan ketidakadilan tumbuh.
Dan ada saat ketika kita harus memilih:
nyaman atau benar.
Soe Hok Gie memilih jalan yang penuh kegelisahan intelektual.
Ia tidak hidup terlalu lama.
Tetapi mungkin justru karena itulah pertanyaannya terus hidup.
Tiga tokoh. Satu pesan.
Kalau saya sederhanakan:
Tan Malaka berkata:
Jangan biarkan rakyat kehilangan kecerdasannya.
Einstein berkata:
Jangan biarkan kecerdasan mati karena penghormatan buta kepada otoritas.
Soe Hok Gie berkata:
Dan ketika kebenaran terancam, jangan kehilangan keberanian untuk bersikap.
Tiga tahap.
Berpikir.
Mempertanyakan.
Bertindak.
Bukankah itu seharusnya juga menjadi tiga tahap pendidikan?
🎓 Maka saya kembali kepada dunia pendidikan
Sebagai guru, saya sering berpikir:
Apa sebenarnya tujuan kita mendidik anak?
Apakah supaya mereka mendapat nilai tinggi?
Apakah supaya mereka lulus ujian?
Apakah supaya administrasi sekolah terlihat sempurna?
Apakah supaya mereka bisa menjawab soal pilihan ganda dengan cepat?
Tentu semua itu penting dalam kadar tertentu.
Tetapi apakah itu cukup?
Saya kira tidak.
Saya ingin anak-anak kita tumbuh menjadi manusia yang ketika melihat sesuatu yang salah, ia mampu berkata:
“Ini tidak benar.”
Ketika mendengar informasi, ia berkata:
“Saya cek dulu.”
Ketika melihat orang berkuasa, ia berkata:
“Saya hormati jabatannya, tetapi tetap saya kritisi kebijakannya.”
Ketika melihat temannya tertindas, ia berkata:
“Saya tidak boleh diam.”
Dan ketika dirinya sendiri melakukan kesalahan, ia mampu berkata:
“Saya salah.”
Menurut saya, itulah pendidikan.
Bukan sekadar membuat manusia pintar.
Tetapi membuat manusia berani menggunakan kepintarannya untuk kebaikan.
🧠Karena pendidikan tanpa keberanian bisa menghasilkan manusia yang sangat pintar... tetapi sangat mudah ditaklukkan
Ini mungkin kalimat paling keras dalam tulisan ini.
Kita bisa memiliki anak dengan nilai 100.
Bisa memiliki lulusan dengan banyak gelar.
Bisa memiliki orang dengan IQ tinggi.
Bisa memiliki manusia yang sangat ahli menggunakan teknologi.
Tetapi kalau ia tidak berani mempertanyakan kebohongan...
tidak berani menolak korupsi...
tidak berani membela yang lemah...
tidak berani mengakui kesalahan...
dan memilih diam setiap kali kepentingannya sendiri aman...
untuk apa kecerdasannya?
Kecerdasan tanpa karakter dapat menjadi alat.
Pengetahuan tanpa moral dapat menjadi senjata.
Kekuasaan tanpa kebenaran dapat menjadi penindasan.
Dan pendidikan tanpa keberanian dapat berubah menjadi pabrik kepatuhan.
🇮🇩 Saya kira Indonesia tidak kekurangan orang pintar
Yang sering kita cari justru adalah:
orang pintar yang jujur.
Orang pintar yang berani.
Orang pintar yang tidak mudah dibeli.
Orang pintar yang tidak mabuk jabatan.
Orang pintar yang mampu berkata “tidak” ketika semua orang berkata “iya”.
Orang pintar yang ketika diberi kekuasaan tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memperkaya diri.
Orang pintar yang tetap manusia ketika memiliki jabatan.
Karena pada akhirnya, ukuran pendidikan bukan hanya:
berapa banyak yang kita ketahui.
Tetapi juga:
untuk apa pengetahuan itu kita gunakan?
🌱 Inilah mengapa saya percaya pendidikan harus memerdekakan pikiran
Anak tidak boleh dibentuk menjadi manusia yang takut bertanya.
Tetapi anak juga tidak boleh dibentuk menjadi manusia yang merasa dirinya paling benar hanya karena bisa bertanya.
Di sinilah adab menjadi penting.
Kita membutuhkan generasi yang:
kritis tetapi santun,
berani tetapi tidak arogan,
cerdas tetapi rendah hati,
skeptis tetapi tidak sinis,
taat tetapi tidak membabi buta,
bebas berpikir tetapi tetap bertanggung jawab.
