JIKA TIDAK INGIN ANAK INDONESIA KELAPARAN

 


JIKA TIDAK INGIN ANAK INDONESIA KELAPARAN, JANGAN HANYA KASIH MAKAN ANAKNYA—NAIKKAN PENGHASILAN ORANG TUANYA

Sebab anak yang kenyang hari ini adalah kebutuhan. Tetapi orang tua yang mampu memberi makan anaknya setiap hari adalah kemandirian.

Ada pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting daripada sekadar:

“Apakah anak-anak sudah mendapatkan makanan bergizi?”

Pertanyaannya adalah:

“Mengapa masih ada orang tua yang kesulitan memastikan anaknya makan bergizi?”

Di situlah kita perlu berbicara lebih dalam tentang kemiskinan, pekerjaan, upah, produktivitas, dan masa depan keluarga Indonesia.

Karena kalau seorang anak hari ini mendapatkan makanan gratis, tentu kita patut bersyukur.

Tetapi kalau besok ia pulang ke rumah dan orang tuanya masih bingung:

“Besok kita makan apa?”

maka ada persoalan yang belum selesai.


MBG BISA MEMBERI MAKAN. TETAPI JANGAN SAMPAI KITA BERHENTI PADA MEMBERI MAKAN.

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG memang dirancang pemerintah sebagai intervensi pemenuhan gizi. Badan Gizi Nasional menyebut sasaran pentingnya mencakup fase 1.000 hari pertama kehidupan serta usia 8–18 tahun, dengan tujuan mendukung pertumbuhan dan kualitas generasi mendatang. (Badan Gizi Nasional)

Bahkan pemerintah secara resmi menyatakan MBG juga diharapkan berkontribusi terhadap pengurangan kemiskinan dan ketimpangan melalui pengurangan beban pengeluaran pangan rumah tangga. (Badan Gizi Nasional)

Jadi tulisan ini bukan ajakan untuk menolak MBG.

Justru sebaliknya.

Saya ingin mengajak kita melihat persoalan dari hulu.

Sebab anak lapar bukan hanya persoalan piring yang kosong.

Kadang ia adalah tanda bahwa:

pendapatan keluarga terlalu kecil,

pekerjaan terlalu tidak pasti,

harga kebutuhan terlalu tinggi,

akses terhadap pekerjaan layak terlalu sempit,

atau ekonomi keluarga tidak cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri.


KITA TIDAK BOLEH HANYA MEMINDAHKAN MAKANAN, KITA HARUS MEMINDAHKAN KESEJAHTERAAN

Bayangkan sebuah keluarga.

Ayah bekerja serabutan.

Ibu membantu berjualan kecil-kecilan.

Pendapatan tidak menentu.

Hari ini ada uang.

Besok belum tentu.

Anak kemudian mendapatkan makanan bergizi di sekolah.

Itu sangat membantu.

Tetapi ketika pulang sekolah, keluarga tersebut tetap harus membayar:

listrik,

air,

sewa rumah,

transportasi,

seragam,

buku,

obat,

kebutuhan dapur,

dan kebutuhan lainnya.

Maka kita menemukan sebuah ironi.

Anak mendapatkan makan siang. Tetapi keluarganya belum mendapatkan jalan keluar dari kemiskinan.

Dan inilah mengapa kebijakan sosial tidak boleh berhenti pada bantuan konsumsi.


BANTUAN ITU PENTING. TETAPI PEKERJAAN LAYAK LEBIH TRANSFORMATIF.

Ada perbedaan besar antara:

memberi seseorang ikan

dengan

membuat seseorang mampu memperoleh ikan secara berkelanjutan.

Saya tahu perumpamaan ini terlalu sering digunakan.

Tetapi ia tetap relevan.

Ketika negara memberikan makanan, negara sedang membantu memenuhi kebutuhan.

Ketika negara menciptakan lapangan kerja yang layak, negara sedang membangun kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Itulah mengapa menurut saya kebijakan pangan dan kebijakan penciptaan pekerjaan seharusnya berjalan beriringan.

Bukan:

MBG atau lapangan kerja.

Tetapi:

MBG sekaligus lapangan kerja.


JANGAN SAMPAI ANAK KITA DIBERI MAKAN, TETAPI ORANG TUANYA KEHILANGAN KESEMPATAN UNTUK BERPENGHASILAN

Ini kritik yang harus diarahkan pada cara berpikir kebijakan, bukan pada anak yang menerima makanan.

Karena anak tidak pernah salah ketika menerima bantuan.

Mereka tidak memilih dilahirkan dalam keluarga miskin.

Mereka tidak memilih apakah ayahnya memiliki pekerjaan tetap atau tidak.

Mereka tidak memilih apakah ibunya mendapatkan penghasilan yang layak.

Anak hanya membutuhkan satu hal: kesempatan untuk tumbuh tanpa harus menanggung kesalahan ekonomi orang dewasa.

Karena itu, negara memang harus hadir.

