I Miss You Every Brand New Day

 


I Miss You Every Brand New Day

Ada Rindu yang Tidak Pernah Belajar Pergi

Ada rindu yang datang karena perpisahan.

Ada pula rindu yang hadir meski kita masih saling mengenal.

Lucunya, semakin dewasa seseorang, semakin ia memahami bahwa rindu tidak selalu meminta pertemuan.

Kadang, rindu hanya ingin dikenang.

Dan itu sudah cukup.


"I Miss You Every Brand New Day."

Kalimat itu sederhana.

Pendek.

Namun entah mengapa, ia mampu menyimpan begitu banyak cerita.

Bukan hanya tentang seseorang.

Tetapi tentang waktu.

Tentang kenangan.

Tentang versi diri kita yang pernah hidup pada suatu masa.


Saya percaya bahwa setiap orang pernah memiliki seseorang yang diam-diam tetap tinggal di sudut hatinya.

Bukan karena belum bisa melupakan.

Melainkan karena pernah ada kebaikan yang begitu tulus sehingga hati memilih untuk tidak menghapusnya.

Mungkin seorang sahabat.

Seorang guru.

Seorang murid.

Seorang anggota keluarga.

Atau seseorang yang pernah datang membawa warna, lalu pergi membawa pelajaran.

Hidup memang mengajarkan bahwa tidak semua yang hadir akan menetap.

Namun bukan berarti semua yang pergi harus dilupakan.


Banyak orang mengira rindu selalu identik dengan kesedihan.

Menurut saya, tidak selalu demikian.

Rindu adalah bukti bahwa kita pernah hidup sepenuh hati.

Bahwa kita pernah bertemu orang-orang yang membuat perjalanan hidup terasa lebih bermakna.

Bahwa kita pernah memiliki ruang untuk tertawa bersama.

Dan ketika ruang itu berubah menjadi kenangan, rindu hadir sebagai cara hati mengucapkan terima kasih.


Sebagai seorang guru, saya sering merasakan bentuk rindu yang berbeda.

Setiap tahun, murid datang dan pergi.

Mereka tumbuh.

Lulus.

Melanjutkan perjalanan.

Kadang mereka kembali menyapa.

Kadang hanya terlihat dari foto-foto yang muncul di media sosial.

Namun setiap kali melihat mereka bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, hati ini selalu berbisik,

"Aku merindukan masa ketika kalian masih duduk di bangku kelas itu."

Bukan karena ingin mengulang waktu.

Tetapi karena setiap generasi meninggalkan jejak yang tidak pernah benar-benar hilang.


Begitu pula dalam kehidupan.

Ada masa kecil yang kita rindukan.

Ada rumah yang pernah menjadi tempat pulang.

Ada suara ibu yang membangunkan kita setiap pagi.

Ada ayah yang diam-diam bekerja keras tanpa banyak bicara.

Ada teman-teman yang dulu bermain hingga senja tanpa memikirkan esok hari.

Semua telah berubah.

Namun kenangan tidak pernah meminta izin untuk tetap tinggal.

Ia hidup di dalam hati.


Yang menarik, setiap pagi selalu membawa kehidupan yang baru.

Matahari terbit dengan cahaya yang berbeda.

Langit menghadirkan warna yang berbeda.

Kesempatan pun datang dengan cara yang berbeda.

Namun di tengah semua kebaruan itu, terkadang hati masih menyimpan satu kalimat yang sama.

"I miss you every brand new day."

Bukan karena kita gagal move on.

Tetapi karena manusia memang diciptakan dengan kemampuan untuk mengingat.

Dan mengingat adalah bagian dari rasa syukur.


Meski demikian, rindu tidak seharusnya membuat kita berhenti melangkah.

Rindu bukan tempat tinggal.

Ia hanyalah tempat kita sesekali singgah.

Setelah itu, kita kembali berjalan.

Membuka lembaran baru.

Menyambut orang-orang baru.

Menulis cerita baru.

Karena hidup selalu bergerak ke depan.

Tidak pernah ke belakang.


Saya belajar bahwa orang-orang terbaik dalam hidup kita bukan selalu mereka yang akhirnya tinggal bersama kita.

Kadang mereka adalah orang-orang yang hanya sebentar hadir, tetapi meninggalkan pelajaran yang akan kita bawa sepanjang usia.

Mereka mengajarkan arti ketulusan.

Kesabaran.

Keberanian.

Keikhlasan.

Dan setelah semua selesai, yang tersisa hanyalah doa-doa baik.


Mungkin hari ini ada seseorang yang sedang Anda rindukan.

Tidak perlu memaksa waktu kembali.

Tidak perlu memaksa takdir berubah.

Cukup kirimkan doa terbaik.

Karena cinta yang dewasa tidak selalu meminta untuk memiliki.

Kadang ia hanya berharap,

"Semoga kamu baik-baik saja, di mana pun berada."

Bukankah itu bentuk kasih sayang yang paling tenang?


Setiap hari adalah halaman baru.

Namun bukan berarti kita harus menghapus seluruh halaman lama.

Kenangan bukanlah beban.

Ia adalah akar.

Dan akar yang kuat tidak menghambat pohon untuk tumbuh.

Justru membuatnya mampu berdiri lebih kokoh menghadapi angin kehidupan.

Karena itu, jika suatu pagi rindu kembali datang, jangan buru-buru mengusirnya.

Tersenyumlah.

Ucapkan terima kasih.

Lalu lanjutkan perjalanan.

Sebab hidup tidak meminta kita melupakan.

Hidup hanya meminta kita belajar mengikhlaskan.

"Rindu bukan tanda bahwa kita gagal melupakan. Rindu adalah bukti bahwa pernah ada seseorang yang mengajarkan kita cara mencintai, menghargai, dan bertumbuh. Maka biarkan ia tinggal sebagai doa, bukan sebagai luka."

— Abdulloh Aup

Komentar

Postingan Populer