YANG MULIA NABI MUHAMMAD S.A.W

 


MANA YANG LEBIH MULIA: MALAM LAHIRNYA RASULULLAH ﷺ ATAU MALAM TURUNNYA LAILATUL QADR?

Sebuah renungan dari khazanah ulama: jika Lailatul Qadr begitu mulia karena Al-Qur’an diturunkan di dalamnya, lalu bagaimana dengan malam ketika manusia yang menjadi rahmat bagi seluruh alam dilahirkan?

Ada pertanyaan yang mungkin terdengar berani.

Bahkan bagi sebagian orang, mungkin terasa tidak biasa:

“Benarkah malam Maulid Nabi ﷺ lebih utama daripada Lailatul Qadr?”

Pertanyaan ini bukan sekadar permainan kata.

Ia lahir dari sebuah cara pandang yang menarik dalam khazanah keilmuan Islam: menilai kemuliaan sebuah waktu melalui kemuliaan peristiwa yang terjadi di dalamnya.

Pembahasan seperti ini ditemukan dalam tradisi syarah Maulid al-Barzanji, salah satunya dalam kitab Al-Qaul al-Munji 'ala Mawlid al-Barzanji karya Syekh Muhammad bin Ahmad 'Alisy. Kitab tersebut memang merupakan syarah atas karya Maulid al-Barzanji dan telah dicetak dalam berbagai edisi. (Dlib NYU)

Namun ada satu catatan penting: jumlah halaman berbeda-beda menurut edisi, sehingga angka “213 halaman” sebaiknya tidak dianggap sebagai patokan universal. Saya juga akan menyebut tiga poin berikut sebagai pandangan yang dinisbatkan kepada syarah tersebut, bukan sebagai kesepakatan seluruh ulama.

Dan justru di situlah pembahasannya menjadi menarik.


1. LAILATUL QADR MULIA KARENA TURUNNYA AL-QUR'AN, SEDANGKAN MAULID MULIA KARENA LAHIRNYA RASULULLAH ﷺ

Lailatul Qadr mendapatkan kemuliaan yang luar biasa.

Allah berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”
QS. Al-Qadr: 3

Pada malam itu, Al-Qur'an diturunkan.

Malam yang di dalamnya turun para malaikat.

Malam yang penuh keselamatan hingga terbit fajar.

Maka siapa yang meragukan kemuliaan Lailatul Qadr?

Tidak ada.

Tetapi para ulama yang membandingkan kedua malam tersebut kemudian mengajukan sebuah pertanyaan filosofis:

Jika sebuah malam menjadi begitu mulia karena sebuah karunia yang turun di dalamnya, bagaimana dengan malam ketika sumber rahmat itu sendiri lahir ke dunia?

Lailatul Qadr berkaitan dengan turunnya Al-Qur'an.

Sedangkan Maulid berkaitan dengan lahirnya Rasulullah ﷺ, manusia yang menerima wahyu, menyampaikan Al-Qur'an, menjelaskan Al-Qur'an, dan menjadi teladan bagaimana Al-Qur'an hidup dalam perilaku manusia.

Maka logika yang digunakan bukan:

“Lailatul Qadr tidak penting.”

Justru sebaliknya.

Karena Lailatul Qadr begitu mulia, pertanyaan tentang sumber kemuliaannya menjadi menarik untuk direnungkan.


2. LAILATUL QADR DIMULIAKAN DENGAN TURUNNYA PARA MALAIKAT, MAULID DIMULIAKAN DENGAN LAHIRNYA RASULULLAH ﷺ

Ada perbandingan yang sangat indah.

Lailatul Qadr menjadi istimewa karena pada malam itu para malaikat turun.

Allah berfirman:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا

“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril).”
QS. Al-Qadr: 4

Bayangkan.

Malam itu begitu mulia karena menjadi tempat turunnya makhluk-makhluk Allah yang mulia.

Tetapi dalam perspektif yang dinisbatkan kepada Al-Qaul al-Munji, Maulid memiliki sisi kemuliaan yang berbeda:

Bukan karena siapa yang turun, tetapi karena siapa yang lahir.

Rasulullah ﷺ.

Manusia pilihan.

Pembawa risalah.

Penutup para nabi.