Tetapi kehadiran negara seharusnya memiliki banyak wajah:

pendidikan yang baik,

kesehatan yang terjangkau,

perlindungan sosial,

pangan yang aman,

upah yang layak,

lapangan kerja produktif,

dukungan UMKM,

akses modal yang sehat,

pelatihan keterampilan,

dan ekosistem ekonomi yang memungkinkan keluarga naik kelas.


KEMISKINAN BUKAN HANYA TENTANG TIDAK PUNYA UANG

Ini bagian yang sering kita lupakan.

Kemiskinan membuat pilihan hidup menjadi semakin sempit.

Orang miskin mungkin tahu makanan sehat itu penting.

Tetapi ia belum tentu mampu membelinya.

Ia mungkin tahu pendidikan penting.

Tetapi biaya transportasi saja bisa menjadi beban.

Ia tahu rumah yang layak penting.

Tetapi harga sewa terus berjalan.

Ia ingin menabung.

Tetapi penghasilannya habis untuk bertahan hidup.

BPS mencatat bahwa pada Maret 2025 tingkat kemiskinan Indonesia masih 8,47 persen atau sekitar 23,85 juta orang. Garis kemiskinan nasional saat itu sebesar Rp609.160 per kapita per bulan, dan pengukurannya mempertimbangkan kebutuhan dasar makanan serta nonmakanan. (Badan Pusat Statistik Indonesia)

Angka tersebut bukan sekadar statistik.

Di baliknya ada keluarga.

Ada ayah.

Ada ibu.

Ada anak.

Ada meja makan.

Dan mungkin ada seseorang yang setiap malam menghitung uang di dompet sambil bertanya:

“Cukup tidak untuk besok?”


MAKA JANGAN HANYA BERTANYA: “BERAPA ANAK YANG SUDAH DIBERI MAKAN?”

Tanyakan juga:

“Berapa orang tua yang hari ini mendapatkan pekerjaan?”

Berapa yang mendapatkan pekerjaan formal?

Berapa yang mendapatkan upah layak?

Berapa UMKM yang naik kelas?

Berapa petani yang mendapatkan nilai tambah dari hasil produksinya?

Berapa nelayan yang memperoleh penghasilan yang lebih stabil?

Berapa anak muda yang mendapatkan kesempatan bekerja sesuai kompetensinya?

Berapa keluarga yang tahun depan tidak lagi membutuhkan bantuan karena ekonominya sudah membaik?

Itulah pertanyaan yang lebih dalam.


DAN MENARIKNYA, MBG SEBENARNYA BISA MENJADI BAGIAN DARI SOLUSI EKONOMI

Ini yang juga harus kita akui secara adil.

Jangan melihat MBG hanya sebagai:

negara membeli makanan → anak makan.

Kalau dirancang dengan baik, rantai pasok program pangan berskala besar dapat melibatkan petani, peternak, nelayan, UMKM pangan, koperasi, dapur produksi, tenaga distribusi, dan berbagai pelaku ekonomi lokal.

Bahkan pemerintah sendiri menyatakan MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan pangan, tetapi memiliki dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. (Badan Gizi Nasional)

Maka tantangannya adalah:

jangan sampai uang besar berputar hanya di sebagian kecil pelaku.

Pastikan sebanyak mungkin nilai ekonomi kembali kepada masyarakat lokal.

Petani mendapatkan pasar.

Peternak mendapatkan kepastian permintaan.

Nelayan mendapatkan akses.

UMKM mendapatkan kesempatan.

Pekerja mendapatkan upah layak.

Dan anak mendapatkan makanan bergizi.

Kalau itu terjadi, MBG bukan hanya program makan. Ia menjadi ekosistem ekonomi.


TETAPI ADA SATU HAL YANG HARUS DIJAGA: JANGAN SAMPAI PROGRAM SOSIAL MEMBUAT KELUARGA TERGANTUNG SELAMANYA

Program perlindungan sosial memang dibutuhkan.

Tetapi tujuan akhirnya seharusnya bukan:

“Bagaimana membuat orang terus menerima bantuan?”

melainkan:

“Bagaimana membuat semakin sedikit orang yang membutuhkan bantuan?”

Ini bukan berarti orang miskin harus dipersalahkan.

Justru negara harus menciptakan tangga agar mereka bisa naik.

Bantuan dapat menjadi jaring pengaman.

Pekerjaan layak menjadi jalan keluar.

Pendidikan menjadi bekal.

Keterampilan menjadi modal.

Dan ekonomi yang sehat menjadi lingkungan untuk bertumbuh.


KITA HARUS BERHENTI MEMANDANG ORANG MISKIN SEBAGAI OBJEK YANG HARUS DIBERI

Ini lebih filosofis.

Orang miskin bukan sekadar penerima bantuan.

Mereka adalah:

pekerja,

petani,

pedagang,

guru,

buruh,

nelayan,

pengemudi,

pengrajin,

orang tua,

dan warga negara yang memiliki martabat.

Mereka tidak hanya membutuhkan belas kasihan.

Mereka membutuhkan kesempatan.

Kesempatan untuk bekerja.

Kesempatan untuk memperoleh penghasilan.