Itulah keseimbangan yang menurut saya sangat mahal.
Karena pendidikan bukan proyek menciptakan manusia yang selalu patuh.
Dan bukan pula proyek menciptakan manusia yang selalu melawan.
Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia agar mampu menentukan kapan harus patuh, kapan harus bertanya, dan kapan harus berdiri untuk kebenaran.
🔥 Barangkali inilah alasan mengapa tiga gambar tadi terasa begitu kuat
Tan Malaka.
Einstein.
Soe Hok Gie.
Mereka datang dari dunia yang berbeda.
Tetapi ketiganya mengajarkan satu hal yang sama:
Jangan serahkan pikiranmu kepada orang lain.
Karena begitu kita menyerahkan kemampuan berpikir kepada kekuasaan...
kita mudah ditipu.
Begitu kita menyerahkan kebenaran kepada jabatan...
kita mudah dibungkam.
Begitu kita menyerahkan keberanian kepada rasa takut...
kita akan memilih diam.
Dan ketika seluruh masyarakat memilih diam...
ketidakadilan tidak perlu lagi bekerja keras untuk menang.
Ia hanya perlu menunggu.
Lalu apa tugas guru?
Mungkin bukan menjadi orang yang paling banyak bicara.
Bukan pula menjadi orang yang selalu memberikan jawaban.
Tetapi menjadi orang yang membuat murid berani mencari jawaban.
Guru yang baik tidak hanya berkata:
“Ini jawabannya.”
Tetapi juga:
“Menurutmu, mengapa jawabannya demikian?”
Tidak hanya bertanya:
“Sudah hafal?”
Tetapi:
“Sudah paham?”
Tidak hanya menilai:
“Benar atau salah?”
Tetapi juga:
“Bagaimana kamu sampai pada kesimpulan itu?”
Karena dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah nalar tumbuh.
Dan ketika nalar tumbuh...
manusia tidak mudah ditipu.
🇮🇩 Mungkin inilah bentuk perlawanan paling elegan
Tidak selalu turun ke jalan.
Tidak selalu berteriak.
Tidak selalu marah.
Kadang-kadang perlawanan paling kuat justru dimulai dari:
membaca.
Lalu:
bertanya.
Kemudian:
memeriksa.
Setelah itu:
berpikir.
Dan ketika menemukan ketidakadilan:
bersikap.
Dengan kepala dingin.
Dengan data.
Dengan moral.
Dengan adab.
Dengan keberanian.
Sebab dunia tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang hanya pandai berteriak.
Dunia membutuhkan manusia yang tahu mengapa ia bersuara.
Pada akhirnya, saya tidak ingin anak-anak kita hanya menjadi anak yang pintar
Saya ingin mereka menjadi manusia yang sadar.
Sadar bahwa kekuasaan harus diawasi.
Sadar bahwa ilmu harus diuji.
Sadar bahwa informasi harus diverifikasi.
Sadar bahwa jabatan bukan kebenaran.
Sadar bahwa mayoritas tidak selalu benar.
Sadar bahwa diam tidak selalu bijaksana.
Dan sadar bahwa hidup bukan hanya tentang:
selamat.
Bukan hanya tentang:
kaya.
Tetapi tentang:
bermakna.
Tiga gambar.
Tiga tokoh.
Tiga kalimat.
Tetapi kalau kita renungkan lebih dalam, semuanya seperti sedang berbicara kepada guru, orang tua, pemimpin, dan terutama kepada generasi muda:
Jangan jadikan pendidikan sebagai alat untuk membuat manusia takut berpikir.
Jangan jadikan kekuasaan sebagai alasan untuk mematikan kebenaran.
Dan jangan jadikan kenyamanan sebagai alasan untuk membiarkan ketidakadilan.
Sebab bangsa yang hanya mengajarkan kepatuhan akan memiliki banyak pengikut.
Bangsa yang mengajarkan kecerdasan akan memiliki banyak pemikir.
Tetapi bangsa yang mampu menyatukan kecerdasan, keberanian, karakter, dan adab...
akan melahirkan manusia yang mampu menentukan arah sejarahnya sendiri.
Dan mungkin...
itulah pendidikan yang sesungguhnya.
Bukan sekadar membuat manusia tahu.
Bukan sekadar membuat manusia cerdas.
Tetapi membuat manusia memiliki keberanian untuk bertanya:
“Apakah ini benar?”
dan ketika jawabannya ternyata tidak...
memiliki keberanian untuk berkata:
“Kalau begitu, saya tidak akan ikut diam.”
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja




Komentar
Posting Komentar