Dan sosok yang oleh Al-Qur'an disebut sebagai:

رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Rahmat bagi seluruh alam.”
QS. Al-Anbiya: 107

Maka perbandingannya menjadi sangat filosofis:

Lailatul Qadr: kemuliaannya dikaitkan dengan turunnya malaikat.

Maulid Nabi: kemuliaannya dikaitkan dengan lahirnya manusia yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Bukan berarti malaikat tidak mulia.

Bukan pula berarti Lailatul Qadr menjadi tidak penting.

Tetapi para ulama sedang mengajak kita melihat dari mana kemuliaan itu ditinjau.


3. LAILATUL QADR ADALAH NIKMAT UNTUK UMAT NABI ﷺ, SEDANGKAN MAULID ADALAH NIKMAT BAGI SELURUH ALAM

Ini mungkin bagian yang paling dalam.

Lailatul Qadr adalah karunia yang luar biasa bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.

Bayangkan satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Betapa besar kemurahan Allah kepada umat ini.

Namun kelahiran Rasulullah ﷺ memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Karena beliau diutus bukan hanya untuk satu bangsa.

Bukan hanya untuk satu suku.

Bukan hanya untuk satu zaman.

Tetapi:

رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Rahmat bagi seluruh alam.

Maka ketika Rasulullah ﷺ lahir, yang mendapatkan rahmat bukan hanya manusia yang hidup pada masa itu.

Risalahnya menjangkau generasi demi generasi.

Mengajarkan manusia mengenal Tuhannya.

Mengajarkan keadilan.

Mengajarkan kasih sayang.

Mengajarkan amanah.

Mengajarkan bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.

Bahkan bagaimana manusia memperlakukan makhluk Allah yang lain.


LALU, APAKAH INI BERARTI KITA HARUS MENINGGALKAN LAILATUL QADR?

Tentu tidak.

Justru di sinilah kita harus berhati-hati.

Pembahasan keutamaan malam Maulid dibandingkan Lailatul Qadr adalah perdebatan dalam khazanah ulama, bukan sesuatu yang layak dijadikan alasan untuk meremehkan Lailatul Qadr.

Lailatul Qadr memiliki kedudukan yang sangat jelas dalam Al-Qur'an.

Allah sendiri menyebutnya:

خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Lebih baik daripada seribu bulan.

Maka tulisan ini bukan ajakan untuk mempertentangkan:

Maulid versus Lailatul Qadr.

Bukan.

Justru keduanya bisa menjadi pintu untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Yang satu mengingatkan kita pada turunnya Al-Qur'an.

Yang satu mengingatkan kita pada lahirnya pembawa risalah Al-Qur'an.


DAN DI SINILAH SAYA MENEMUKAN SESUATU YANG INDAH

Kadang kita terlalu sibuk menghitung:

“Mana yang lebih utama?”

Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang kita lakukan terhadap kemuliaan itu?”

Apa artinya Lailatul Qadr jika setelah Ramadan kita kembali menjadi manusia yang sama?

Apa artinya memperingati Maulid jika setelahnya akhlak kita tidak berubah?

Apa artinya membaca sejarah Rasulullah ﷺ jika kita tidak belajar menjadi manusia yang lebih rahmah?

Sebab kemuliaan waktu seharusnya melahirkan kemuliaan perilaku.


MAULID BUKAN SEKADAR MENGINGAT TANGGAL

Maulid seharusnya bukan hanya:

shalawat,

pengajian,

dekorasi,

makanan,

atau keramaian.

Semua itu bisa menjadi bagian dari kegembiraan.

Tetapi inti yang lebih dalam adalah:

MENGHIDUPKAN KEMBALI CINTA KEPADA RASULULLAH ﷺ.

Dan cinta tidak berhenti pada ucapan.

Cinta seharusnya melahirkan peneladanan.

Kalau beliau rahmah, kita belajar menjadi rahmah.

Kalau beliau jujur, kita belajar jujur.

Kalau beliau amanah, kita belajar amanah.

Kalau beliau memaafkan, kita belajar memaafkan.

Kalau beliau peduli kepada orang lemah, kita belajar tidak menindas.

Kalau beliau mengajarkan kasih sayang, kita belajar berhenti menjadi sumber penderitaan bagi makhluk lain.


