KESEMPATAN UNTUK MENJADI BERMAKNA
TAK SEMUA ORANG DILAHIRKAN DENGAN MODAL YANG SAMA, TETAPI SETIAP ORANG DIBERI KESEMPATAN UNTUK MENJADI BERMAKNA
Tentang ikhtiar, keterbatasan, reputasi, kompetensi, dan akhirnya: kepada siapa kita mengabdikan kemenangan.
Ada kalimat yang sederhana, tetapi semakin direnungkan justru semakin dalam:
Kalau kalah pintar, harus menang rajin.
Kalau kalah rupa, harus menang baik.
Kalau kalah privilege, harus menang reputasi.
Kalau kalah koneksi, harus menang kompetensi.
Kalau kalah di semuanya, menanglah di ibadah.
Sekilas terdengar seperti strategi untuk memenangkan hidup.
Seolah-olah hidup adalah perlombaan.
Yang satu punya otak lebih cepat.
Yang lain punya wajah lebih menarik.
Ada yang lahir dari keluarga berada.
Ada yang sejak kecil sudah memiliki jaringan.
Ada yang membuka mata dan dunia memang sudah menyediakan jalan.
Sementara sebagian yang lain harus mengetuk pintu berkali-kali hanya untuk mendapatkan kesempatan yang sama.
Tetapi mungkin pesan terdalam dari kalimat itu bukan tentang bagaimana menjadi pemenang.
Melainkan tentang bagaimana tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti bertumbuh.
KITA MEMANG TIDAK MEMULAI HIDUP DARI GARIS START YANG SAMA
Ini kenyataan yang kadang sulit kita terima.
Ada orang yang sejak kecil memiliki akses pendidikan terbaik.
Ada yang lahir dalam keluarga yang mendukung.
Ada yang memiliki penampilan menarik.
Ada yang memiliki kemampuan akademik luar biasa.
Ada yang tumbuh di lingkungan yang mempertemukannya dengan orang-orang hebat.
Ada pula yang harus bekerja lebih keras hanya untuk mendapatkan kesempatan yang bagi orang lain datang dengan sendirinya.
Maka jangan terlalu cepat mengatakan:
“Semua orang punya kesempatan yang sama.”
Tidak selalu.
Kesempatannya bisa berbeda. Modalnya bisa berbeda. Titik berangkatnya bisa berbeda.
Tetapi ada satu hal yang masih bisa kita perjuangkan:
cara kita merespons titik berangkat itu.
Kita tidak selalu bisa memilih dari keluarga mana kita lahir.
Tidak selalu bisa memilih wajah seperti apa yang kita miliki.
Tidak selalu bisa memilih siapa yang mengenal kita.
Tetapi kita masih bisa memilih:
apakah kita mau belajar,
apakah kita mau bekerja,
apakah kita mau menjaga karakter,
apakah kita mau menjadi kompeten,
dan yang paling dalam:
apakah kita mau tetap dekat kepada Tuhan.
KALAU KALAH PINTAR, MENANGLAH DI RAJIN
Tidak semua orang memiliki kecerdasan akademik yang sama.
Dan itu bukan penghinaan.
Manusia memang diciptakan dengan kemampuan yang beragam.
Ada yang cepat memahami angka.
Ada yang kuat dalam bahasa.
Ada yang memiliki kecerdasan visual.
Ada yang luar biasa dalam musik.
Ada yang pandai membaca manusia.
Ada yang memiliki kepekaan terhadap alam.
Ada yang mampu memimpin.
Ada yang baru terlihat hebat ketika diberikan ruang untuk berkarya.
Maka jangan jadikan nilai ujian sebagai satu-satunya ukuran harga diri manusia.
Tetapi kalau memang kita merasa tidak secepat orang lain dalam memahami sesuatu, jangan berhenti.
Belajarlah sedikit lebih lama.
Baca satu halaman lagi.
Latihan satu kali lagi.
Coba sekali lagi.
Karena terkadang bakat membuat seseorang memulai lebih cepat, tetapi ketekunan membuat seseorang bertahan lebih lama.
Orang yang berbakat bisa mengalahkan kita hari ini.
Tidak masalah.
Pertanyaannya:
Apakah kita masih belajar ketika dia sudah berhenti?
KALAU KALAH RUPA, MENANGLAH DI KEBAIKAN
Dunia memang sering memberi perhatian lebih cepat kepada sesuatu yang indah dipandang.
Tetapi kecantikan memiliki batas waktu.
Wajah berubah.
Rambut memutih.
Kulit menua.
Tubuh kehilangan kekuatannya.
Dan pada akhirnya manusia akan sampai pada satu keadaan ketika semua atribut fisik yang dulu dibanggakan tidak lagi menjadi penentu utama.
Yang tertinggal adalah:
bagaimana kita memperlakukan manusia lain.
Ada orang yang mungkin tidak memiliki rupa yang dianggap sempurna.
Tetapi ketika ia datang, suasana menjadi lebih hangat.
Ketika ia berbicara, orang merasa dihargai.
Ketika seseorang kesulitan, ia hadir.
Ketika diberi amanah, ia menjaga.
