Buku Filsafat Ilmu Pendidikan
Ketika Guru Memilih Terus Belajar: Sebuah Catatan dari Perjalanan Menulis Buku
"Belajar tidak berhenti ketika seseorang menjadi guru. Justru saat itulah perjalanan belajar yang sesungguhnya dimulai."
Ada satu pertanyaan yang beberapa waktu terakhir sering saya renungkan.
Apakah seorang guru cukup hanya mengajar?
Semakin lama saya menjalani profesi ini, semakin saya menyadari bahwa jawabannya adalah tidak.
Guru bukan sekadar penyampai materi. Guru adalah pembelajar yang sedang menuntun pembelajar lain. Maka, ketika guru berhenti belajar, sesungguhnya ada sesuatu yang ikut berhenti bertumbuh di dalam ruang kelas.
Kesadaran itulah yang mengantarkan saya melanjutkan studi pada Program Doktor Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Bukan semata-mata mengejar gelar, melainkan ingin memperluas cara berpikir, memperdalam makna pendidikan, dan belajar melihat pendidikan dari sudut pandang yang lebih filosofis.
Alhamdulillah, salah satu perjalanan itu kini berbuah menjadi sebuah karya kolaboratif berjudul Filsafat Ilmu Pendidikan: Perspektif Filosofis, Teoritis, dan Praktis (ISBN: 9786342266915).
Buku ini lahir dari kolaborasi bersama para dosen pembimbing Program Doktor Pendidikan UMM, Prof. Dr. Tobroni dan Dr. Hari Sunaryo, serta rekan-rekan mahasiswa Program Beasiswa 5000 Doktor Pendidikan yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Mereka adalah:
Nurul Husna – SMPT Muhammadiyah Gayo Lues
Taufik – Universitas Muhammadiyah Barru, Sulawesi Selatan
Siti Muflihah – Universitas Muhammadiyah Papua Barat
Siti Fatimahtun Zahra – Universitas Muhammadiyah Papua Barat
Aristanto – Universitas Muhammadiyah Papua Barat
Rima Rahmaniah – Universitas Muhammadiyah Mataram
Yophie Adhi Sasmita – SMP Negeri 2 Kamal
Abdulloh – SMP Negeri 1 Blega
Sitti Ufairah – Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah Wakatobi
Kartini – Universitas Muhammadiyah Papua Barat
Sri Astutik – UPTD SDN Ba'engas 3
Membaca daftar nama tersebut membuat saya semakin yakin bahwa pendidikan adalah ruang kolaborasi. Kami datang dari sekolah, kampus, dan daerah yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh tujuan yang sama: belajar dan memberikan kontribusi melalui tulisan.
Menulis Adalah Bentuk Syukur Seorang Guru
Bagi saya, menulis bukan tentang menjadi penulis terkenal.
Menulis adalah cara bersyukur atas kesempatan belajar.
Setiap buku yang selesai ditulis adalah jejak perjalanan intelektual sekaligus perjalanan batin. Ia mengingatkan bahwa ilmu tidak boleh berhenti di kepala sendiri. Ilmu harus dibagikan, didiskusikan, bahkan dikritisi agar terus berkembang.
Saya selalu percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang mentransfer pengetahuan. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, membentuk karakter, menumbuhkan kebijaksanaan, dan membantu setiap peserta didik menemukan versi terbaik dirinya.
Karena itulah, seorang guru juga perlu terus membaca, meneliti, berdiskusi, dan menulis. Sebab murid tidak hanya belajar dari apa yang kita ajarkan, tetapi juga dari apa yang kita teladankan.
Guru yang Bertumbuh Akan Melahirkan Murid yang Bertumbuh
Hari ini kita sering berbicara tentang literasi dan numerasi peserta didik.
Namun saya percaya, budaya literasi peserta didik akan jauh lebih mudah tumbuh apabila budaya literasi guru terlebih dahulu hidup.
Guru yang gemar membaca akan melahirkan murid yang gemar membaca.
Guru yang gemar menulis akan melahirkan murid yang berani berkarya.
Guru yang tidak pernah berhenti belajar akan melahirkan generasi yang mencintai proses belajar.
Karena pendidikan sejatinya bukan perlombaan untuk menjadi yang paling pintar, melainkan perjalanan panjang untuk menjadi manusia yang terus bertumbuh.
Sebuah Catatan untuk Diri Saya Sendiri
Perjalanan doktoral masih belum selesai.
Masih banyak buku yang ingin saya baca.
Masih banyak penelitian yang ingin saya lakukan.
Masih banyak gagasan yang ingin saya tuliskan.
Namun satu hal yang ingin selalu saya jaga adalah tetap rendah hati di hadapan ilmu.
Semoga setiap langkah belajar ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menambah kebijaksanaan dalam mendidik.
Semoga setiap tulisan menjadi manfaat.
Semoga setiap halaman yang lahir menjadi amal jariyah.
Dan semoga saya tetap menjadi guru yang selalu bersedia duduk sebagai murid.
"Guru terbaik bukanlah guru yang merasa sudah selesai belajar, tetapi guru yang setiap hari bersedia membuka lembaran baru untuk terus bertumbuh."
Salam Literasi.
Abdulloh
Guru IPA UPTD SMP Negeri 1 Blega | Calon Doktor Pendidikan UMM | Duta Canva Indonesia (Canvassador)



Komentar
Posting Komentar