MUNGKIN ITULAH MAKNA TERDALAM “RAHMAT BAGI SELURUH ALAM”

Bukan hanya rahmat bagi manusia.

Tetapi sebuah cara hidup.

Cara melihat dunia.

Bahwa kekuatan tidak boleh menjadi alasan untuk menindas.

Kekuasaan tidak boleh menjadi alasan untuk semena-mena.

Ilmu tidak boleh membuat kita sombong.

Harta tidak boleh membuat kita lupa.

Dan agama tidak boleh berhenti sebagai identitas.

Sebab Rasulullah ﷺ datang membawa rahmat, bukan sekadar membawa pengetahuan tentang rahmat.


JADI, MANA YANG LEBIH UTAMA?

Jika mengikuti pandangan yang dinisbatkan kepada Al-Qaul al-Munji, ada argumentasi yang menempatkan malam Maulid sebagai lebih utama daripada Lailatul Qadr dengan tiga pertimbangan:

Pertama, Lailatul Qadr dikaitkan dengan turunnya Al-Qur'an, sedangkan Maulid dikaitkan dengan lahirnya Rasulullah ﷺ.

Kedua, Lailatul Qadr dimuliakan dengan turunnya para malaikat, sedangkan malam Maulid dimuliakan dengan lahirnya Rasulullah ﷺ.

Ketiga, Lailatul Qadr merupakan karunia yang sangat besar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ, sementara kelahiran beliau dipandang sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Pandangan tentang keutamaan malam Maulid seperti ini memang pernah dikemukakan oleh sejumlah ulama dalam tradisi Islam, tetapi bukan pendapat yang disepakati seluruh ulama. Karena itu, lebih tepat menyebutnya sebagai salah satu pandangan dalam khazanah keilmuan Islam. (Abu Faletehan)


DAN SAYA KIRA, DI SINILAH KITA SEHARUSNYA BERHENTI BERDEBAT SEJENAK

Lalu bertanya kepada diri sendiri:

“Sudahkah kelahiran Rasulullah ﷺ melahirkan sesuatu yang baru dalam diri saya?”

Kalau dulu mudah marah...

sekarang sedikit lebih sabar.

Kalau dulu mudah menghina...

sekarang lebih menjaga lisan.

Kalau dulu hanya peduli kepada diri sendiri...

sekarang mulai peduli kepada orang lain.

Kalau dulu merasa paling benar...

sekarang belajar rendah hati.

Kalau dulu mudah merusak...

sekarang belajar menjaga.

Itulah Maulid yang hidup.

Bukan hanya memperingati kelahiran beliau.

Tetapi membuat akhlak beliau lahir kembali dalam diri kita.


Maka selamat menyambut Maulid Nabi Muhammad ﷺ.

Nabi bersabda: Man la yarham la yurham (مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ) yang berarti "Barangsiapa tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi" (HR. Bukhari).

Yang dapat kita ambil hikmahnya bahwa haruslah kita sayangi setiap kebaikan agar kebaikan itupun sayang pada kita. Bagaimana mungkin nabi akan saya kepada kita kalau kita tidak pernah sayang bada beliau? Cara sederhana bentuk sayang ini mungkin dengan mengingatnya... 

Semoga Allah menjadikan kita bukan hanya orang yang mengenal nama beliau, tetapi orang yang mengenal akhlaknya.

Bukan hanya orang yang bershalawat kepada beliau, tetapi orang yang berusaha mengikuti jejak beliau.

Dan bukan hanya orang yang merayakan kelahirannya...

tetapi orang yang membiarkan kelahiran itu menjadi sebab lahirnya manusia yang lebih baik di dalam dirinya sendiri.

Sebab pada akhirnya...

Kemuliaan sebuah malam bukan hanya tentang apa yang terjadi di dalamnya.

Tetapi juga tentang:

apa yang lahir dari hati manusia setelah melewatinya.

Selamat Maulid Nabi Muhammad ﷺ.
Semoga cinta kita kepada beliau menjadi rahmat bagi diri sendiri, keluarga, sesama manusia, alam, dan seluruh kehidupan. 🤍🌿

— Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️

#MaulidNabi #MaulidNabi2026 #CintaRasul #RahmatanLilAlamin #ArahBatin

Komentar

Postingan Populer