Dan ketika tidak ada yang melihat, ia tetap memilih berbuat baik.
Bukankah itu bentuk keindahan yang jauh lebih dalam?
Rupa membuat mata tertarik. Akhlak membuat hati bertahan.
KALAU KALAH PRIVILEGE, MENANG DI REPUTASI
Privilege adalah sesuatu yang nyata.
Ada orang yang lahir dengan lebih banyak akses.
Tetapi akses bukanlah jaminan.
Seseorang bisa mendapatkan kesempatan pertama karena keluarganya.
Tetapi belum tentu mendapatkan kepercayaan kedua jika ia tidak mampu menjaganya.
Di sinilah reputasi menjadi penting.
Nama baik adalah modal yang dibangun perlahan.
Sekali demi sekali.
Dari janji yang ditepati.
Dari pekerjaan yang diselesaikan.
Dari kejujuran ketika tidak ada yang mengawasi.
Dari kemampuan menjaga rahasia.
Dari keberanian mengatakan tidak pada sesuatu yang salah.
Reputasi tidak bisa dibeli dengan satu unggahan.
Tidak bisa dibangun dengan pencitraan semalam.
Ia tumbuh dari konsistensi.
Maka kalau kita tidak memiliki privilege yang sama dengan orang lain, jangan sibuk mengutuk jalan hidup mereka.
Bangun sesuatu yang bisa kita bawa ke mana pun:
integritas.
Sebab suatu hari nanti orang mungkin lupa dari keluarga mana kita berasal.
Tetapi mereka akan mengingat:
“Kalau urusan itu diberikan kepadanya, saya percaya.”
Dan kepercayaan adalah bentuk kekayaan yang tidak selalu terlihat.
KALAU KALAH KONEKSI, MENANG DI KOMPETENSI
Ada orang yang pintunya terbuka karena ia mengenal orang yang tepat.
Ada yang harus mengetuk sendiri.
Kadang berkali-kali.
Menyakitkan?
Tentu.
Tetapi ada satu cara yang sangat elegan untuk menghadapi keadaan seperti itu:
menjadi begitu kompeten sehingga keberadaan kita sulit diabaikan.
Belajar.
Berlatih.
Berkarya.
Menyelesaikan masalah.
Bangun portofolio.
Jaga kualitas.
Jadilah orang yang ketika kesempatan akhirnya datang, kita memang siap menerimanya.
Karena koneksi bisa memperkenalkan kita kepada sebuah ruangan.
Tetapi kompetensi menentukan apakah kita layak tetap berada di dalamnya.
Dan reputasi menentukan apakah orang akan mengundang kita kembali.
TETAPI BAGAIMANA JIKA KITA KALAH DI SEMUANYA?
Nah.
Di sinilah kalimat itu menjadi menarik.
“Kalau kalah di semuanya, menanglah di ibadah.”
Bukan berarti ibadah dijadikan hadiah hiburan bagi orang yang gagal dalam kehidupan dunia.
Bukan.
Justru di sinilah perspektifnya berubah.
Kita tiba-tiba menyadari:
Mungkin sejak awal hidup memang bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling hebat.
Karena kalau ukurannya adalah uang, akan selalu ada yang lebih kaya.
Kalau ukurannya kecerdasan, akan selalu ada yang lebih pintar.
Kalau ukurannya jabatan, akan selalu ada yang lebih tinggi.
Kalau ukurannya popularitas, akan selalu ada yang lebih terkenal.
Kalau ukurannya kecantikan, selalu ada yang lebih menarik.
Kalau ukurannya jumlah pengikut, akan selalu ada yang lebih banyak.
Kalau ukurannya prestasi, selalu ada rekor baru yang bisa dipecahkan.
Lalu kapan kita merasa cukup?
MUNGKIN KARENA KITA SALAH MEMAHAMI ARTI “MENANG”
Kita terlalu sering mengajarkan anak-anak untuk menang melawan orang lain.
Ranking.
Kompetisi.
Piala.
Medali.
Jumlah pengikut.
Jumlah penghargaan.
Padahal ada kemenangan yang tidak memiliki panggung.
Menang melawan kemalasan.
Menang melawan iri hati.
Menang melawan kesombongan.
Menang melawan keinginan membalas keburukan.
Menang melawan godaan untuk curang.
Menang mempertahankan kejujuran ketika berbohong jauh lebih menguntungkan.
Tidak ada tepuk tangan untuk semua itu.
Tidak ada sertifikat.
Tidak ada piala.
Tetapi mungkin justru di sanalah kualitas manusia sedang dibentuk.
SEBAB ADA KEMENANGAN YANG TIDAK PERLU DIKETAHUI ORANG
Kita hidup di zaman ketika hampir semua pencapaian ingin dibagikan.
Sedekah difoto.
Kebaikan diumumkan.
Perjalanan dipamerkan.
Keberhasilan dipublikasikan.
Bahkan ibadah kadang tidak luput dari kamera.
Padahal ada amal yang justru terasa lebih indah ketika hanya kita dan Allah yang mengetahuinya.
Ada doa yang tidak perlu dipublikasikan.