Kesempatan untuk memiliki usaha.

Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.

Kesempatan untuk memiliki rumah.

Kesempatan untuk menabung.

Kesempatan untuk membuat keputusan ekonomi tanpa setiap hari dihantui pertanyaan:

“Besok makan apa?”


DAN DI SINILAH KONSEP “MERDEKA” MENJADI LEBIH DALAM

Kita sering merayakan kemerdekaan dengan bendera.

Dengan upacara.

Dengan lomba.

Dengan pidato.

Tetapi mungkin kemerdekaan ekonomi juga berarti:

seorang ayah tidak lagi takut kehilangan pekerjaan besok pagi.

seorang ibu tidak lagi harus berutang hanya untuk membeli kebutuhan dapur.

seorang anak tidak perlu belajar dalam keadaan lapar.

seorang lulusan tidak harus menganggur bertahun-tahun karena tidak ada kesempatan.

seorang pekerja mendapatkan upah yang memungkinkan keluarganya hidup layak.

Itulah kemerdekaan yang terasa di meja makan.


JADI, APAKAH MBG SALAH?

Menurut saya, pertanyaannya kurang tepat.

Pertanyaan yang lebih baik:

“Apakah MBG cukup?”

Dan jawabannya:

Tentu tidak.

Tidak ada satu program yang mampu menyelesaikan persoalan kemiskinan Indonesia sendirian.

MBG dapat menjadi intervensi gizi.

Tetapi pengentasan kemiskinan membutuhkan ekosistem kebijakan yang jauh lebih luas.

Bahkan BGN sendiri menempatkan MBG dalam kerangka pembangunan yang terintegrasi dengan kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, dan ketahanan pangan. (PPID)

Artinya, MBG seharusnya bukan titik akhir.

Ia salah satu instrumen.


KALAU KITA SERIUS TIDAK INGIN ANAK INDONESIA KELAPARAN...

Mari kita kerjakan dua hal sekaligus.

Pertama: pastikan anak-anak mendapatkan makanan bergizi hari ini.

Jangan biarkan mereka belajar dengan perut kosong.

Kedua: pastikan orang tua mereka memiliki kesempatan memperoleh penghasilan yang layak besok.

Jangan biarkan mereka hidup dalam ketergantungan tanpa jalan keluar.

Karena cita-cita terbesar sebuah negara bukanlah membuat warganya terus menerima bantuan.

Cita-cita terbesar negara adalah membuat warganya cukup berdaya sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bermartabat.


KITA TIDAK BOLEH HANYA MEMBANGUN ANAK YANG KENYANG

Kita harus membangun:

anak yang sehat,

orang tua yang berpenghasilan,

keluarga yang kuat,

sekolah yang berkualitas,

ekonomi yang produktif,

dan masyarakat yang memiliki kesempatan.

Karena anak yang kenyang hari ini memang penting.

Tetapi anak yang melihat orang tuanya bekerja dengan layak dan pulang membawa penghasilan yang cukup...

itu juga bentuk pendidikan.

Ia belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang menerima.

Ia belajar tentang bekerja.

Tentang martabat.

Tentang tanggung jawab.

Tentang kemandirian.

Tentang usaha.

Dan tentang harapan.


PADA AKHIRNYA, JANGAN HANYA TANYAKAN APA YANG ADA DI PIRING ANAK.

Tanyakan juga:

“Mengapa orang tuanya tidak mampu mengisi piring itu sendiri?”

Karena kalau kita hanya mengisi piring tanpa memperbaiki dapurnya, persoalan pangan keluarga akan selalu kembali.

Kalau kita hanya membantu hari ini tanpa menciptakan kesempatan untuk esok, kemiskinan akan memiliki wajah yang sama dari generasi ke generasi.

Bantuan membuat seseorang bertahan.

Pekerjaan membuat seseorang berdaya.

Pendidikan membuat seseorang berkembang.

Ekonomi yang sehat membuat keluarga memiliki pilihan.

Dan negara yang baik...

bukan hanya negara yang mampu memberi makan rakyatnya, tetapi negara yang mampu menciptakan kondisi agar rakyatnya dapat memberi makan keluarganya sendiri dengan layak dan bermartabat.

Maka kalau kita benar-benar tidak ingin anak Indonesia kelaparan:

beri mereka makanan hari ini.

Tetapi jangan lupa...

ciptakan pekerjaan untuk ayah dan ibunya.

naikkan produktivitasnya.

lindungi upahnya.

bantu usahanya tumbuh.

buka akses ekonominya.

berikan pendidikan yang berkualitas.

Sebab pada akhirnya...

Anak yang kenyang adalah keberhasilan hari ini.
Orang tua yang mampu menghidupi keluarganya adalah keberhasilan yang lebih panjang.

Dan mungkin itulah makna kesejahteraan yang sesungguhnya:

bukan sekadar tidak kelaparan, tetapi memiliki kemampuan untuk hidup tanpa terus-menerus takut akan kelaparan.

Abdulloh Aup
Guru yang Biasa Saja ✍️

Komentar

Postingan Populer