Ada air mata yang tidak perlu dijelaskan.
Ada perjuangan yang tidak perlu mendapatkan tepuk tangan.
Dan ada kebaikan yang cukup menjadi saksi bahwa:
kita pernah memilih menjadi baik ketika tidak ada keuntungan dunia yang menjanjikan.
TAAT BUKAN BERARTI MENYERAH DARI KEHIDUPAN
Ini juga penting.
Menjadi taat bukan berarti berhenti berusaha.
Bukan berarti:
“Saya tidak pintar, ya sudah.”
“Saya tidak punya privilege, ya sudah.”
“Saya tidak punya koneksi, berarti saya pasrah.”
Tidak.
Tawakal bukan kemalasan yang diberi nama religius.
Kita tetap belajar.
Tetap bekerja.
Tetap memperbaiki kompetensi.
Tetap membangun hubungan baik.
Tetap berkarya.
Tetap mengejar kehidupan yang layak.
Tetapi setelah semua ikhtiar dilakukan, kita sadar:
hasil bukan sepenuhnya milik kita.
Ada wilayah yang menjadi tanggung jawab manusia.
Ada wilayah yang menjadi kehendak Allah.
Di situlah tawakal menemukan tempatnya.
DAN MUNGKIN INILAH KEMERDEKAAN YANG SEBENARNYA
Bebas dari kebutuhan untuk selalu terlihat unggul.
Bebas dari iri terhadap perjalanan orang lain.
Bebas dari obsesi membuktikan diri kepada semua orang.
Bebas dari kebutuhan untuk selalu menang.
Karena ketika kita terlalu sibuk memenangkan perlombaan manusia, kita bisa lupa bertanya:
“Untuk siapa sebenarnya saya berlari?”
Pertanyaan itu dalam.
Karena seseorang bisa memenangkan banyak hal di dunia...
tetapi kehilangan dirinya sendiri.
Bisa mendapatkan jabatan...
tetapi kehilangan integritas.
Bisa mendapatkan kekayaan...
tetapi kehilangan ketenangan.
Bisa mendapatkan popularitas...
tetapi kehilangan privasi.
Bisa mendapatkan banyak pengikut...
tetapi kehilangan arah.
Dan bisa terlihat berhasil di mata manusia...
tetapi gagal menjadi manusia di hadapan Tuhannya.
JADI, JANGAN TERLALU TAKUT KALAH
Kalah dalam satu perlombaan bukan berarti kalah dalam kehidupan.
Tidak menjadi yang paling pintar bukan berarti tidak bisa menjadi bermanfaat.
Tidak memiliki rupa yang dianggap sempurna bukan berarti tidak bisa memiliki akhlak yang indah.
Tidak lahir dengan privilege bukan berarti tidak bisa membangun reputasi.
Tidak memiliki koneksi bukan berarti tidak bisa menjadi kompeten.
Dan ketika dunia tidak memberi kita banyak alasan untuk merasa hebat...
kita masih memiliki kesempatan untuk menjadi hamba yang baik.
Itu bukan kemenangan kecil.
KARENA PADA AKHIRNYA, HIDUP BUKAN TENTANG SIAPA YANG PALING MENANG
Mungkin kita terlalu lama mengira kehidupan adalah pertandingan.
Padahal kehidupan lebih mirip perjalanan.
Ada yang berlari.
Ada yang berjalan.
Ada yang tertatih.
Ada yang harus berhenti sebentar.
Ada yang jalannya lurus.
Ada yang berputar-putar sebelum menemukan arah.
Jangan sibuk menghitung siapa yang lebih jauh.
Karena kita tidak pernah tahu beban yang dibawa orang lain.
Dan jangan terlalu bangga karena merasa sudah berada di depan.
Sebab kita juga tidak tahu bagaimana akhir perjalanan masing-masing.
Yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai.
Tetapi:
dengan cara apa kita berjalan,
siapa yang kita tinggalkan dalam kebaikan,
berapa banyak manusia yang menjadi lebih kuat karena pernah bertemu kita,
dan akhirnya...
kepada siapa kita kembali.
Maka kalau hari ini merasa kalah pintar, rajinlah.
Kalau merasa kalah rupa, baiklah.
Kalau merasa kalah privilege, bangunlah reputasi.
Kalau merasa kalah koneksi, tingkatkan kompetensi.
Kalau merasa dunia tidak memberi banyak kemenangan...
jangan berhenti menjadi baik.
Dan kalau suatu hari semua pencapaian dunia terasa tidak berarti...
kembalilah kepada Allah.
Karena mungkin pada akhirnya kita akan memahami:
Hidup tidak pernah benar-benar meminta kita menjadi manusia yang paling hebat.
Ia hanya meminta kita menjadi manusia yang sebaik-baiknya.
Sebab di dunia ini, yang paling bernilai bukan selalu mereka yang paling tinggi berdiri di hadapan manusia.
Tetapi mereka yang paling baik ketika berdiri di hadapan Tuhannya.
— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️
Dan mungkin, itulah satu-satunya “kemenangan” yang tidak perlu dibandingkan dengan siapa pun.

Komentar
Posting Komentar